Penyambutan TdF Di manggarai Terbaik dan Paling Meriah Tahun Ini

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com-Pihak penyelenggara Tour de Flores (TdF) 2017 mengakui bahwa kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan penyambutan terbaik dan paling meriah dalam sejarah TdF II tahun ini, jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Flores.

Demikian penyelenggara TdF menyampaikan hal itu melalui Master of Ceremony (MC) atau pembawa acaranya disela-sela penantian peserta TdF pada etape 5 Borong-Ruteng didepan Mapolres Manggarai di Ruteng, Selasa (18/7) siang.

“Luar biasa, kabupaten Manggarai yang terbaik dan paling meriah dalam TdF tahun ini,” ungkapnya kemudian disambut dengan pekikan dan tepuk tangan yang meriah oleh seluruh simpatisan TdF yang tengah memadati seputaran finis etape 5 Borong-Ruteng depan Mapolres Manggarai siang itu.

Pernyataan yang sama pula disampaikan, Kepala dinas Pariwisata NTT, Marius Jelamu. Kepada wartawan Ia mengakui jika penyambutan peserta TdF kali ini memang berbeda dengan kabupaten lainnya.

Dirinya mengaku bangga dengan penerimaan kabupaten Manggarai, juga antusiasme masyarakat dalam menyaksikan ajang bergengsi balap sepeda berskala internasional tersebut.

Karenanya, Jelamu bersama pihak penyelenggara TdF menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai, TNI, Polri, Pers, Bank BRI, Bank BNI, PLN dan seluruh pihak yang terlibat dalam TdF tahun ini.

“Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada Bupati, Wakil Bupati, Sekda, Polisi, TNI dan semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan TdF ini,” tandasnya.

Baca juga : Imam Arifin Sandang Pebalap Indonesia Terbaik TdF 2017

Para peserta TdF disambut dengan berbagai atraksi seni budaya Manggarai, seperti “tarian caci” dan tarian “Ndudu Ndake” (dua jenis tarian asli budaya Manggarai).

Menariknya, total 1500 peserta tarian “Ndundu Ndake” yang tergabung dari berbagai unsur perwakilan, mulai dari sanggar seni, PNS Lingkup Pemkab Manggarai, TNI, Polri dan Siswa-Siswi dari sejumlah SMA diseputaran Kota Ruteng. Mereka menari di lapangan Motang Rua Ruteng dibawah panas teriknya matahari siang itu.

Nuansa kedaerahannya sungguh terasa, karena para penari seluruhnya mengenakan pakaian adat Manggarai. Mereka terlihat begitu semangat dengan diiringi musik tradisional Manggarai, yaitu tabuan gong dan gendang dengan lagu dalam bahasa Manggarai.

Disaksikan oleh para peserta TdF, panitia dan sekitar puluhan ribu masyarakat Manggarai yang ingin menyaksikan langsung peserta TdF dari 12 negara 18 tim itu.

“Wow, ini luar biasa. Manggarai memang luar biasa. Ini benar-benar pecah rekor,” celetuk salah seorang panitia TdF disela-sela kemeriahan itu.

Sekitar puluhan ribu masyarakat Manggarai padati kiri-kanan jalur utama yang dilalui para pembalap di etape 5 dari Borong menuju Ruteng dan di lapangan Motang Rua Ruteng, ibu kota kabupaten Manggarai sebagai pusat kegiatan finis TdF.

Aktivitas perekonomian diseputaran kota Ruteng pun, Selasa siang itu menjadi lumpuh total.