Pena Jurnalis Harus Digunakan Secara Baik

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Ketika perkembangan informasi dan teknologi kian pesat, akses terhadap informasi semakin mudah dijangkau oleh semua kalangan. Harus diakui banyak informasi bohong atau hoax bertebaran di dunia maya. Karena itu, pena jurnalis harus digunakan dengan baik untuk melawan berita hoax.

Hal ini mengemuka dalam Workshop Jurnalis Damai yang digagas oleh Perkumpulan Relawan Cis Timor dan Komunitas Peace Maker Kupang (Kompak) yang terdiri dari komunitas orang muda lintas agama dan jurnalis- jurnalis muda di Kupang, Rabu (22/3/2017).

Pemimpin redaksi koran harian Kursor, Anna Djukana saat memaparkan materi dengan topik “Jurnalisme Damai untuk Mendukung Issue- Issue Keberagaman” mengatakan, laporan jurnalistik yang berperspektif kepentingan bersama untuk tidak mengobarkan konflik melalui media massa jangan hanya menjadi sebuah wacana atau diskusi.

“Jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana memunculkan semangat bersama agar bisa membuat paradigma baru penulisan berita tentang konflik. Pendekatan jurnalisme damai memberikan jalan kepada berbagai pihak yang bertikai untuk menyelesaikan konflik secara kreatif dan tidak memakai jalan kekerasan,” katanya.

Anna Djukana mengatakan, informasi yang tidak benar cenderung menciptakan suasana tidak kondusif dan konflik horisontal di masyarakat. “Ketika di media sosial mulai ramai dengan pendapat pengguna medsos yang tidak mengerti dan tidak belajar tentang kode etik maka tugas jurnalis atau media untuk menyajikan pemberitaan dengan verifikasi maupun investigasi mendalam,” katanya.

Dia menambahkan, perbedaan jurnalisme damai dan jurnalisme perang/konflik dapat dilihat dari beberapa sisi diantaranya orientasi peliputan dan cara pandang terhadap akhir konflik. Jurnalisme damai akan membongkar ketidakbenaran dua belah pihak (cover up), sementara jurnalisme perang hanya mengungkapkan ketidakbenaran salah satu pihak sedangkan pihak lainnya ditutupi.

Baca : Pemerintah Tambah Tiga PLBN di Wilayah Perbatasan

“Dalam menjalankan tugas peliputan konflik, seorang jurnalis tidak dibenarkan berpihak pada salah satu pihak. Selain itu, dalam penulisan berita, pemilihan diksi atau kata itu penting untuk meredam dampak atau situasi konflik. Tak cukup sampai disitu, jurnalis perlu melakukan verifikasi agar apa yang diinformasikan benar- benar akurat dan berimbang,” tandasnya.

Ningsi Bunga mewakili Perkumpulan Cis Timor dan Kompak mengatakan, kegiatan kedua lembaga tersebut fokus pada pendidikan perdamaian, kampanye, jejaring dan advokasi. Sejauh ini, Kompak dan Cis Timor konsisten mengorganisir kaum muda dari berbagai kelurahan, suku, agama dan pendidikan untuk terus aktif dan menambah pengetahuan terkait keadilan dan kesetaraan manusia yang berbasis agama, suku dan juga budaya.

“Dalam gerakan ini, Cis Timor dan Kompak juga fokus pada jejaring sebagai upaya kampanye nilai- nilai toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman dan kelompok- kelompok minoritas yang ada di Indonesia khususnya di NTT. Untuk melengkapi gerekan tersebut, maka dilakukan pertemuan khusus dengan jurnalis- jurnalis muda sebagai wujud kontribusi membangun kerukunan agama, suku dan identitas lainnya di NTT,” ujar Ningsi.

Sementara itu, Ketua Aji Kupang, Alex Dimoe berharap melalui kegiatan workshop atau diskusi-diskusi maupun pelatihan yang diikuti oleh para jurnalis, setidaknya bisa memberikan pemahaman sekaligus pencerahan sebagai pedoman dalam menjalankan fungsi dan perannya, dan juga sebagai bekal dalam melakukan peliputan terkait konflik maupun soal keberagaman.