Digital Banking Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Perkembangan teknologi kian mendorong perbankan untuk berinovasi dan menciptakan layanan tanpa kantor alias digital banking. Perkembangan layanan keuangan digital ini akan berdampak positif bagi potensi pertumbuhan perekonomian daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Demikian hal ini mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi NTT dengan Bank Mandiri bekerjasama , di Kupang, Senin (24/7/2017).

Diskusi yang dipandu oleh Wakil Ketua Bidang Kesra PWI Provinsi NTT, Aser Rihi Tugu itu mengangkat tema “Peranan digital banking dalam memperkuat potensi pertumbuhan daerah NTT”.

Hadir sebagai narasumber pada acara diskusi tersebut, yakni Kepala Kantor Otoriras Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Winter Marbun, Kasubid Pariwisata, Industri dan Perdagangan Bappeda Provinsi NTT, Endang S.Lerich, Analis Ekonomi Bank Indonesia Perwakilan NTT, Petrus Endria Efendi, Head Area Bank Mandiri Kupang, Herinaldi

Selain itu, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) NTT, Fahmi Abdullah, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) NTT, Theodorus Widodo dan Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi NTT, Petrus A. Kerong.

Petrus Kerong dalam materinya menyampaikan, untuk memaksimalkan potensi dan peran digital banking maka, masyarakat NTT perlu diberikan pemahaman serta dibiasakan untuk melakukan transaksi keuangan melalui perbankan. Sebab, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum terbiasa dengan transaksi melalui bank.

“Hal ini menjadi soal besar, karena beberapa bulan yang lalu juga masyarakat diganggu dengan investasi bodong. Ini penyebabnya karena masyarakat belum dibiasakan untuk melakukan transaksi perbankan.

Baca juga : Pemerintah NTT Tetap Pantau Keberadaan HTI

Karena itu, kata Kerong, Pemerintah Provinsi NTT mendorong optimalnya digital banking dengan mendorong semua program maupun kebijakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat harus melalui perbankan. Tujuannya adalah agar masyarakat di desa dapat berinteraksi secara langsung dengan pihak perbankan.

Analis Ekonomi Bank Indonesia Perwakilan NTT, Petrus Endria Efendi dalam pemaparannya menyampaikan, digital banking merupakan sarana atau layanan perbankan yang disediakan oleh industri perbankan maupun non perbankan dengan tujuan memberikan pelayanan terkait sektor keuangan.

“Jadi di era kekinian ini, kebanyakan orang menggunakan ATM, ini merupakan layanan digital banking yang paling umum. Selain itu, ada juga kartu kredit, e-money, kemudian sekarang ada agen laku pandai (Agen LKD), dan ini semua dalam frame BI disebut sebagai inklusi keuangan,” paparnya.

Dia menjelaskan, sistim inklusi keuangan akan mengubah seluruh tatanan sistim pembayaran di Indonesia bahkan dunia. Karena itu, digital banking ini menjadi sesuatu yang sangat menarik dan menjadi peluang bagi siapa saja untuk menjadi pengusaha atau berwirausaha.

“Ini menjadi peluang bagi mereka yang ingin berusaha namun tidak punya tempat atau toko, karena sekarang semuanya branchless, tidak perlu kantor cabang, tidak perlu toko secara fisik, namun bisa berjualan secara on line dengan memanfaatkan rumah tinggal atau tempat yang ada,” ujarnya.

Karena dengan sifat teknologi yang tidak mengenal jarak dan waktu, layanan perbankan dapat diakses secara mudah oleh siapapun. Selain itu, dengan menggunakan layanan digital banking, transaksi perdagangan dan aktivitas bisnis maupun transfer bantuan dana sosial dari pemda ke masyarakat juga akan semakin cepat, efisien dan tepat sasaran.

“Melalui layanan keuangan digital, masyarakat dan pelaku dunia usaha termasuk pemerintah daerah akan semakin dipermudah dalam bertransaksi, semakin efisien, dan tidak mengenal waktu. Hal ini untuk mendorong transaksi non-tunai,” tandasnya.