Populasi Ternak Babi di NTT Capai 1,87 Juta Ekor

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Populasi ternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus meningkat sejak tahun 2014 sampai 2016. Pada tahun 2016 jumlah populasi ternak babi mencapai 1.871.717 ekor.

“Kita terus bertekad untuk menjadikan daerah ini sebagai provinsi ternak. Jumlah ternak jenis babi memang lebih banyak populasinya dibandingkan dengan ternak jenis lainnya di NTT,” kata Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang, Kamis pekan lalu.

Lebu Raya menyebutkan, pada tahun 2014, jumlah ternak babi sebanyak 1.755.058 ekor. Bertambah menjadi 1.812.449 ekor di tahun 2015. Sementara di tahun 2016 jumlahnya mencapai 1.871.717 ekor.

Selain ternak babi, sejumlah ternak yang populasinya meningkat sebut Frans, yakni sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba. Jenis ternak sapi meningkat dalam rentang waktu dua tahun yakni dari tahun 2014 hingga 2016.

“Pada tahun 2014 jumlah sapi hanya 865.731 ekor dan meningkat menjadi 902.336 pada tahun 2015 dan naik menjadi 930.997 ekor pada tahun 2016,” kata Lebu Raya.

Baca : Penyerahan Aset Secara Simbolis Ditolak Kades Bakustulama

Selanjutnya, untuk populasi ternak jenis kambing pada tahun 2014 sebanyak 609.367 ekor dan tahun 2015 jumlahnya menjadi 624.431 ekor. Sementara di tahun 2016 naik menjadi 643.971 ekor.

Untuk populasi domba , pada tahun 2014 sebanyak 64.685 ekor dan naik menjadi 65.421 ekor pada tahun 2015 dan pada tahun 2016 menjadi 66.205 ekor.

Lebu Raya mengemukakan, di Indonesia, daerah yang bebas penyakit sampar babi (classical swine fever ) atau hog cholera adalah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian pulau ini layak untuk pengembangan ternak babi.

Namun begitu, pengembangan ternak babi di wilayah Flores menjadi terkendala karena penyakit babi atau virus hog kolera yang menyebabkan indukan atau bibit babi yang didatangkan selalu mati akibat penyakit tersebut.

“Sehingga mau dan tidak mau kalau kita ingin kembangkan maka kita harus menggunakan babi yang ada di dalam atau di Flores, sambil mungkin mengambil plasma semen babi dari wilayah lain. Sehingga ini satu kesulitan yang kita hadapi,” tandasnya.