Dua Menteri Hadiri Pertemuan Diaspora GMIT di Kupang

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Menteri Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, Eko Putro Sandjojo menghadiri acara Pertemuan Diaspora Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) yang digelar di Gereja Eden Kisbaki Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (30/10/2017).

Pertemuan Diaspora GMIT dengan tema “Mama GMIT Panggil Pulang Peduli Pendidikan” itu digelar dalam rangka Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 GMIT dan 500 Tahun Reformasi. Selain dua menteri, turut hadir anggota DPR RI Farry Francis, dan anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto.

Menteri Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan dalam sambutannya, meminta Majelis Sinode GMIT untuk berperan aktif dalam memperhatikan masalah pendidikan warga jemaatnya yang saat ini mencapai 1,3 juta jiwa dan tersebar di seluruh wilayah pelayanan GMIT.

“Peran GMIT untuk memperhatikan pendidikan putra- putri. Saat ini lapangan kerja berkurang, karena kemajuang teknologi yang sangat kencang,” katanya.

Menurut Luhut, warga GMIT harus mendorong dan menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin, karena tantangan teknologi kedepan semakin kompleks. Dia mencontohkan, banyak gerai toko pakaian dan makanan yang tutup, karena semuanya dipesan melalui teknologi.

“Keunggulan dari teknologi pesan makan dan baju hanya dari HP, sehingga banyak toko- toko yang ditutup,” katanya.

Pada kesempatan itu, Luhut juga meminta warga GMIT untuk bersatu padu dan selalu kompak membangun diri dan jemaat melalui pendidikan guna bersama- sama bergandengan tangan membangun Indonesia dari NTT.

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, Eko Putro Sandjojo mengajak GMIT untuk mengawasi pengelolaan dana desa di NTT. “Gereja bisa ikut besama-sama melakukan sosialisasi dana desa agar digunakan untuk pembangunan dan tepat sasaran,” katanya.

Baca juga : Refleksi 70 Tahun, GMIT Luncurkan Buku “Berhikmat dan Berbagi”

Menurut Eko, pemerintah telah mengalokasikan dana desa sebesar Rp.46,98 triliun pada 2017 yang disalurkan kepada 170 juta desa di Indonesia, termasuk di NTT dengan besaran dana per desa sebesar Rp 800 juta.

“Dana desa ini tidak berguna, kalau pengawasan rendah, sehingga kami minta gereja turut melakukan pengawasan,” kata Menteri Eko.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pendeta Mery Kolimon mengatakan, GMIT sudah terlibat dalam membangun pendidikan sejak 70 tahun lalu. Bahkan, GMIT dan gereja Katolik merupakan perintis pendidikan di NTT. “Banyak pemimpin daerah tamatan dari sekolah GMIT. Yang merintis sekolah di NTT adalah gereja,” tegasnya.

Terkait dana desa, Pdt Mery mengatakan, GMIT merupakan gereja pertama di Indonesia yang bekerjasama dengan Kementrian Desa untuk melakukan pengawasan pemanfaatan dana desa. “Kami akan memastikan bahwa pendeta gereja berada di tengah masyarakat,” katanya.

Dia menambahkan, GMIT memiliki lebih banyak pendeta yang bertugas di desa, sehingga diharapkan pendeta bisa terlibat pada pembangunan di desa, mulai dari perencanaan, monitoring hingga evaluasi.