Iban Medah Siap Terapkan Sistem e-Government

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Bakal Calon Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ibrahim A. Medah bertekad menerapkan sistem baru dalam birokrasi ketika dirinya dipercaya menjadi Gubernur NTT pada pilgub NTT 2018 nanti.

Hal ini disampaikan Medah saat mengikuti diskusi meja bundar tentang Pilgub NTT yang digelar Forum Pemuda Kupang Jakarta (FPKJ) di Kupang, Senin (23/10/2017).

Menurut Medah, penerapan sistem e-Government akan sangat membantu dalam melakukan efisiensi anggaran. Pasalnya, APBD NTT masih sangat kecil, yakni hanya Rp 4 triliun. Oleh karena itu, tidak bisa dikelola dengan cara-cara konvensional. Harus kreatif dan inovatif agar tidak ada penyimpangan, maka perlu pengawasan mulai dari perencanaan sampai operasionalnya.

“Dengan demikian, APBD NTT akan terbuka atau transparan dan bisa diakses masyarakat mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan,” katanya.

Medah menyatakan, gubernur tidak boleh menjadi one man show, tetapi harus melibatkan masyarakat. Oleh karena itu, dengan e-Government maka masyarakat bisa mengawasi anggaran mulai dari perencanaan, penetapan hingga operasionalnya nanti.

Selain itu, dia juga akan membuat standar operating system (SOP) untuk setiap organisasi perangkat daerah (OPD). Dengan demikian, masyarakat akan tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memroses perizinan dan berapa banyak biaya dan sebagainya.

Baca juga : Jika Jadi Gubernur Medah Siap Terapkan Sistim Baru Dalam Birokrasi

“Tidak hanya itu saja, dalam perekrutan pimpinan OPD juga harus dilakukan secara profesional,” ungkapnya.

Dia mengatakan, akan menerapkan sistem yang dibuat saat menjadi Bupati Kupang selama 10 tahun, yakni melakukan fit and propert test yang melibatkan universitas. Dengan begitu, prosesnya independen.

“Kita menciptakan budaya birokrasi takut pada masyarakat, sehingga mereka bekerja secara jujur,” katanya.

Medah mengemukakan, saat ini jumlah penduduk NTT sudah 5 juta lebih jiwa. Dari jumlah itu 80 persennya hidup dari sektor pertanian. Oleh karena itu, jika NTT dikatakan miskin, artinya penyumbang kemiskinan terbesar adalah dari sektor pertanian. Penyebab persoalan ini, menurutnya, yakni para petani NTT hanya berharap pada hujan. Tidak ada ketersediaan air yang cukup. Tak heran selalu terjadi gagal tanam dan gagal panen.

“Dua minggu yang lalu ada berita di Sikka sembilan desa sudah kelaparan sejak Juli. Ini betul menandakan kegagalan kalau hanya mengharapkan hujan,” katanya.

Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah membuat air, agar para petani bisa mengolah lahan mereka. Air juga dibutuhkan di sektor peternakan.

Dia menyampaikan, salah satu potensi besar yang perlu dikembangkan adalah sektor perikanan, khususnya budidaya ikan di pesisir. Walaupun masyarakat pesisir saat ini gencar budidaya rumput laut. “Panjang pantai NTT 5.000 kilometer. Ini potensi besar tapi budidaya kita masih sebatas pada rumput laut,” tandasnya.