Enam Bulan, NTT Antarpulaukan 51.000 Ekor Sapi

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dalam kurun waktu enam bulan, terhitung Maret sampai September 2017, sebanyak 51.000 ekor sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) telah diantarpulaukan ke sejumlah daerah tujuan.

Kepala Dinas Peternakan NTT, Dani Suhadi sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Rabu (27/9/2017).

Dani mengatakan, Pemerintah melalui Dinas Peternakan menargetkan jumlah sapi yang diantapulaukan dalam tahun 2017 ini sebanyak 66.300 ekor. Daerah tujuan pengantarpulauan sapi antara lain, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Banten, dan Jawa Barat.

“Permintaan yang muncul belakangan juga dari Sulawesi Selatan dan Papua, sehingga kita juga kirim di dua provinsi itu,” kata Dani.

Dia menyampaikan, setiap tahun sapi yang diantarpulaukan dari NTT ke daerah lain berkisar antara 6.000 sampai 8.000 ekor. Aktivitas pengiriman sapi dilakukan hampir setiap minggu menggunakan transportasi laut berupa kapal kargo maupun kapal tol laut seperti KM Cemara.

“Kalau tol laut, biasanya pengiriman dilakukan tiap dua minggu, sedangkan kapal lain ada yang setiap minggu atau dua mingguan,” ungkap Dani.

Baca juga : BPBD NTT Bagikan 18 Mobil Tanki Sikapi Kekeringan

Menyinggung soal pembatalan pembelian 2.000 ekor sapi dari Pemerintah DKI Jakarta beberapa waktu lalu, mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTT ini menyatakan, tidak berdampak mengurangi pasokan sapi yang diantarpulaukan ke berbagai daerah tujuan. Pasar juga terbuka di banyak tempat lainnya. Dengan demikian, ada pembatalan seperti dari Pemda Jakarta, tidak berdampak dengan pasokan sapi yang diantarpulaukan.

“Pembatalan pembelian sapi itu terkait masalah tender dari Perusahaan Daerah (PD) Darma Bhakti di Jakarta namun pengiriman sapi ke ibu kota negara itu bisa saja dilakukan perusahaan lainnya,” tandas Dani.

Lebih lanjut dia meyakini, pasar sapi dari NTT tetap diminati berbagai daerah lainnya mengingat kebutuhan sapi di daerah tujuan masih mengalami kekurangan. Jadi pemenuhan kebutuhan sangat bergantung pada cepatnya permintaan dari setiap daerah.

Wakil Ketua Komisi II DPRD NTT dari Fraksi PDI Perjuangan, Patris Lali Wolo mengatakan, kuota pengantarpulauan sapi ke sejumlah daerah tujuan, harus dilihat berdasarkan populasi ternak sapi di setiap kabupaten. Artinya, pembagian kuota harus berdasarkan potensi populasi ternak.

“Kalau dinilai kurang, maka kuota pengeluaran ternak harus bertambah. Artinya, kuota yang telah ditetapkan di setiap kabupaten, harus dilakukan revisi,” ujar Patris.