Wartawan Belu Deklarasikan Persatuan Jurnalis Batas RI-RDTL

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Awak media yang terdiri dari media cetak, elektronik televisi, radio dan online yang melaksanakan tugas peliputan di wilayah perbatasan Kabupaten Belu, Timor Barat berbetasan dengan Negara tetangga Timor Leste mendeklarasikan Persatuan Jurnalis (Pena) Batas RI-RDTL.

Kegiatan deklarasi berdirinya Pena Batas RI-RDTL berlangsung di aula Gedung Betelalenok, Sabtu (17/6/2017). Hadir dalam acara tersebut, Bupati Belu Willybrodus Lay, Dandim 1605/Belu Letkol Czi. Nurdihin Adi Nugroho, Kalpores Belu AKBP Yandri Irsan, Dansatgas RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 712/WT, Kepala LPP RRI Atambua, Dirut LPP TV Belu, Kepala BPJS Atambua, Pimpinan Parpol Golkar dan PPSI, para Perwira Polres Belu, Pengusaha, tokoh masyarakat, awak Media serta tamu undangan lainnya.

Bupati Willy Lay dalam sambutannya mengatakan, keberadaan Pers mempunyai pesan yang sangat besar dalam mendukung pembangunan suatu daerah termasuk daerah Kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Timor Leste. Pers sebagai sarana kontrol juga jembatan aspirasi atau penyambung lidah rakyat bagi Pemerintah, demikian juga sebaliknya dari Pemerintah ke rakyat.

“Tanpa Pers seperti masakan tanpa garam. Pers adalah salah satu bagian dasar dari empat pilar pembangunan, karena itu Pers merupakan mitra Pemerintah,” ujar dia.

Lay berharap, dengan keberadaan wadah Pena Batas RI-RDTL ini para jurnalis tetap menjaga komitmen dalam menyiarkan pemberitaan yang riil, fakta menghindari pemberitaan bohong. Pemerintah siap terbuka untuk informasi terkait pembangunan di wilayah perbatasan rai Belu dengan Timor Leste.

“Kebebasan Pers tidak bisa dihalangi untuk mencari, mengumpulkan dan memberitakan informasi. Pers boleh mengkritik tetap Pers tidak boleh provokatif,” harap Lay.

Baca : Ego Sektroal Harus Dihilangkan Demi Pembangunan Rai Belu

Dalam pidato Ketua Pena Batas RI-RDTL, Frederikus Bau menyampaikan, substansi kehadiran wadah ini tidak lebih dari salah satu upaya untuk memaksimalkan peranan Pers yang terdapat dalam UU no.40 tahun 1999. Diantaranya, memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui informasi, menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan.

Lanjut dia, mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar. Melakukan pengawasan, kritik dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Sekiranya kita tahu bahwa pers mengambil peranan untuk memberikan kontrol sosiasl guna informasikan perkembangan dan pembangunan di rai Belu tercinta ini.

“Sebaliknya, Pers juga bisa dikontrol oleh masyarakat untuk tidak mencederai nilai-nilai atau kearifan dalam masyarakat. pers harus dikontrol untuk menjalankan fungsinya secara profesional,” ujar wartawan Harian Pos Kupang itu.

Menurut dia, orang masih melihat Pers sebagai masalah. Telinga mereka masih merah dan tipis ketika ada kritikan, dan mereka akan berteman dengan Pers ketika sedang ada masalah. Bahkan ada yang berusaha menjauhi Pers takut diobok-obok dan ini keliru. Pers, bukan hadir untuk membuat orang gelisah, galau dan merana, pers sejatinya pembawa harapan bagi yang putus harapan, penyambung bagi yang tidak kesampaian dan penghubung bagi yang terputus.

“Karena itu saya ajak, mari jadikan Pers sebagai sahabat, bukan sebagai musuh yang harus dimusuhi atau dijauhi. Pers bisa berperan menyebarluaskan aura positif di daerah ini, memberi harapan hidup bagi segenap stakeholder di daerah ini,” ucap Bau.

“Searah dengan tema hari ini saya mengajak kita semua mari bangun Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari titik nol kilometer RI-RDTL. Mari bersama Pena Batas RI-RDTL kita menabur asa di tepian negeri tercinta rai Belu,” tambah dia.