Tiga Wilayah Puskesmas di Kabupaten TTU Kantong Malaria

Laporan Yansen Bau
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Kasus malaria tahun lalu di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terendah nomor 5 di NTT, API 0,55/1000 penduduk atau 146 kasus. Terdapat desa kantong malaria yang berada di tiga wilayah Puskesmas di TTU yakni, Oelolok, Haeokto dan Tublopo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Malaka, endemis sedang Malaria.

Demikian anggota tim advokasi Pius Selasa saat memaparkan materi dalam pertemuan sosialisasi eliminasi malaria bersama lintas sektor di aula lantai II Kantor Bupati TTU, Rabu (8/11/2017), Timor Barat perbatasan RI-RDTL.

Menurut Pius, issue penting lainnya menuju eliminasi diperlukan pembuktian selama tiga tahun berturut-tutur tidak ditemukan kasus malaria lokal. Belum adanya jejaring malaria puskesmas dan rumah sakit, pemerintah dan swasta, untuk membuktikan kasus malaria rendah, dan belum ada kesepakatan lintas batas antar Kabupaten untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan eliminasi malaria secara terpadu.

Dituturkan, Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Ada lima parasit malaria, Plasmodium falciparum, vivax, malariae, ovale dan knowlesi, dan yang paling berbahaya yakni falciparum. Insiden malaria Tahun 2016, Nasional 0.84 per 1.000 penduduk, NTT 5,29 per 1.000 dan TTU 0,55 per 1.000 penduduk.

”Malaria berpengaruh pada tingginya beban sektor kesehatan. Kabupaten TTU berada pada tahap eliminasi malaria yang berfokus pada upaya menghentikan penularan setempat (nol kasus),” ujar Akademisi Poltekes itu.

Lanjut Pius, Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Nyamuk ini biasanya menggigit pada malam hari, sejak matahari terbenam hingga matahari terbit. Di NTT species yang dominant antara lain An sundaicus, An supictus, An aconitus, An barbirostris, An vagus, An maculatus and An annularis. Prinsip pemberantasan nyamuk malaria adalah dengan pengelolaan lingkungan agar tidak menjadi sarang tempat berkembang biak nyamuk; misalnya dengan cara menutup genangan air yang luas, mengalirkan air yang tergenang, membuka lagoon-lagoon yang tersumbat dan lainnya.

Pemberantasan nyamuk secara biologis dengan menggunakan berbagai jenis ikan merupakan cara yang ramah lingkungan. Penggunaan bahan kimia untuk menyemprot nyamuk sangat tidak dianjurkan dan hanya dipakai jika terjadi kejadian luar biasa dan harus melalui survey entomology yang tepat. Pencegahan gigitan nyamuk dalam rumah dilakukan dengan memasang kawat kasa dijendela, pintu dan ventilasi; selalu menggunakan pakaian yang menutupi lengan dan kaki serta tidur dalam kelambu.

“Kelambu berinsektisida sudah terbukti menurunkan angka kasus malaria di berbagai tempat apabila digunakan dengan baik dan selalu berobat pada saat sakit malaria,” papar dia.

Profil Malaria Kabupaten TTU sejak 2010-2017 bulan Juni, 57 dari 194 desa (29%) Endemis Malaria berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste (bebas malaria). Untuk kondisi Fasilitas Laboratorium Malaria Kabupaten TTU Tahun 2015 belum memadai. 50% Mikroskop dalam keadaan kurang memadai. 55% perlengkapan Laboratorium Malaria belum memadai dan 67% Puskesmas belum memiliki SPO pemeriksaan malaria.

Sedangkan profil laboratorium saat ini hanya ada 2 (dua) tenaga mikroskopis yang bersertifikat kompetensi di Kecamatan Biboki Feotleu dan Kota Kefamenanu. 93% Tenaga mikroskop belum pelatihan mikroskopis malaria. “Peranan Laboratorium Malaria sangat penting dalam penemuan kasus. Setiap kasus malaria harus dilakukan konfirmasi di laboratorium yang bermutu,” kata dia.

Dampak Malaria menyebabkan anemia yakni, produktivitas kerja tidak optimal, mempengaruhi kecerdasan anak Balita dan anak usia sekolah. Juga Malaria dalam kehamilan di daerah endemik, anemia berat pada ibu hamil, bayi berat lahir rendah, lahir mati dan bayi tertular malaria. Adapun yang telah dibentuk di daerah lain dalam memberantas malaria yakni, timbangan dan repackaging Obat Malaria di Teluk Bintuni, Kader Malaria di Papua, Pembelajaran Kepulauan Seribu 1981 – 2010, Pembelajaran Halmahera Selatan 2003 – 2009 dan Pembelajaran Sabang 2004 – 2012.

“Sementara di Kabupaten Sikka pelatihan Partisipatory Learning Action, Laskar Jentik Anak Sekolah. Kemudian Dinas Kesehatan bermitra dengan Yaspem – Laskar Jentik, Patriot dan Srikandi jentik. Peningkatan sumber daya manusia sangat penting untuk memberantas malaria,” ucap dia.

Terkait mencapai target utama menuju TTU bebas Malaria maka, penemuan dini kasus malaria dan pengobatan yang tepat, Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko, Surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut anggota tim advokasi, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, perwakilan Kajari, Kasdim TTU, perwakilan SKPD teknis terkait, para Kepala Puskesmas dan tokoh masyarakat.

 

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*