Semprotkan Water Canon, Polisi Bubarkan Massa Sidang Penistaan Agama di Pengadilan Atambua

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Aparat gabungan dari Kepolisian Resort (Polres) Belu dan Brimob Subden 2 Pelopor yang dilengkapi perlatan tameng tidak bisa menahan amuk massa yang memaksa masuk ke kompleks Kantor Pengadilan Negeri kelas I Atambua, Kabupaten Belu, Timor Barat perbatasan RI-RDTL.

Aksi saling dorong mendorong antara Polisi yang berlapis kekuatan dengan massa tidak bisa terelakan, hingga massa berhasil masuk ke halaman kantor Pengadilan Negeri. Amuk massa yang diketahui tidak puas dengan hasil putusan sidang penistaan agama itu membakar ban-ban bekas di halaman kantor tersebut.

Ditengah amuk massa tersebut anggota Brimob bersenjata lengkap mengevakuasi empat orang dari dalam Kantor Pengadilan yang mengenakan pakaian sidang (toga) saat sidang kemudian diangkut menggunakan dua unit kendaraan guna menghindari amukan massa.

Kurang lebih 30 menit lamanya aksi massa di halaman Kantor Pengadilan itu akhirnya berhasil dibubarkan personel gabungan Polisi Polres Belu dan Brimob setelah disemprotkan water canon ke arah massa. Puluhan warga yang melakukan aksi berhasil dipukul mundur keluar kompleks kantor Pengadilan, dan dua oknum warga yang diduga sebagai provokator berhasil diamankan Polisi.

Aksi tersebut terekam dalam kegiatan simulasi penanganan kerusuhan sidang di Pengadilan yang dilakukan Polres Belu dan Brimob Subden 2 Pelopor bekerja sama dengan Pengadilan Negeri Kelas 1B Atambua, Senin (19/6/2017).

Kabag Ops Polres Belu, AKP Apolinario da Silva selaku koordinator kegiatan simulasi kepada awak media usai kegiatan menuturkan, kegiatan simulasi yang dilakukan hari ini terkait pengamanan yang masuk dalam kategori sispam (sistem pengamanan) Kepolisian pada Kantor-Kantor VIP.

Diadakan simulasi ini jelas da Silva, adalah awal daripada kegiatan Polri Polres Belu, termasuk Brimob Subden 2 Pelopor. Kita mulai dari Pengadilan karena, di Pengadilan ini ke depannya perkiraan akan mengahadapi kasus-kasus yang bersifat sara akan menimbulkan konflik antara massa dan putusan.

Baca : 1000 Aparat Gabungan Amankan Hari Raya Idul Fitri di Perbatasan Belu-Malaka

“Sehingga hari ini kita mengadakan simulasi pengamanan berlapis mulai dari Dalmas, Sabhara, Lalu Lintas, Intel, Reserse termasuk pemadam kebakaran dari Pemda dan Brimob Subden 2 Pelopor untuk mengamankan tahapan apabila terjadi anarkis di Kantor Pengadilan,” ujar dia.

Lanjut Mantan Kasat Lantas Polres belu itu, dari saat masuk berada di depan lokasi perkantoran Pengadilan dan perumahan termasuk di ruang sidang apabila ada tindakan anarkis kita kerja dan standar kita untuk mengevakuasi para Hakim, tersangka, korban semua kita lakukan sesuai SOP Polisi untuk mengamankan lokasi tempat-tempat vital tersebut. “Anggota Polisi yang lakukan simulasi sebanyak 200 lebih gabungan Polres dan Brimob termasuk juga kita libatkan staf Pengadilan sekitar 20 orang,” tutur da Silva.

Danki Brimob Atambua, Iptu Vonny Farizky mangatakan, kegiatan simulasi yang dilaksanakan siang hari ini yang mana tiap pelaksanaan penyelesaian masalah kita harus mengetahui cuaca medan musuh, itu dasar kita melakukan protap. Jadi kita melakasanakan penyelesaian masalah itu ada tahap-tahap yang harus kita pelajari sesuai prosedural Kepolisian. “Siang hari ini kita bersama lakukan kegiatan latihan simulasi yang mana apabila terjadi nantinya ada tekanan dari massa khususnya ke arah objekvital yang pada siang hari ini yakni Pengadilan kita sudah tahu cara penanganan pertama dari tingkat negoisasi ke tingkat ekskip,” ucap dia.

Dinegosiasi jelas Vonny, ada dalmas awal, lanjut kemudian masuk ke lintas ganti PHK yang dihadapi oleh Brimob dan kita berkoordinasi dengan Polres, bagaimana cara tindak lanjut penyelesaian tahap pengendalian massa selanjutnya itu yang harus kita pelajari pada siang hari ini. “Untuk perlengkapan dalam melaksanakan dan menindaklanjuti eskalasi , Brimob beserta jajaran Polres siap dari alat-alat, alutsista kami sudah mempersiapkan dengan eskalasi dari tahap hijau, kuning dan merah, dan perlengkapan itu yang sudah kami siapkan sesuai prosedural,” pungkas dia.

Sementara itu pihak PN Atambua melalui anggota Hakim, Reza latuconsina menyampaikan, pihak Pengadilan sudah bersurat ke Polres Belu dua minggu yang lalu. Ini sebenarnya sarana untuk akredidaasi di Pengadilan sendiri, salah satu syaratnya itu harus ada simulasi tentang pengamanan dan pemadam kebakaran.

“Jadi Pengadilan itu memberikan rasa aman bagi masyarakat dan keadilan siapapun itu baik terdakwa maupun pengunjung. Makanya ada standar operasional yang sementara sudah di SOP oleh petugas keamanan dan itu merupakan bagian dari standar kalau ada sesuatu hal, karena potensi perkara-perkara yang masuk kemungkinan akan rawan, apalagi dalam waktu dekat akan ada sidang penistaan agama” ujar Reza.