Penurunan Harga Bahan Makanan Picu Deflasi di NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat, pada bulan Mei 2017, terjadi deflasi -0,01 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 128,53.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia mengatakan, deflasi pada bulan Mei 2017 di NTT terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada empat dari tujuh kelompok pengeluaran.

“Kelompok pengeluaran bahan makanan mengalami deflasi tertinggi yaitu sebesar 0,54 persen yang diikuti kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,49 persen,” kata Maritje saat menggelar konferensi pers di kantornya, Jumat (2/6/2017).

Menurut Maritje, dari dua kota IHK di NTT, Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,06 persen dengan IHK 129,49 sedangkan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 0,38 persen dengan IHK 122,26 persen.

Baca : Anggota DPRD Kota Kupang Bantah Minta Uang Dari Pengusaha Karaoke

“Inflasi terbesar terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar yang mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,63 persen,” ujarnya.

Maritje menjelaskan, indeks harga konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen khususnya di daerah perkotaan.

“Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga,” katanya.

Dari 82 kota sampel IHK Nasional, terdapat 70 kota yang mengalami inflasi dan sisanya, 12 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 0,96 persen dan terendah terjadi di Kota Bulukumba dan Sampit dengan inflasi sebesar 0,02 persen.

“Sedangkan untuk deflasi terbesar terjadi pada Kota Manado yang sebesar 1,13 persen dan deflasi terkecil terjadi di Kota Pematang Siantar yang sebesar 0,01 persen,” tandasnya.