Kabid SMA Dinas Pendidikan Provinsi NTT Dinilai Tidak Becus

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Kepala Bidang SMA Dinas Pindidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ayub Mooy dinilai tidak memiliki kompetensi yang cukup dan tidak becus dalam mengurus pengalihan kewenangan SMA/SMK dan Pendidikan Khusus.

Pasalnya, Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pendidikan memutuskan menutup SMA Negeri 3 Amabi Oefeto yang terletak di Desa Oemofa, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang hanya karena alasan tidak memenuhi persyaratan dan tidak punya izin operasional.

Pernyataan ini disampaikan Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo kepada wartawan di Kupang, Rabu (30/8/2017).

Menurut Winston, Dinas Pendidikan hanya berpatokan atau berlindung pada Permendiknas Nomor 36 Tahun 2014 tentang tata cara pembangunan sekolah. Namun, tidak mempertimbangkan aspek sosial maupun topografi di wilayah tersebut. Sehingga akan berdampak pada sulitnya akses bagi para siswa dalam proses pendidikan.

“Dinas Pendidikan Provinsi NTT terutama Kabid SMA nya itu tidak kompeten, tidak becus urus tugas baru terkait pengalihan kewenangan SMA/ SMK dari kabupaten/ kota ke provinsi,” kata Winston.

Dia menyatakan, berbeda ketika SMA/ SMK dan Pendidikan Khusus masih menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/ kota, karena ada keluwesan. Sehingga pengurusan perizinan pembangunan sekolah bisa diurus, dan dalam proses itu sekolah bisa mulai menerima pendaftaran siswa baru, kemudian segera melengkapi keperluan administrasi.

“Yang aneh dari proses ini, dan kenapa saya bilang dia tidak kompeten dan tidak becus adalah, karena proses pembinaannya tidak jalan, tiba- tiba langsung ketuk palu dan keputusannya keluar untuk menutup sekolah itu,” ujarnya.

Padahal, sambung Winston, sekolah tersebut yang saat ini sementara menggunakan gedung sekolah SMP Pelita Oemofa itu, telah menerima siswa baru sebanyak 120 orang dan kini telah melakukan kegiatan belajar mengajar selama kurang lebih dua bulan.

Baca juga : Bupati Lay Bersama Petani Panen Ratusan Ton Bawang Merah di Desa Fatuketi

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT ini mengaku, mendapatkan informasi dari pihak sekolah, bahwa proses konsultasi dan pembinaan yang semestinya dilakukan oleh dinas pendidikan provinsi itu, tidak dilaksanakan secara baik kepada pihak sekolah.

“Faktanya yang saya dengar dari pihak sekolah bahwa, proses itu belum sampai satu minggu, dan pada waktu surat dari dinas pendidikan itu datang, ketua panitia pembangunan sekolah sedang mengalami kedukaan, sehingga dia izin dua hari. Dan ketika dia masuk kembali, sudah ada surat dari dinas untuk tutup sekolah itu,” terangnya.

Karena itu, Winston menduga ada sesuatu yang tidak beres dan bermuatan kepentingan lain dibalik proses penutupan sekolah dimaksud. Menurut Winston, semestinya pemerintah memikirkan nasib dari 120 lebih siswa yang ada di sekolah itu.

“Ini luar biasa, karena kalau baru buka sekolah begitu dan jumlah siswanya diatas 100 itu sangat sulit, sehingga ini sebenarnya sebuah prestasi atau rekor. Artinya, minat siswa untuk sekolah sangat tinggi,” tegasnya.

Dia menegaskan, pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai aspek untuk menutup sekolah tersebut. Pasalnya, ratusan siswa yang bersekolah pada sekolah tersebut tidak semuanya berasal dari wilayah Amabi Oefeto. Karena sebagaian datang dari wilayah Amarasi Timur dan juga Kabupaten TTS.

“Anak- anak ini harus menempuh jarak 15 kilometer untuk bersekolah di situ, sehingga kalau pindah ke SMA 1, itu jaraknya 20 kilometer, dan dapat dipastikan mereka tidak akan sekolah di situ yang ujung- ujungnya anak- anak ini akan putus sekolah,” tegasnya.

Winston menambahkan, DPRD meminta dinas pendidikan provinsi untuk lebih bijaksana dalam mengambil keputusan yang menyangkut nasib anak bangsa. Jangan sampai, pemerintah sendiri yang justru mematikan antusiasme anak didik dengan hal- hal yang tidak substantif. Karena pemerintah hadir untuk memberikan solusi, bukan menjadi ancaman.