Lomba Gendong Istri, Meriahkan Paskah di Opo Pantae

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Belasan Pasangan Suami Istri (Pasutri) di Opo desa Pantae Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur sangat antusias mengikuti lomba suami gendong istri yang digelar panitia Paskah pada Minggu (16/04). Lomba yang digelar ini tidak sekedar untuk mencari pemenang utama, namun memiliki filosofi tersendiri yakni memupuk kekompakan dalam keluarga dan meningkatkan rasa hormat terhadap sakramen perkawinan yang diterima.

Dalam rangka memupuk kebersamaan antar umat Katolik di desa Pantae, usai misa Paskah yang berlangsung di Kapela St. Don Bosco Pantae dipimpin Romo Julius Nesi,Pr diadakan berbagai jenis kegiatan yang dilombakan. Yang paling menarik dari beberapa kegiatan yang dilombakan yakni, lomba suami gendong istri.

Belasan Pasutri terlihat sangat antusias mengikuti perlombaan itu. Meskipun harus beberapa kali terjatuh, bangkit dan berlari kembali sambil menggendong istri kaum bapak terus berusaha mencapai garis finish, tak peduli berat ringan bobot sang istri yang digendong.

Sebagian pasutri yang kesulitan berlari cepat sempat terjatuh menindih sang suami lantaran beberapa kali harus bertabrakan dengan pasutri lainnya yang berusaha mendahului memasuki garis finish.

Seorang peserta lomba suami gendong istri, Maria Imaculata Unuk, mengaku sangat senang bisa mengikuti kegiatan itu. Menurutnya, akhir – akhir ini banyak keluarga terlihat tidak kompak dalam menjalani rumah tangganya. Berita keretakan rumah tangga terdengar dimana-mana. Lomba suami gendong istri ini baginya sangat berguna, mengajarkan para pasutri untuk saling membantu dan bekerja sama dalam suka dan duka demi menjaga kekompakan dalam keluarga.

“Saya senang, bisa mengikuti lomba ini. Dalam hidup beragama kita diajarkan sebagai suami istri hendaknya selalu saling membantu dan bekerja sama menjaga kekompakan keluarga. Semisal tadi ada yang jatuh saat lari, mungkin itu karena istri ada yang badannya besar. Mungkin berat sehingga suami tak sanggup menggendong dan terjatuh. Tapi disitulah kita hadir sebagai istri untuk memberi semangat kepada suami. Kita tidak perlu menjadi juara. Untuk kami yang kalah, harus bisa mengakui kelebihan pasangan lain. Dari situ kami belajar memupuk rasa kekompakan demi kesejahteraan keluarga”, ungkap Maria Imaculata.

Baca : Tata Cara Ibadat Awal Masuknya GMIT Jadi Pembuka Prosesi Paskah 2017

Selain lomba gendong istri yang paling menarik ditonton ratusan umat desa Pantae ini, beberapa jenis kegiatan lain juga turut diperlombakan untuk kalangan anak – anak, pelajar dan pemuda pemudi. Semua kegiatan ini menurut penggagasnya Romo Julius Nesi, pr bertujuan untuk memupuk kebersamaan dan mempersatukan umat yang selama ini terpencar di beberapa kelompok. Sementara khusus untuk pasutri melalui lomba suami gendong istri, memberi makna bisa lebih meningkatkan rasa hormat terhadap sakramen perkawinan yang diterima.

“Paskah ini kami selenggarakan berbagai macam kegiatan dengan maksud menggalang keakraban umat di stasi ini sehingga umat yang tinggal terpencar bisa ikut merasakan sukacita Paskah. Sukacita Paskah yang didapat bisa dibawa pulang umat ke dalam keluarga, kelompok – kelompok umat basis dimana mereka berhimpun membentuk satu komunitas. Dan lebih dari itu, ketika mereka sudah membawa sukacita mereka menjadi saksi – saksi akan kebangkitan Tuhan”, jelas Romo Julius Nesi.

Secara khusus untuk lomba suami gendong istri, Romo Julius mengatakan maksud dari perlombaan itu ingin mengajarkan pasangan suami istri untuk saling membantu dan mendukung dalam membangun keluarga. “Untuk lomba suami gendong istri ini, pasangan suami istri diajarkan untuk saling mendukung dan membantu membangun keluarganya sekaligus untuk memperkokoh sakramen perkawinan yang diterima. Sementara untuk perlombaan yang lain, dilaksanakan untuk mendatangkan sukacita Paskah”, lanjutnya.

Adapun jenis kegiatan lain yang ikut dilombakan diantaranya lomba joged untuk anak usia PAUD, lomba menyanyi untuk tingkat Sekolah Dasar, lomba lari karung dan atraksi hiburan yang dibawakan perguruan silat Kera Sakti. Peserta lomba yang berhasil keluar sebagai pemenang langsung menerima bingkisan hadiah yang disiapkan sendiri oleh Romo Julis Nesi.

Hadiah yang disiapkan untuk peserta pemenang tingkat PAUD berupa makanan ringan dan berbagai jenis permainan untuk anak laki – laki maupun perempuan, tingkat Sekolah Dasar berupa Alat Tulis Menulis lengkap dengan tas sekolah, para pemuda dihadiahkan perlengkapan olahraga bola volli dan untuk para Pasutri dihadiahkan benda – benda rohani berupa patung Keluarga Kudus.