Pimpin Penggusuran, Bupati Manggarai Disambut Caci Maki Warga

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Puluhan bangunan di Pasar Puni Ruteng, kecamatan Langke Rembong, kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (20/6/2017) siang dilakukan upaya penggusuran paksa oleh Pemerintah Daerah (Pemda) kabupaten Manggarai dibawah pengawalan ketat aparat kepolisian bersenjata lengkap, TNI Kodim 1612 Manggarai dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan menggunakan satu unit eksavator.

Penggusuran tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Manggarai, Dr.Deno Kamelus,SH,MH.

“Saya tunggu surat perintah penghentian penggusuran dari pihak Pengadilan Negeri Ruteng,” ujar Deno disela-sela penggusuran itu.

Pernyataan itu disampaikannya, menyusul beberapa waktu sebelumnya, 3 (tiga) ahli waris atas tanah itu telah mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Ruteng terkait status kepemilikan tanah tersebut.

Pasalnya tanah itu merupakan hibah masyarakat Kampung Pau kepada Keuskupan Ruteng dan oleh Keuskupan kemudian dijadikan sebagai tempat pekuburan umum. Namun warga mengaku kaget dan bingung tiba-tiba diklaim menjadi milik Pemda Manggarai.

“Kapan mereka sertifikasi. Kok pemilik lahan tidak dilibatkan,” pungkas warga itu.

Kedua belah pihak, baik penggungat (ahli waris) maupun tergugat (Pemda) masih menunggu proses hukum selanjutnya.

Menurut korban penggusuran itu, Pemerintah mestinya tidak bisa melakukan penggusuran sebelum memiliki kekuatan hukum tetap, karena tanah itu masih dalam proses peradilan atau sengketa.

Sebelumnya, Pemda Manggarai mengeluarkan surat bernomor: Pem.130/272/VI/2017 tanggal 13 Juni 2017, perihal pengosongan lokasi Pasar Puni.

Dalam surat itu terdapat 3 poin, yaitu Pertama, pembongkaran bangunan/kios dan pengosongan lokasi secara mandiri oleh okupan dilaksanakan pada tanggal 13 hingga 19 Juni 2017. Kedua, pemutusan jaringan listrik dan air minum dilakukan tanggal 19 Juni 2017, tetapi apabila okupan melakukan pembongkaran secara mandiri dari tanggal 13 sampai 19 Juni 2017, maka diharapkan untuk menyampaikan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Manggarai untuk mengkoordinasi pemutusan jaringan listrik dan air minum. Ketiga, apabila okupan tidak melaksanakan pembongkaran bangunan/kios secara mandiri, maka Pemda Manggarai akan melakukan pembongkaran bangunan/kios dan mengosongkan lokasi tanggal 21 Juni 2017.

Informasi yang berhasil dihimpun Media ini menyebutkan, bahwa lokasi tersebut juga dihuni oleh 3 (tiga) ahli waris, yaitu 1). Thomas Jantum, ahli waris dari Pawung (Alm). 2). Casianus Mbakung ahli waris dari Ndang (Alm), dan 3). Kosmas Anggar, ahli waris dari Stanislaus Kowot (Alm).

Baca : Aleks Tunggal, Pertanyakan Dasar Penetapan Anaknya Sebagai Tersangka Kasus Lando-Noa

Sedangkan sebagian besar penghuni lainnya adalah para pedagang sembako.

“Awalnya Kami kontrak lahan kosong disini melalui pemiliknya (ahli waris). Tetapi penggusuran ini kami bingung, kemana kami harus pergi dan mencari nafkah, sebab pemerintah tidak menyiapkan lokasi lain untuk kami berjualan mencari makan,” ungkap salah seorang korban penggusuran yang enggan dimediakan namanya kepada wartawan.

Disela-sela penggusuran berlangsung, korban penggusuran, Benediktus Sandi Mbakung, pengusaha kios sembako, korban penggusuran yang juga mengaku sebagai ahli waris atas tanah itu kepada wartawan mengaku kesal dan marah terhadap Pemkab Manggarai atas penggusuran tersebut.

Pasalnya mereka merasa tertipu oleh pemerintah daerah terpilih saat ini.

“Mengapa kami digusur. Ini tanah kami. Warisan leluhur kami. Bukan milik orang lain,” ungkapnya.

Mbakung juga mengaku merasa tertipu oleh janji politik pemerintah terpilih saat ini.

“Kami merasa tertipu oleh Bupati Deno saat ini. Dulu datang kampanye disini walau dengan banyak kekurangan kami terima dia dan mendukung dia pada Pilkada dengan mengorbankan paket lain karena tergiur dengan janji manis mereka. Apa jadinya sekarang, justru dia melawan kami saat ini”.

Demikianpun waktu debat Pilkada, Wabup Viktor berjanji, “jika terpilih nantinya kami (Pasar Puni) tidak digusur tetapi akan dilakukan pendekatan persuasif. Dasar penipu, pembohong, pengecut, bertindak sewenang-wenang, tidak tau malu,” tandasnya dengan nada kesal.

Pantauan NTTOnlinenow.com, Selasa (21/6) siang itu, selain Bupati Manggarai, Deno Kamelus, Sekda Manseltus Mitak, Asisten I dan II Bupati, Frans Kakang dan Ir. Si Ketut Suastika, bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah Lingkup Pemkab Manggarai turut hadir dilokasi.

Terlihat pula masyarakat dari seputaran kota Ruteng tengah memadati sekitar lokasi penggusuran itu hendak menyaksikan langsung proses penggusuran bangunan-bangunan tersebut.Pimpin Penggusuran, Bupati Manggarai Disambut Caci Maki Warga