Melki Laka Lena Terpilih Secara Aklamasi Pimpin Golkar NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Forum Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Partai Golkar NTT, Rabu (27/9/2017) malam secara aklamasi memilih Melkiades Laka Lena untuk menahkodai partai berlambang beringin itu hingga 2020 mendatang,menggantikan Ibrahim Agustinus Medah yang telah menanggalkan baju kuning kebanggaan partai itu.

Keputusan itu diambil setelah 22 DPD kabupaten/kota, DPD NTT dan organisasi sayap Golkar memberikan pandangan dan sikap politik mereka. Rapat tersebut dipimpin Anwar Pua Geno didampingi sejumlah formatur antara lain, Nani Bethan, dan Inche Sayuna.

Walau secara aklamasi menyetujui Laka Lena memimpin Golkar NTT tapi untuk kepentingan Pilgub mendorongnya untuk maju sebagai calon gubernur.

Koordinator Bidang Organisasi dan Daerah DPP Partai Golkar, Fredi Latumahina mengatakan, DPP mendesak untuk diselenggarakan musdalub karena menjawabi tuntutan verifikasi faktual yang dilaksanakan KPU pada 3 Oktober nanti. Dan semua berkas atau kebutuhan lain berkaitan dengan verifikasi itu harus ditandatangani ketua DPD definitif. Masa bhakti ketua terpilih hasil musdalub ini, berakhir pada 2020.

“Kami bangga karena walaupun persiapan musdalub ini hanya tiga hari, tapi bisa menghadirkan semua peserta, baik DPD II kabupaten/kota maupun organisasi sayap serta berjalan dengan sukses,” kata Fredi.

Dia menegaskan, hingga saat ini masih ada daerah yang belum menggelar musda seperti Bangka Belitung, Bengkulu dan Sulawesi Utara. DPP sudah instruksikan agar musda harus digelar paling lambat 30 September ini. Sehingga tidak mengalami kesulitan saat verifikasi oleh KPU pada 3 Oktober nanti.

Baca juga : Enam Bulan, NTT Antarpulaukan 51.000 Ekor Sapi

“Untuk NTT tidak ada masalah karena tingkat provinsi dan kabupaten/kota sudah 100 persen selenggarakan musda,” ungkap Fredi.

Pada kesempatan itu dia mengingatkan pentingnya melaksanakan konsolidasi vertikal dan horizontal. Konsolidasi vertikal yakni memastikan pembentukan kepengurusan hingga tingkat kecamatan dan desa. Sedangkan konsolidasi horizontal yakni menata ulang semua ormas, baik yang mendirikan atau didirikan partai. Pengalaman selama ini, ormas hanya muncul saat musda. Sehingga setelah musda, ormas tersebut bubar lagi. Kalau ada, ormas itu tidak kerja dan hanya menuntut haknya.

“Semua ormas yang ada harus difungsikan kembali dan ditata ulang agar bisa bekerja sesuai tugas dan program yang telah ditetapkan,” tandas Fredi.

Dia menambahkan, secara nasional sudah 90 persen kabupaten/kota menyelenggarakan musda. Diharapkan, musyawarah desa sudah selesai dilaksanakan paling lambat 30 Oktober 2017 nanti, sehingga bisa dimaksimalkan untuk kepentingan pilkada 2018.

“Selama ini kita biarkan kecamatan dan desa berjalan sendiri tanpa dikonsolifasikan dengan baik,” papar Fredi.

Anwar Pua Geno menyampaikan, proses pemilihan ketua Golkar NTT sangat demokratis dan dinamis. Dari dinamika yang berkembang, telah menghasilkan ketua definitif melalui musyawarah mufakat. Dimana forum secara aklamasi memilih Melki Laka Lena sebagai ketua definitif.