Eksploitasi Penyakit Novanto Berdampak Menghambat Penyidikan KPK

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Ekspolitasi penyakit tersangka kasus elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP), Setya Novanto secara berlebihan melanggar prinsip rahasia medik dan berdampak menghambat penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Penilaian ini disampaikan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus dalam keterangan persnya yang diterima media ini, Jumat (22/9/2017).

Menurut Petrus, pengeksploitasian yang luar biasa terhadap penyakit Novanto untuk suatu tujuan yang belum jelas, nyaris menutupi upaya keras KPK melakukan penindakan terhadap Ketua DPR RI ini. Partai Golkar dan pihak keluarga seakan- akan hendak menciptakan opini bahwa sakitnya Novanto karena KPK menjadiknnya tersangka. Publik bukan menunggu informasi tentang penyakit Novanto dan kapan sembuhnya. Yang ditunggu publik adalah kapan Novanto secara kesatria mempertanggung jawabkan semua sangkaan tentang korupsi e-KTP sebesar Rp2, 4 triliun.

“Soal Novanto sakit, berapa jumlah penyakit yang diderita dan kapan sembuh, meskipun kita mendoakan agar lekas sembuh, tetapi itu bukan urusan publik melainkan urusan pribadi yang menjadi rahasia medik dan tidak boleh diumbar ke ruang publik,” kata Petrus.

Advokat Peradi ini mengungkapkan, sejumlah pihak telah mengeksploitasi sedemikian rupa penyakit yang diderita Novanto. Tapi mereka tidak menyadari bahwa dibalik eksploitasi itu terdapat keanehan yang muncul yaitu jumlah penyakitnya begitu banyak. Jenis penyakit itu baru dimunculkan saat dirinya hendak diperiksa sebagai tersangka korupsi dan tiap hari jumlah penyakitnya bertambah.

“Padahal untuk menjadi caleg dan jabatan publik lainnya, Novanto telah menyertakan keterangan sehat dari dokter pada rumah sakit yang ditunjuk pemerintah, termasuk saat hendak dilantik sebagai Ketua DPR RI,” ujarnya.

Baca juga : 169 Bidang Tanah Milik Pemprov NTT Belum Disertifikasi

Petrus menyatakan, sangat tidak masuk akal sehat publik, seorang Novanto membiarkan dirinya dikeroyok begitu banyak penyakit. Membiarkan begitu banyak penyakit menimbun dalam tubuhnya secara bersama- sama, antara lan gula, vertigo, jantung, sinusitis, dan ginjal. Bahkan akan bertambah terus setiap hari, lantas dipublikasikan secara ramai-ramai.

Pengungkapan jumlah dan jenis serta kadar penyakit yang diderita Novanto secara berlebihan memberi kesan seolah-olah penyakit bagi segelintir orang bisa ditimbun untuk digunakan pada suatu waktu tertentu, untuk tujuan tertentu pula termasuk untuk menangkal pelaksanaan tugas KPK dalam perkara korupsi.

Menurutnya, jika benar sakit dan penyakit yang diderita Novanto, baru diketahui atau ditemukan oleh dokter rumah sakit yang merawatnya beberapa saat menjelang waktu pemeriksaan KPK, Partai Golkar dan Novanto seharusnya berterimakasih kepada KPK. Pasalnya, karena hendak diperiksa sebagai tersangka oleh KPK, semua penyakit yang bertumpuk dan menimbun dalam tubuh Novanto susul menyusul muncul dan berhasil didiagnosa oleh dokter.

“Sebetulnya dunia kedokteran kita masih mengalami kemunduran karena terhadap sejumlah orang tertentu, penyakitnya hanya bisa didiagnosa ketika berurusan dengan KPK,” tandas Petrus.

Dia mempertanyakan, mungkinkah tanpa KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap Novanto sebagai tersangka, penyakit yang diidap begitu banyak dapat dideteksi. Atau apakah penyakit itu tidak akan muncul atau tidak akan dapat didiagnosis dan diumbar ke publik. Padahal yang ditunggu publik saat ini bukan proses medik dan proses praperadilan, melainkan proses hukum di KPK untuk membuktikan apakah terjadi korupsi atau tidak.