Kejati NTT Perlu Klarifikasi Pemanggilan Tagu Dedo Sebagai Saksi, Murni Penegakan Hukum

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Kedatangan Daniel Tagu Dedo untuk diperiksa sebagai Saksi dalam perkara korupsi di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah bentuk pertanggungjawaban moral Daniel Tagu Dedo, selaku mantan Dirut PT Bank NTT dalam kasus dugaan korupsi dalam proyek pengadaan perangkat lunak IT dan Microsoft Lisensi Kantor Bank NTT, Tahun 2015, senilai Rp.4,3 miliar dengan perkiraan kerugian negara Rp.2,2 miliar.

“Setiap orang, siapapun dia wajib hukumnya menjadi Saksi jika dipanggil menjadi saksi dalam proses penyidikan yang tengah dilakukan oleh Kejaksaan Tinggi NTT di Kupang, guna membuat terang peristiwa pidananya serta untuk menemukan siapa pelaku tindak pidananya,” kata Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Salestinus dalam keterangan persnya yang diterima media ini di Kupang, Kamis (31/8/2017).

Menurut Petrus, yang patut dipertanyakan dan memerlukan penjelasan dari Humas Kejaksaan Tinggi NTT adalah pemanggilan Kejaksaan terhadap Daniel Tagu Dedo, adalah murni untuk kebutuhan penyidikan dan tidak boleh mengandung muatan sekedar memenuhi pesanan pihak-pihak tertentu untuk mempolitisasi proses hukum demi memberi stigma buruk terhadp Daniel Tagu Dedo kepada publik, seolah-olah Daniel Tagu Dedo sedang terlibat sebuah kasus korupsi, pantas dimintai pertanggungjawaban pidana.

“Iniah yang harus diklarifikasi, karena di satu pihak demi nama baik Kejaksaan Tinggi NTT, juga demi nama baik Daniel Tagu Dedo yang saat ini beritikad baik mengikuti kontestasi Pilgub di NTT 2018,” tegasnya.

Petrus mengungkapkan, pertanggungjawaban Daniel Tagu Dedo dalam dugaan Tindak Pidana Korupsi proyek pengadaan alat perangkat lunak IT dan Microsoft Lisensi Kantor Bank NTT adalah kesediaan menjadi saksi dan kesediaan itu sudah dipenuhinya beberapa waktu yang lalu. Tidak itu saja, Daniel Tagu Dedo juga mendorong Kejaksaan Tinggi NTT mengungkap tuntas kasus dugaan korupsi dimaksud dan mendorong Bank NTT untuk menuntut pihak-pihak lain di luar Bank NTT yang merugikan Bank NTT.

“Ini adalah bagian dari tanggungjawab moril Daniel Tagu Dedo bukan saja membantu penyidik dengan memenuhi panggilan Penyidik Kejaksaan Tinggi NTT, tetapi mendorong Bank NTT menuntut pihak ke tiga yang telah merugikan Bank NTT,” ungkapnya.

Baca juga : Kadis Kesehatan: Klaim Pengobatan Berbasis e-KTP Capai 6,7 Miliar

Karena itu, Advokad Peradi ini menyatakan, keberadaan Daniel Tagu Dedo di Kejati NTT ketika menjadi saksi untuk beberapa orang tersangka yang sudah ditahan Kejati NTT, bukanlah dalam pengertian Daniel Tagu Dedo sebagai orang yang sedang dimintai pertanggung jawaban pidana atau menjadi tersangka atau terdakwa dalam perkara yang bersangkutan, tetapi semata-mata membantu Penyidik, Penuntut Umum dan Hakim dalam menemukan kebenaran materil sebuah perkara pidana.

“Inilah sisi positif seorang saksi dalam sebuah perkara pidana termasuk positif bagi Daniel Tagu Dedo karena membantu penyidik membuat terang perkara yang sedang dalam Penyidikan,” katanya.

Petrus menambahkan, yang harus diperjelas justru posisi Kejaksaan Tinggi NTT, yaitu ketika memanggil Daniel Tagu Dedo sebagai saksi bersamaan dengan sedang terjadinya proses penjaringan dan penyaringan Pilgub NTT 2018, dimana Daniel Tagu Dedo sebagai salah satu bakal calon Gubernur NTT.

Kejaksaan Tinggi NTT tidak boleh terjebak dalam keinginan pihak tertentu yang mencoba mempolitisasi pemanggilan Daniel Tagu Dedo guna keperluan “black campaigne” bagi mereka yang berkehendak tidak baik dalam mewujudkan persaingan tidak sehat, untuk cara-cara yang tidak fair, demi mendapatkan kursi menuju NTT 1.