Nilai Tukar Petani NTT Meningkat 0,25 Persen

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di NTT pada Juni 2017, Nilai Tukar Petani (NTP) di NTT mengalami peningkatan dibanding Mei yaitu sebesar 0,25 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maritje Pattiwaellapia menyampaikan ini saat menggelar jumpa pers di kantornya, Senin (3/7/2017).

Menurut Maritje, meningkatnya NTP di NTT disebabkan karena kanaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga lebih rendah dibandingkan dengan indeks harga yang hasil produksi pertanian.

“Perhitungan NTP ini mencakup 5 (lima) subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan,” ungkapnya.

Maritje menjelaskan, bila ditinjau per subsektor dengan membandingkan NTP Juni dengan NTP Mei maka subsektor tanaman padi-palawija mengalami peningkatan sebesar 1,03 persen, dan subsektor hortikultura turun 0,04 persen.

“Sedangkan, subsektor tanaman perkebunan rakyat meningkat 1,00 persen, subsektor peternakan mengalami penurunan sebesar 1,14 persen dan subsektor perikanan mengalami peningkatan sebesar 1,01 persen,” katanya.

Baca : Juni 2017, Sektor Transportasi Picu Inflasi NTT 0,51 Persen

Dia menyampaikan, pada bulan Juni 2017, NTP NTT sebesar 101,20 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 103,03 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P); 101,34 untuk subsektor hortikultura (NTP-H); 94,27 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 105,61 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 105,23 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).

“Jika NTP Juni 2017 dibandingkan dengan NTP Mei 2016, terjadi peningkatan sebesar 0,25 persen,” ujarnya.

Maritje menambahkan, di daerah perdesaan terjadi Inflasi pada bulan Juni 2017 sebesar 0,45 persen. Seluruh sub kelompok pengeluaran rumah tangga mengalami inflasi.

“Berturut-turut sub kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga inflasi sebesar 0,98 persen dan merupakan inflasi tertinggi, sub kelompok sandang inflasi sebesar 0,66 persen, bahan makanan inflasi 0,45 persen, makanan jadi inflasi 0,41 persen, perumahan inflasi sebesar 0,37 persen, kesehatan inflasi 0,33 persen dan transportasi inflasi sebesar 0,25 persen,” papar Maritje.