Graffiti Karya Seni Inspirasi dan Membangun

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Lomba graffiti yang digelar Pena Batas RI-RDTL belum lama ini merupakan ajang mengenal dan mengumpulkan seni jalanan di Atambua untuk menampilkan ide dan ideal gagasan mereka terhadap fenomena sosial dan peradaban yang sempat ditangkap untuk dituangkan dalam bentuk coretan dan tulisan dinding yang bisa dinikmati warga.

Menurut Juri, Patrisius Sixtus Bere dalam penilaian juara lomba, Kamis (9/11/2017) di Betelalenok, kegiatan dimaksudkan untuk mendapat masukan dan aspirasi dari pihak lain, terutama masyarakat sendiri. Ada beberapa gagasan dasar yang akhirnya bertujuan, membentuk apresiasi orang terhadap sebuah karya seni, sekalipun itu sebuah seni jalanan.

Selain itu mempertebal pengelaman sosial dalam hal ini mempertemukan seniman atau pegiat karya seni. Membangkitkan motivasi pekerja seni dalam berkarya serta membangkitkan sikap-sikap positif lainnya seperti kemampuan bekerja sama, kemampuan merancang dan merencanakan sebuah pagelaran karya seni sebagai sumbangan bagi keindahan sebuah peradaban.

“Deretan 22 lukisan dinding di tembok KM 4 bisa dilihat sebagai karya fragmentaris yang menampilkan pesan-pesan khusus yang menggema tema, sumbang gagas bangun Rai Belu. Karya seni dua dimensi itu seperti memiliki pesan musikal tertentu dan menjadi sebuah siklus,” ujar dia.

Pada beberapa bagian jelas Sixtus, melodinya ditampilkan dengan nada-nada ceria dan riang dalam warna dengan karakter cerah dan terang benderang, suram dan gelap. Beberapa lukisan dibuat lebih rinci dan rumit seperti lukisan tentang tenun ikat. Sebuah karya seni memiliki akar dan inspirasi ditempat lain.

Karya graffiti harus elok dipandang dari segi bentuk dan warnanya, tidak bisa dipisahkan dari bentuk dan warna yang muncul dalam tulisan dan angka serta objek andalan seni jalanan. Tema lukisan, aspirasi dan maksud seniman seringkali tampil jelas dalam bentuk tulisan. Misalnya harapan akan perbaikan kesejahteraan lewat kebijakan politik, seruan keadilan dan perdamaian, harapan perubahan dari kepeminpinan.

Pemilihan huruf sudah kreatif dan bisa dibedakan. Kadar imajinasi sangat dipertaruhkan di sini. Garis tegas atau lembut, bentuk huruf yang rumit atau sederhana, kontras dan perbedaan warna guratan tangan sangat berpengaruh terhadap imaji penikmat graffiti.

Dikatakan, keaslian sebuah karya seni tidak harus selalu sangat pribadi dalam arti tidak memiliki landasan dan refrensi apapun juga. Sebuah modifikasi, beberapa tambahan dan variasi malah akan mempercantik sekaligus menambah luasan interprestasi terhadap sebuah penampilan karya seni sebelumnya.

“Saya melihat ada beberapa jiplakan yang memang sengaja ataupun tidak senwgja ditampilkan dalam perlombaan graffiti Pena Batas. Ini bisa dilihat sebagai upaya menambah cakupan interpretasi tertentu dan variasi terhadap karya sebelumnya tetap harus dilihat dalam bingkai pesan karya seni,” ujar Sixtus.

Sementara itu, Juri karya tulis Nelson mengatakan, beberapa hasil karya tulis para peserta cukup bagus mengandung pesan positif dalam membangun daerah. Salah satunya karya tulis lakumerin, dimana kita ketahui bahwa saat ini budaya kita kian punah pengaruh zaman.

“Ada beberapa karya tulis yang harus dibenahi. Semua hasil cukup bagus dan mengandung pesan positif. Para peserta terus meningkatkan inovasi dan minat dalam karya tulis ke depan,” harap Nelson.