Kekerasan Wartawan di Matim, Ketua AJI Kupang Angkat Bicara

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Makin maraknya kasus kekerasan terhadap para jurnalis disejumlah daerah di Indonesia belakangan ini, termasuk kekerasan terhadap jurnalis Floreseditorial, Andre Kornasen bersama Gun Ndarung di Borong, Manggarai Timur, Flores, NTT ternyata menarik simpatik dari berbagai kalangan seprofesi.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Kupang, Alex Dimoe yang juga sebagai Pemimpin Redaksi Media NTTOnlinenow.com akhirnya terpaksa angkat bicara.

Melalui telepon seluler miliknya, Rabu, 10 Mei 2017 siang, kepada wartawan mengatakan, insiden yang terjadi antara wartawan Floreseditorial dengan Narasumber di Matim itu sungguh disesalkan.

Menurutnya hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini kehadiran para pemburu berita dalam hal ini jurnalis sangat diperlukan untuk mengakses atau mempublikasi segala hal yang perlu dan penting bagi publik di negeri ini untuk diketahui asalkan tetap berpedomaan pada prinsip dan kode etik jurnalistik.

Salah satu hal yang perlu diketahui publik, lajut dia, adalah peran media sebagai alat edukasi (pendidikan).
Kasus yang terjadi di Matim itu, lanjut Dimoe, sebenarnya tak perlu terjadi, karena kedua belah pihak tidak diuntungkan.

Namun dirinya sesalkan sikap kedua narasumber yang mempolisikan para wartawan. Apalagi itu dilakukan oleh para pendidik. Guru mestinya wajib memahami tentang media. Apalagi sekelas kepala sekolah.

Baca : Wartawan Didenda, Kadis PK Minta Maaf, Dua Kepsek Akan Ditindak Tegas

Pers, lanjut dia, memiliki UU khusus, yaitu UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Didalamnya khusus berbicara tentang Pers, termasuk yang berkaitan dengan masalah pemberitaan dan kode etik jurnalistik.

Berita yang telah dimuat di floreseditorial.com itu, telah memenuhi segala unsur jurnalistik atau memenuhi cover both side, imbuhnya.

Bukan hanya itu, Alex juga menanggapi berbagai respon netizen di akun facebook (FB) yang belakangan ini semakin ramai dan menyudutkan profesi jurnalis pada umumnya, seperti status dan komentar pedas yang mengarah pada ancaman kenyamanan para jurnalis saat melakukan peliputan berita di lapangan, baginya hal itu juga merupakan bagian dari upaya pembunuhan karakter dan pembungkaman terhadap kebebasan pers.

Oleh karenanya, menurutnya kepada seluruh insan pers, hal itu perlu diwaspadai sebelum terjadi. Dan bila memang merasa dirugikan perlu segera mengambil langkah hukum.

Menyebarkan kebencian termasuk pelecehan profesi melalui media sosial seperti FB salah satunya itu melanggar UU ITE Nomor 11 tahun 2008. Dan penyalahgunaan ITE itu merupakan tindakan semena-semena.

“Silahkan laporkan saja itu ke pihak berwajib karena itu sudah mengarah kepada pengancaman. Menyerang pribadi dan profesi itu ada hukumannya, apalagi dilakukan di dunia maya dalam hal ini FB. Itu melanggar UU ITE,” pungkasnya.

Hal itu perlu dilakukan untuk memberikan efek jerah terhadap oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang secara sadar dengan tahu dan maunya melakukan hal tak terpuji itu, pungkasnya.