Misteri Pesan Bunda Maria Dibalik Polemik Keuskupan Ruteng Kini Terungkap

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Adalah Hendrik Ley Chandra atau yang akrab disapa Baba Ley. Pria kelahiran Labuan Bajo, 25 Juni 1963. Berprofesi sebagai pengusaha di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berdomisili di kelurahan Pitak Ruteng, kecamatan Langke Rembong.

Rabu, 10 Agustus 2017, kepada NTTOnlinenow.com, ia memberikan kesaksian atas peristiwa yang pernah dialaminya pada 10 tahun silam tepatnya ditahun 2007.

Pasalnya, Ia pernah mendapat pesan dari Bunda Maria, tentang situasi atau sesuatu hal yang akan terjadi di Keuskupan Ruteng dikemudian hari.

Pesan itu didapatinya melalui doa Novena (doa khusus orang katolik yang dipercaya untuk memohon terkabulnya rahmat khusus) selama 7 hari berturut-turut dikediamannya.

Bunda Maria tak menampakan dirinya, namun Ia hanya bersuara. Kepadanya Maria berpesan, “sampaikan pada Uskupmu bahwa akan terjadi perpecahan besar diantara tubuh biarawan, biarawati. Sampaikan salamku pada Uskupmu. Dan pada saat itu terjadi, engkau mendamaikan mereka,” demikian Ley mengutip pesan Bunda Maria itu kepadanya.

Semenjak peristiwa yang dialaminya itu, Ley pun sudah membayangkan sebuah kehancuran besar yang bakal terjadi di keuskupan Ruteng nantinya.

Peristiwa itu membuatnya terharu, batinnya tak tenang, pikirannyapun menjadi-jadi.

Ditambah lagi jika Ia membayangkan peristiwa kesengsaraan Tuhan Yesus, mulai dari proses penangkapan, pengadilan Pontius Pilatus hingga berujung pada penyalibannya di bukit Kalfari atau Golgota.

Baginya peristiwa yang dialaminya itu sedikit merasa aneh. Sebab usai mendapati pesan tersebut dan selama Ley menyembunyikannya atau tak menuruti perintah Bunda Maria itu, air matanya mengalir terus-menerus tanpa henti. Seolah ia tengah dirundung duka yang mendalam, sampai akhirnya, ia pun kemudian meminta didoakan oleh Suster Albertin yang berkarya di Panti Bersalin Karot Ruteng.

“Selama 3 hari berturut-turut, siang dan malam air mataku tak pernah berhenti mengalir. Pada hari ke 4 saya pasrah dan berdoa dengan mengatakan sanggup dengan memohon untuk dibimbing, barulah air mata ini berhenti mengalir,” ceritanya.

Pada novena hari ke 7, Ley kembali berdialog dengan Bunda Maria. Kali ini Bunda Maria memperlihatkan padanya sesuatu yang akan terjadi didunia yaitu suatu kehancuran yang sangat dasyat dan mengerikan yang membuatnya menangis dan takut. Bunda Maria kembali mengatakan, “Aku takkan menghentikan air matamu sampai engkau katakan sanggup”. Dialog itu berlangsung sejak pukul 14.00 wita lebih hingga 15.00 wita.

Baca juga : Mahasiswa Asal NTT Wakili Jakarta Pusat Menggelar Hari Puisi Indonesia

“Saya hanya manusia biasa yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Hanya seorang pengusaha, orang kecil, umat biasa bukan imam atau biarawan dan bukan pula salah satu tokoh terpandang. Sehingga berat bagi saya untuk menuruti atau mengiakan begitu saja perintah Bunda Maria itu. Sebab yang pasti banyak orang tak akan percaya begitu saja jika saya lanjutkan pesan itu kepada YM Mgr. Uskup Eduardus Sangsung, SVD ketika itu,” tutur Ley.

Dihari ke 7 novenanya, Ley pun memutuskan untuk menuruti perintah Bunda Maria itu. Ia akhirnya memberanikan diri bertemu Uskup Edu untuk menyampaikan pesan tersebut.

Namun sayangnya, upayanya untuk bertemu Uskup Edu ketika itu ternyata tidak berjalan mulus tetapi sia-sia alias gagal. Uskup Edu tak mau bertemu.

Justru Ia mendapati penolakan keras. Ley diusir paksa dan kasar oleh seorang wanita salah satu staf pada sekretariat keuskupan Ruteng kala itu.

“Sampai di STKIP, Saya langsung menuju sekretariat Keuskupan dan disana saya bertemu dengan seorang wanita. Sempat bercakap-cakap sedikit, ia bertanya kepada saya tentang tujuannya ketemu Uskup. Lalu saya menjawab, ada urusan yang sangat penting dan privasi. Kamudian wanita itupun berusaha konfirmasi dengan Uskup. Tak berapa lama kemudian, wanita itu keluar, katanya sesuai permintaan uskup agar menceritakan terlebih dahulu kepadanya tujuan kedatangan saya ketemu beliau. Karena terpaksa, sayapun sedikit menceritakannya. Setelah wanita itu mendegarnya, ia kemudian kembali bertemu Uskup untuk meneruskannya. Entah apa yang terjadi, tak selang berapa lama kemudian, wanita itupun keluar, sambil marah-marah dan mengatakan keluar kau, pergi kau dari sini, Bapa Uskup tak mau bertemu kau, sambil mengayunkan kedua tangannya kearah saya, mengisyaratkan agar saya segera pergi dari situ,” kisah Ley kanang.

Saat di Keuskupan, disela-sela menunggu hasil konfirmasi perempuan itu, Ley sempat bertemu dengan Romo Lorens Coang. Olehnya, Ia sempat diminta untuk menceritakan tujuannya bertemu Uskup.

Sejak hari itu dirinya mulai menderita sakit kepala. Beberapa hari kemudian Ley bertemu dengan Romo Edy Manory (kepala sekolah SMAK ST. Fransiskus Ruteng bersama 2 orang Frater dirumah penginapan mereka depan Gereja Katedral Lama. Kepada mereka Ley menceriterakan tentang pesan Bunda Maria tersebut. Akan tetapi saat itu mereka tak sedikitpun merespon pembicaraannya.

“Saya bertanya, Romo dan Frater mungkin kalian berpikir saya sedang mengalami gangguan jiwa, lalu spontan mereka menganggukan kepala. Beberapa hari kemudian saya ke Puspas dan disana bertemu dengan Romo Herman Ando yang kala itu sebagai pembimbing para Rohaniwan. Kepada saya Beliau mengatakan bahwa saya mendapat karunia sabda Allah,” cerita Ley.

Walau rasa sakit di kepalanya semakin berat dan upayanya selalu gagal, namun ternyata tak mengurungkan niatnya untuk segera menyampaikan pesan Bunda Maria ini kepada Uskup dan pihak-pihak terkait lainnya.

Pada hari berikutnya, Ia bertemu Romo Ompy Latu Batara di Katedral lama. Ketika itu dia tengah siap mengadakan misa disuatu tempat. Tetapi olehnya, Ley sempat diberi waktu sedikit untuk bercerita terkait peristiwa yang alaminya itu.

“Usai mendengar cerita saya, Romo Ompy mengatakan, saya mendapat karunia. Dan dia berjanji akan menyampaikannya kepada Uskup Edu saat itu. Ketika hendak pulang, Romo Ompy menumpangkan tangannya keatas saya sambil berdoa dan seketika itu pula sakit saya juga sembuh,” tandasnya.

Bukan hanya itu, beberapa hari setelah itu dirinya menulis pesan Bunda Maria itu dan menitipkannya pada seorang ibu untuk diberikan kepada Uskup lewat Romo Aman Mbiri.

Baginya, apa yang tengah terjadi di keuskupan Ruteng saat ini adalah suatu peristiwa penggenapan dari pesan Bunda Maria kepadanya pada 10 tahun silam itu.

Menurutnya pula, masa pemurnian di Keuskupan Ruteng sudah dekat. Menanti keputusan Bapa Suci Paus Fransiskus dari Vatikan. Dengan memohon pertolongan Yang Maha Kuasa, Ley berharap agar semua pihak nantinya dapat menerimanya dengan lapang dada. Ia percaya ini merupakan bagian dari rencana Sang Pencipta.

Kebuntuannya untuk mengungkapkan misteri pesan Bunda Maria ini, sampai-sampai ia mengungkapkannya melalui album rohani ciptaannya yang berjudul “Kesaksian Besar”.

Apa yang dialami pria bernama lengkap Hendrik Leynard Chandra ini sebenarnya sudah diketahui oleh sejumlah Imam dan biarawati, diantaranya, Romo Lorens Coang, Romo Edy Manoreh, Romo Aman Mbiri, Romo Herman Ando, Romo Ompy Latu Batara, Suster Albertin, termasuk 2 orang Frater itu.