TPDI Mengutuk Keras Tindakan ASN Terhadap Wakil Wali Kota Kupang

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Kasus yang tengah mendera Wakil Wali (WaWali) Kota Kupang, dr.Hermanus Man oleh sekelompok orang yang diduga Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Wali Kota Kupang belum lama ini, rupanya makin menyita perhatian serius dari berbagai kalangan termasuk pakar hukum. Salah satunya datang dari koordinator TPDI dan Advokat Peradi, Petrus Salestinus.

Minggu, 5 November 2017 kepada NTTOnlinenow.com mengatakan, sebagai Pimpinan Pemerintahan Kota Kupang, maka WaWali Kota Kupang harus segera menindak tegas ASN bernama Jovic Tonubesi, Cs yang telah bersikap tidak sopan, brutal, menunjuk-nunjuk bahkan dengan nada tinggi membentak-bentak Wawali kota Kupang dr. Hermanus Man, tanpa sebab yang belum diketahui secara jelas, apalagi tidak menggunakan prosedur sebagaimana diatur dalam Kode Etik dan Kode Perilaku ASN serta Adat Ketimuran.

Sekiranyapun Saudara Jovic Tonubesi sedang bermasalah dengan WaWali, Herman Man, apapun permasalahannya, maka hal itu harus disampaikan dengan tata cara menurut adat ketimuran dan prinsip-prinsip ASN yang bersandar pada nilai dasar, kode etik dan kode perilaku, komitmen, integritas moral, kompetensi dan kualitas akademik sebagaimana disyaratkan oleh UU No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara.

Bahwa ada kekecewaan ASN terhadap apa yang dilakukan Wali Kota atau Wakil Wali Kota Kupang, tentu hal demikian tidak terhindarkan, apalagi harus memuaskan setiap orang, namun demikian Pemerintah punya SOP yang mengatur tentang mekanisme menyampaikan keluh kesa, mengadukan pelanggaran Kode Etik dan Kode Perilaku, bahkan pelanggaran Hukum.

Memang persoalan yang disebut-sebut menjadi pemicu kamarahan ASN, Jovic Tonubesi, Cs adalah soal mutasi, menurut Wali Kota Kupang dan sumber-sumber lainnya, bahwa Pemkot Kupang belum lakukan mutasi, sebab sesuai aturan, mutasi baru bisa dilakukan setelah 6 bulan, setelah Wali Kota dan Wakil Wali Kota dilantik.

Dalam VIDEO berdurasi 6 menit itu, tampak salah satu ASN Pemkot Kupang, yakni Jovic Tonubesi, Cs tengah memarahi Wakil Wali Kota, Hermanus Man, karena merasa harga dirinya diinjak-injak.

“Saya punya harga diri,” kata Jovik dengan nada tinggi.

Baca juga : Demokrat dan PAN Akan Bersikap Soal ASN Yang Memarahi Wakil Walikota Kupang

Jika persoalannya sudah menyangkut harga diri, mengapa Jovic Tonubesi tidak bisa menggunakan cara-cara yang lebih bermartabat untuk mendapatkan kambali harga dirinya yang hilang. Toh Pemerintahan Kota Kupang pasti punya SOP yang mengatur tentang tata cara mengadu, apa saja yang boleh diadukan dan kemana harus menyampaikan pengaduan termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kode etik dan kode perilaku serta standar etika yang luhur.

Peristiwa ini membuktikan bahwa antara kompetensi dan kualifikasi jabatan yang diperlukan oleh Pemkot Kupang dengan kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki calon dalam rekrutmen, pengangkatan, penempatan dan promosi pada jabatan yang sejalan dengan Tata Kelola Pemkot Kupang yang baik.

Hermanus Man sendiri sebagaimana nampak dalam video rekaman itu tetap tenang seolah-olah tak berdaya menghadapi sikap kasar dan tidak sopan dari saudara Jovic Tonubesi, cs. Ia bahkan tetap dengan rendah hati justru meminta maaf dan bersumpah atas nama Tuhan karena merasa tidak pernah berbuat seperti yang dituduhkan. Ini sesungguhnya sikap seorang pemimpin yang tetap menjaga martabat dan harga diri.

Namun demikian penyelesaian terbaik tidak cukup hanya dengan mekanisme legal formal Pemkot Kupang, akan tetapi harus dilakukan juga secara adat ketimuran agar tuntas, karena bagaimanapun ini sudah menyangkut harga diri tidak saja Wakil Wali Kota, akan tetapi harga diri Hemanus Man sebagai orang tua dari sebuah Keluarga Besar, sebuah komunitas yang juga punya banyak pendukungnya.

Karena itu persoalan antara Hemanus Man dengan Jovic Tonubesi, cs tidak cukup hanya ditangani oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kupang secara internal, akan tetapi harus tuntas juga dengan keluarga besar Hermanus Man agar memiliki efek jera secara permanen.

Dalam perspektif kode etik dan kode perilaku serta penegakan hukum, maka saudara Jovic Tonubesi, cs harus diberi sanksi yang tegas, baik berdasrksn Kode Etik dan Kode Perilaku maupun secara hukum.

Dirinya berharap, petistiwa ini harus menjadi yang pertama dan terakhir, karena NTT memiliki akar budaya patronisme yang sangat kuat, menghormati yang lebih tua adalah menjadi ciri khas budaya orang NTT dalam berperilaku sehari-hari dimanapun kita berada.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*