FAO: TTU Harus Jadi Pusat Pengolahan Lahan kering

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Manajer Proyek Nasional Food and Agriculture Organization (FAO) Indonesia, wilayah NTT, Ujang Suparman berharap kabupaten Timor Tengah Utara bisa menjadi Pusat pengembangan pengolahan lahan kering. Suparman juga meminta masyarakat petani untuk melestarikan lahan dengan beberapa langkah terutama mengembangkan kebiasaan nenek moyang dengan menanam jagung dengan kacang – kacangan.

Hal tersebut dikemukakan Ujang dalam sambutan resminya di depan ratusan petani, tamu undangan dari pemerintah provinsi dan kabupaten dalam acara panen perdana jagung di desa pantae kecamatan Biboki Selatan, kabupaten Timor Tengah Utara.

“Saya mengajak masyarakat petani untuk menerapkan upaya melestarikan lahan dengan beberapa langkah diantaranya penambahan pupuk organik, menutupi permukaaan tanah dengan bahan organik, tidak membalik tanah sembarangan lantaran hasil analisis global lahan tidak perlu terlalu dibalik sehingga tidak terlalu hanyut dengan erosi. Dan mari kita kembangkan kembali kebiasaan nenek moyang yaitu menanam jagung dengan kacang-kacangan sebagai sumber urea kita”. ujar Ujang.

Lanjutnya, dengan demikian, kabupaten TTU bisa menjadi Pusat pengembangan pengolahan lahan kering dengan memanfaatkan alokasi anggaran lahan kering yang telah disiapkan oleh pemerintah.

Sebanyak tiga ratus lebih petani di desa Pantae, menghadiri sekaligus memanen jagung sebanyak 7,7 ton dari luas kebun garapan 2,57 Ha pada Rabu (22/03/2017).

Hamparan jagung yang dipanen dari lahan seluas 2,57 Ha ini merupakan sistim tanam menggunakan gaya modern yang sedang dilakukan oleh tiga kelompok tani di desa Pantae, yakni Nias’ana, Kamboja dan Tefpah atas dampingan dan kerja sama Food and Agriculture Organization (FAO) dan Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) menggunakan sistem pertanian konservasi.

Baca : Operasi Simpatik Polantas TTU Terapkan Hukum Bernuansa Budaya

Direktur YMTM, Joseph Maan kepada NTTOnlinenow.com mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian bekerjasama dengan FAO dalam pengembangan pertanian Konservasi (PK) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian bekerjasama dengan FAO dalam pengembangan pertanian Konservasi (PK) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengantisipasi iklim yang makin berubah dan lahan kering yang makin kurang produktif. Di Provinsi NTT, PK telah dilaksanakan di beberapa kabupaten termasuk kabupaten TTU. Dan di TTU, FAO bekerjasama dengan Dinas pertanian dan YMTM sebagai mitra pelaksana lapangan dalam mendampingi kegiatan pendampingan PK di tingkat kelompok tani bekerjasama dengan para penyuluh lapangan. Pendampingan kelompok tani dilakukan melalui pendekatan Sekolah lapangan Pertanian Konservasi”, jelas maan.

Maan juga mengaku, sejak tahun 2014 di kabupaten TTU telah dilaksanakan pendamping SLPK terhadap dua ratus lebih kelompok tani dan sebagian besar telah menerapkan teknik pertanian konservasi. “Sejak Maret 2014 hingga saat ini di kabupaten TTU telah dilaksanakan pendampingan SLPK terhadap 276 kelompok tani dengan 5.265 anggota tersebar di 43 desa. Dan sebanyak 4.586 anggota kelompok tani telah menerapkan teknik Pertanian Konservasi di lahan masing – masing”, jelas Maan lebih lanjut.

Ia juga membenarkan upaya pelestarian lahan dengan menggunakan pupuk organik sesuai yang disampaikan Manajer Proyek Nasional FAO wilayah NTT, Ujang Suparman.

Rata – rata hasil jagung dengan pendekatan PK 4,1 ton per hektar sedangkan cara konvensional 2,0 ton per hektar. Tanaman jagung dengan tehnik PK juga lebih tahan terhadap curah hujan yang tidak menentu jika dibandingkan dengan metode konvensional. Di beberapa tempat yang sebelumnya petani hanya menanam satu kali pertahun, dengan pendekatan PK mereka dapat menanam jagung pada musim kedua karena kelembaban tanah dipertahankan dengan penambahan bahan organik dan penutupan pemukaan tanah.

Hadir dalam acara panen perdana tersebut, Ketua FAO wilayah NTT Ujang Suparman dan anggota, Sekretaris Bappeda Provinsi NTT, Agustinus M.B.P. Fahik, S.IP,MA, Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes,S.Pt, Wakil Ketua DPRD TTU Amandus Nahas bersama sejumlah anggota DPRD TTU, Direktur YMTM Joseph Maan dan staf, belasan penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian dan ratusan petani desa pantae yang merupakan binaan YMTM.