Mengenang Karya Pelayanan Utusan Injil Almarhum Rafel Neno (2)

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Proses menerima Kristus dan menjadi pelayan-Nya
Kupang, NTTOnlinenow.com – Rasa tertarik untuk mengenal Kristus dan ajaran-Nya dimulai saat salah seorang saudari misan almarhum Rafel Neno bernama Adriana Neno, yang tercatat dalam benak almarhum sebagai orang pertama dari kampung Marena yang menerima Yesus, mengajak almarhum untuk beribadah di gereja Baun yang sekarang bernama gereja Maranatha dan saat itu gereja tersebut baru didirikan.

Hal ini berdasarkan catatan almarhum dan juga cerita yang dikisahkan kepada anak- anak dan cucu- cucunya ketika mendiang utusan injil Rafel Neno masih hidup.

Saat pertama kali almarhum diajak untuk beribadah di gereja Baun, diperkirakan saat itu ia baru berusia 12 tahun. Kemudian, tepat pada tanggal 15 Januari 1945, pada usia 19 tahun Rafel Neno mengambil keputusan menyerahkan diri untuk mengabdikan dirinya melayani Yesus yang ia sembah, yakni dengan dipilih menjadi Diaken pada gereja Baun yang saat ini GMIT jemaat Maranatha.

Pada saat itu, almarhum Rafel Neno ditahbiskan oleh almarhum Pendeta Bolla Tua, bersama empat orang teman palayan untuk wilayah Baun, yaitu Volkes Kaseh (Oerantium), Mikael Amnifu (Baitiri), Tertius Otemusu (Soba) dan Ayub Tenis (Kaijo’o). Sedangkan Rafel Neno sendiri dipilih untuk melayani jemaat di Marena dan Bieto, yang mana saat itu jemaat baru berjumlah 30 orang saja.

Dengan berjalannya waktu, dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab pelayanan sebagi diaken, terhadap jemaat asuhannya di Marena penuh dengan lika- liku selama empat tahun, kemudian tepat pada tanggal 7 Agustus 1949 dipilih, ditetapkan dan ditabiskan lagi menjadi Penatua oleh almarhum Pendeta Lukius Manafe.

Kesan pelayanan bersama Pendeta Lukius Manafe

Ketika mula- mula menjalankan tugas pelayanan, ada kesan dan juga tantangan yang dihadapi sebagai pelayan jemaat Tuhan diantaranya, yakni lima orang majelis yang telah dipilih tersebut diwajibkan oleh pendeta saat kebaktian berlangdung untuk mendengarkan, menyimak dan mencermati khotbah yang disampaikan oleh pendeta.

Sebab, seusai kebaktian maka ke lima mejelis tersebut dituntut untuk menyampaikan kembali khotbah dimaksud. Hal ini dirasakan Rafel Neno sebagai proses pembelajaran yang sangat berharga untuk meningkatkan kemampuan dan nilai individu sebagai majelis jemaat.

Tetapi di sisi lain, terkandung maksud dari pendeta Lukius Manafe untuk mempersiapkan kader- kader pelayan umat yang militan sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam menjalankan amanah kerasulan di tengah- tengah dunia yang penuh dengan tantangan.

Tantangan dalam rumah tangga dan keluarga besar

Selain itu, tantangan dan persoalan serius yang dihadapi yang mana datangnya justru dari dalam keluarga besar dan maupun rumah tangga sendiri yang mana ketika anak pertama yang dilahirkan, buah pernikahan Rafel Neno dengan istrinya yang bernama Elisabeth Neno.

Saat itu muncul pertentangan pendapat antara orang tua kandung maupun mertua bahkan dengan keluarga besar Neno, yang mana mereka menginginkan agar anak yang dilahirkan tersebut diupacarakan secara adat idtiadat yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang yang dikenal dengan istilah Nanon atau Tanon.

Hal ini ditolak dan ditentang oleh Rafel Neno karena tidak sejalan dengan ajaran kristen yang ia pelajari dan pahami yang menyatakan bahwa Tuhan itu pencemburu dan tidak mau diduakan. Karena tidak ingin mendukakan hati Tuhan maka ia mengambil sikap tegas menyampaikan hal itu kepada keluarga besar teristimewa orangtua maupun mertuanya.

Merasa tak sanggup berargumentasi melawan keteguhan hati dan sikap dari Rafel Neno, maka orangtua dan mertuanya menghadap Raja Amarasi, H. A. Koroh di Baun untuk menyampaikan persoalan dimaksud. Solusi yang diberikan oleh Raja adalah menganjurkan untuk menanyakan kepada istri dari Rafel Neno, apabila ia menginginkan anaknya untuk diupacarai secara adat atau gereja, dan apapun jawaban maka harus dituruti.

Orang tua bersama mertua pun kembali dan menanyakan kepada istri Rafel Neno sesuai petuah Raja. Jawaban istri ternyata menginginkan untuk anaknya diupacarai secara adat sesuai keinginan para orang tua maupun keluarga. Mendapati kenyataan tersebut membuat Rafel Neno merasa kecewa karena tidak mendapatkan dukungan dari orang yang paling dicintai dan dikasihinya.

Baca : Mengenang Karya Pelayanan Utusan Injil GMIT, Alm. Rafel Neno (1)

Kendati demikian, Rafel Neno tetap pada keputusan dan ketetapan hati pada Tuhan yakni, sama sekali tidak akan menyentuh maupun ikut berperan serta untuk mencicipi makanan dari upacara dan pesta adat istiadat yang menurutnya bertentangan dengan pemahamannya secara kristen. Ia pun memutuskan mendatangi bayi yang baru dilahirkan tersebut setiap malam untuk mendoakannya.

Diangkat menjadi Penatua

Seiring berjalannya waktu dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab pelayanan sebagai Diaken terhadap jemaat asuhannya di Marena dengan penuh liku- liku selama kurang lebih empat tahun, kemudian tepatnya pada tanggal 7 Agustus 1949 dipilih, ditetapkan dan ditahbiskan lagi menjadi Penatua oleh Alm. Pendeta Lukius Manafe.

Pada tahap ini, Rafel Neno diperhadapkan pada suatu pergumulan yang dirasakan sangat berat untuk menjawabi keluhan dari jemaat di Marena dan Bieto yang sudah berusia lanjut. Mengingat jarak tempuh setiap minggu untuk mengikuti ibadah cukup jauh, yakni kurang lebih 4 kilometer yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Melihat kondisi tersebut, Rafel Neno merasa kuatir jika para jemaat yang berusia lanjut tersebut akan kecewa kemudian kembali lagi pada kepercayaan sebelumnya yakni berhala, melakukan ritual- ritual adat istiadat yang diwariskan nenek moyang atau leluhur mereka.

Oleh karena itu, Rafel Neno membangun relasi dan komunikasi dengan aparat pemerintah terkait lahan atau lokasi untuk dapat membangun rumah ibadah (gereja) kecil. Hal itu terus dibawa dalam setiap doa dan pergumulannya.

Peristiwa itu menjadi kisah nyata dari Rafel Neno dalam pergumulan imannya, dimana pada tanggal 24 Desember 1955, saat dirinya pulang dari Gereja Baun sekira pukul 24.00 Wita, dan ketika memasuki batas kampung Marena, tiba- tiba ada sinar yang dilihatnya turun dari langit. Karena rasa penasaran, ia pun mempercepat langkah mendekatinya, dan didapatinya sinar itu turun dan berakhir di sebuah lahan kosong di sekitaran tengah kampung Marena.

Kemudian tak berselang lama, pemerintah setempat menunjuk lokasi persis tepat dimana sinar yang dilihatnya turun itu, lalu disepakati dan diberikan untuk membangun gereja di lokasi tersebut. Oleh karena itu, atas dasar kesepakatan warga kampung Marena dan Bieto maka pada tanggal 14 April 1946, membangun gereja darurat dan diresmikan pada tanggal 28 Agustus 1946 oleh Pendeta Abia Derek Foedikoa. Gereja tersebut kemudian beri nama Gereja Golgota Marena.

Menjadi Utusan Injil

Menjadi pelayan Tuhan dalam kapasitas sebagai Penatua telah dijalankan dengan penuh tanggungjawab, kemudian atas dasar pertimbangan untuk kepentingan prngembangan prlayanan yang mencakup hampir seluruh Kecamatan Amarasi, dan beberapa mata jemaat di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang yang cukup luas, maka diusulkan oleh Almarhum Pendeta A.D. Foedikoa agar Rafel Neno mengikuti kursus utusan Injil selama beberpa bulan.

Usai mengikuti kursus dimaksud, maka pada tanggal 2 September 1956, Rafel Neno secara resmi ditahbiskan menjadi Utusan Injil oleh Pendeta A.D. Foedikoa di Gereja Maranatha Baun, berdasarkan Surat Keputusan Sinode GMIT masing- masing;

a. Pertama, SK Nomor: 24/E.2, tertanggal 5 Maret 1959 tanpa Pokok Gaji dengan melayani 80 Kepala Keluarga (KK), jumlah jiwa sebanyak 420 orang.

b. Kedua, SK Nomor 126 A/IV.5/1980 sub 3, tertanggal 14 Juni 1980 Golongan 1/d dengan Pokok Gaji Rp. 33.600 (tiga puluh tiga ribu enam ratus rupiah) dengan masa kerja 23 tahun 7 bulan dalam jabatan selaku Utusan Injil diperkuat dengan SKP. Majelis Sinode GMIT tanggal 5 Maret 1959 Nomor 24/E.2.

c. Ketiga, SK Majelis Sinode GMIT No.35 A/IV.5/1987 tanggal 26 Februari 1987 Golongan 1/d dengan Pokok Gaji Rp. 100.200 (seratus ribu dua ratus rupiah) dengan masa kerja 28 tahun 7 bulan dalam jabatan Utusan Injil.

(bersambung..)