Sengketa Lahan, Lima Ahli Waris Keluarga Konay Gelar Ritual Adat

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Lima ahli waris tanah milik Yohanes Konay menggelar ritual adat di lokasi tanah sengketa di Jln. Piet A. Talo, Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Minggu (5/11/2017) sore. Upacara adat ini digelar dengan tujuan meminta bantuan dan perlindungan para leluhur agar proses pengurusan administrasi hak milik tanah keluarga Konay dengan luas 300 hektar (Ha) berjalan lancar.

Disaksikan media ini, upacara adat dilakukan dengan memotong seekor ayam jantan berwarna merah dan darahnya disiramkan di atas tanah yang selama ini masih menjadi sengketa keluarga Konay.

Markus Koenay, salah satu ahli waris tanah milik keluarga Konay kepada wartawan menyampaikan, upacara adat digelar untuk memohon bantuan para leluhur. Pasalnya selama ini dalam proses pengurusan hak milik tanah, pihaknya selalu dihadapkan dengan sejumlah kesulitan.

“Kami menyadari bahwa tanah ini adalah tanah warisan Yohanes Konay. Oleh karena itu, sore ini kami melakukan upacara adat untuk memanggil leluhur kami, yaitu kakek kami Yohanes Konay hadir ditengah-tengah kami untuk membantu kami dalam berbagai persoalan yang kami hadapi,” ucap Markus.

Dia menjelaskan, selama ini usaha pewaris untuk mengesahkan tanah tersebut menjadi hak milik keluarga Konay selalu menemui persoalan, terutama ketika menghadapi Camat Kelapa Lima Abraham Klau, yang hingga hari ini belum mengakui lima orang anak menjadi ahli waris dari tanah tersebut sesuai dengan keputusan MA dengan nomor register 3171 dan 1251.

Camat Kelapa Lima, lanjut dia, hanya mengakui tanah tersebut milik ahli waris Ferdinan Konay, Army Konay, Tedy Konay, dan lain-lain yang merupakan anak kandung dari salah satu ahli waris Esau Koenay. Sedangkan kelima ahli waris lainnya tidak diakui sama sekali.

Oleh karena itu, dia meminta pemerintah Kota Kupang, pemerintah Provinsi NTT, bahkan Presiden RI agar bisa melihat kesulitan yang mereka hadapi selama ini terutama dalam proses administrasi kepemilikan tanah.

“Selama ini kami dipinggirkan dan tidak diakui oleh pemerintah Kota Kupang dalam hal ini Camat Kelapa Lima. Makanya kami memanggil leluhur kami untuk berjalan bersama-sama kami. Mudah-mudahan ada jalan keluar yang akan diperoleh bersama,” ungkapnya.

Lurah Oesapa, Yohanes Enga Keban yang turut hadir pada kesempatan itu menyampaikan, dirinya sebagai Lurah Oesapa siap melayani apabila keluarga Konay membutuhkan hal-hal yang bersifat administratif.

Baca juga : Keluarga Konay Berjanji Tidak Akan Ganggu Lahan Yang Dijual Minggus

“Dengan adanya momen seperti ini, kedepan kita berharap semua urusan administrasi secara pemerintahan berjalan dengan lancar. Sebagai pemerintah kami siap untuk membantu,” ujar Keban, sambil berharap untuk diberitahu jika kedepannya ada pembangunan yang dilakukan di lokasi-lokasi tanah milik keluarga Konay.

Persoalan sengketa tanah yang dihadapi oleh lima ahli waris keluarga Koenay belum juga terselesaikan. Minggu (5/11/2017) sore, di atas tanah sengketa yang berlokasi di Jln. Piet A. Talo, Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, keluarga Koenay juga menyampaikan isi hati mereka.

Melalui sepucuk surat pernyataan yang dibacakan oleh salah seorang ahli waris itu, meminta perhatian Presiden RI, Joko Widodo untuk membantu mereka agar persoalan kepemilikan lahan dimaksud, dapat segera diselesaikan dengan baik.

Berikut isi surat pernyataan yang dibacakan oleh Heny Koenay dan ditujukan kepada para pimpinan Negara:

Kami lima ahli waris sangat berharap kepada Bapak Presiden lewat:

1. Bapak Kapolri
2. Bapak Jaksa Agung
3. Menteri Pertahanan dan Perlindungan Hukum dan
4. DPR RI

Isi Pernyataan:

1. Sudah sekian lama tahun perjuangan kami tak berujung di Negara hukum ini. Dengan membiarkan salah satu ahli waris dari enam ahli waris menguasai lahan yang ada yang bernilai ratusan miliar.

2. Dalam peradaban apalagi Negara hukum, Negara menjamin hak setiap warga Negara, namun dalam persoalan kami, tidak ada yang mau membela atau melihat sekian tahun obyek tanah dari enam ahli waris hanya diakui dan dikuasai oleh salah satu ahli waris dengan segala tipu daya muslihat dan didukung oleh pihak-pihak tertentu.

3. Kami lima ahli waris hanya mencari keadilan dari lahan leluhur dan nenek moyang kandung kami.