Bank NTT Tuan Rumah Panen Rejeki Bank BPD Seluruh Indonesia

Bagikan Artikel ini

Labuan Bajo, NTTOnlinenow.com – Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda)yang merupakan wadah bagi Bank Pembangunan Daerah seluruh Indonesia (BPD-SI) pada tanggal 3 September 2016 bertempat di Surabaya kembali akan menggelar program customer rewards yang dikemas dalam paket program Panen Rejeki Bank BPD.

Siaran Pers yang diterima redaksi NTTOnlinenow.com menjelaskan, untuk periode kali ini, Bank NTT untuk kali kedua dipercaya menjadi tuan Rumah perhelatan akbar Panen Rejeki Bank BPD Periode Ke-2 Tahun XXVII – 2017 yang penyelenggaraannya dipusatkan di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, 24 Maret 2017.

Labuan Bajo atau Singgasana 7 Keajaiban Dunia atau Bumi Flobamora dipilih selain merupakan destinasi wisata dunia di timur Indonesia dengan keramahtamahan masyarakatnya, Kota Labuan Bajo juga terkenal dengan wisata Taman Nasional Pulau Komodo yang termasuk dalam World Heritage UNESCO dimana di dalamnya terdapat habitat lebih dari 2.000 ekor Komodo.

Perhelatan akbar Panen Rejeki Bank BPD berupa Penarikan Undian Tabungan SIMPEDA Nasional dengan total hadiah sebesar Rp 6 Miliar (diundi 2x setahun) atau Rp 3 Miliar untuk setiap periodenya, kali ini sebagai tuan rumah adalah Bank Bank Jatim. Undian Nasional Tabungan Simpeda pada setiap periodenya akan diperuntukkan bagi 584 penenang dengan hadiah utama Rp 500 juta, kemudian hadiah kedua Rp 100 juta untuk 4 pemenang, hadiah ketiga Rp 50 juta untuk 26 pemenang.

Hadiah keempat Rp 5 juta untuk 26 pemenang, hadiah kelima Rp 2,5 juta untuk 26 pemenang, hadiah keenam Rp 2 juta untuk 52 pemenang, hadiah ketujuh Rp 1,5 juta untuk 104 pemenang, dan hadiah kedelapan Rp 1 juta untuk 345 pemenang.

Ketua Umum Asbanda yang juga Direktur Utama Bank DKI, Bapak Kresno Sediarsi mengungkapkan, bahwa Tabungan SIMPEDA merupakan salah satu produk pemersatu BPD seluruh Indonesia, disamping produk-produk dan layanan perbankan lainnya. Tabungan Simpeda sebagai produk penghimpunan dana masyarakat, dalam perkembanganya terus mengalami peningkatan. Hal ini dapat kita lihat pada Penarikan Undian Simpeda Nasional Periode ke-2 tahun ke-26, tahun 2016 di Pekanbaru, jumlah penabung sampai dengan akhir Desember 2015 berjumlah 7.200.883 penabung dengan jumlah saldo Simpeda sebesar Rp 44,26 triliun.

Kemudian pada Penarikan Undian Simpeda Nasional Periode ke-2 Tahun ke-27 tahun 2017 di Labuan Bajo kali ini, jumlah penabung sampai dengan akhir Desember 2016 berjumlah 7.456.207 penabung dengan jumlah saldo Simpeda sebesar Rp 44,77 triliun.

Lebih lanjut Ketua Umum Asbanda menjelaskan bahwa, apabila dilihat dari Penarikan Undian Simpeda Nasional di Pekanbaru sampai dengan di Labuan Bajo, dari sisi penabung terjadi sedikit kenaikan sebesar 3,55% atau naik sebanyak 255.324 penabung, sedangkan saldo Simpeda meningkat 1,14% atau naik sebesar Rp 506,77 miliar.

“Kedepannya kita akan terus meningkatkan kualitas produk dan layanan Tabungan Simpeda ini, sehingga akan memasyarakat serta menjadi tabungan pilihan masyarakat. Program ini adalah bagian dari proses Transformasi BPD, yakni penguatan produk dan layanan BPD agar semakin bersaing.” Jelas Ketua Umum Asbanda.

Seperti periode-periode sebelumnya, rangkaian perhelatan Undian Tabungan Simpeda Nasional atau Panen Rejeki Bank BPD ini diawali dengan prosesi Penyegelan Tabung Undian, Welcome Party, dan Seminar Nasional BPD seluruh Indonesia. Usaha kecil dan menengah di sektor pertanian yang sebagian besar merupakan masyarakat berpenghasilan rendah sangat membutuhkan dukungan dari kita semua, khususnya berupa dukungan permodalan dari pihak perbankan.

Sehingga salah satu tantangan yang dihadapi oleh perbankan di Indonesia adalah bagaimana bank bisa mendukung bisnis pertanian yang baik dan prospektif sehingga menghasilkan kinerja kredit yang baik pula. Terkait dengan hal ini, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) mengadakan Seminar Nasional dengan tema “PUBLIC-PRIVATE PARTNERSHIP DALAM PROMOSI AGRIBISNIS, Suatu Studi kasus Industri Kacang Hijau di Timor Barat.”

Dalam Seminar Nasional yang akan dihelat pada tanggal 24 Maret 2017 bertempat di Jayakarta Hotel, Labuan Bajo ini rencananya akan dihadiri dan dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur Bapak Frans Lebu Raya. Kemudian pemateri / narasumber yang akan menyampaikan paparan tentang “PUBLIC-PRIVATE PARTNERSHIP DALAM PROMOSI AGRIBISNIS, Suatu Studi kasus Industri Kacang Hijau di Timor Barat”, yaitu Bapak. Prof.Ir. Fredrik L. Benu, M.Si.,Ph.D, Rektor Universitas Nusa Cendana.

Hadir juga dalam seminar nasional ini antara lain Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Bapak Muliaman D. Hadad, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Bapak Erwin Riyanto, Ketua Umum Asbanda, Jajaran Direksi Bank NTT, serta Komisaris Utama/Ketua Dewan Pengawas, Direktur Utama dan Direksi, serta Pemimpin Divisi Bank Pembangunan Daerah (BPD) seluruh Indonesia.

Baca : Kisah Dibalik Kepergian Wartawati Palu Ekspres Untuk Selamanya

Seminar Nasional ini sebagai wujud tindak lanjut BPD seluruh Indonesia dalam melakukan transformasi BPD yang telah diluncurkan pada tanggal 26 Mei 2015 oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, yang ditandai dengan penandatanganan Komitmen oleh Direktur Utama, Komisaris Utama/Ketua Dewan Pengawas BPD seluruh Indonesia dan juga oleh Gubernur seluruh Indonesia selaku stakeholder BPD, dan oleh Ketua DPRD Provinsi se Indonesia.

Para pimpinan lembaga tersebut berkomitmen untuk memperkuat BPD menjadi bank yang berdaya saing tinggi, kuat serta berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Dalam road mad-nya, Program Transformasi BPD ini diharapkan dapat diwujudkan akhir tahun 2024.Untuk menuju Transformasi BPD tersebut, BPD telah meluncurkan 6 (enam) Workstream Transformasi BPD menuju Regional Champion, yang terdiri dari:Strategic Holding BPD, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pengembangan Produk dan Layanan, Peningkatan Good Corporate  Governance dan Manajemen Risiko, Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi Manajemen, dan Pengembangan SyariahBanking.

Kresno Sediarsi Ketua Umum Asbanda yang juga Dirut Bank DKI memaparkan bahwa, sebagai langkah awal dalam implementasi Program Transformasi BPD adalah melalui kegiatan-kegiatan yang memang dapat dilaksanakan.

Beberapa kegiatan yang menjadi quickwin dalam rangka program transformasi BPD diantaranya adalah melalui Bidang Teknologi, yaitu penggunaan Layanan Laku Pandai dan Solusi e-channel oleh beberapa BPD melalui BPDNet, sertalayanan Teller Online One BPD.

Setelah acara Seminar Nasional, Asbanda juga akan melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) XVII Asbanda, yang khusus akan diikuti oleh Direktur Utama BPD seluruh Indonesia. Beberapa hal yang akan menjadi bahasan dalam Munas diantaranya mengenai Laporan Pertanggung Jawaban Asbanda 2016 serta Rencana Kerja dan Anggaran Asbanda 2017, serta membahas hal-hal yang memang harus diputuskan oleh Top Manajemen BPD seluruh Indonesia.

Kinerja BPD seluruh Indonesia

Bank Pembangunan Daerah seluruh Indonesia (BPD-SI) terus menunjukkan pertumbuhannya. Kinerja BPD ini dilihat dari kinerja keuangan maupun operasional semakin membaik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator yang berhasil dibukukan oleh BPD seluruh Indonesia. Per Desember 2016, aset BPD telah mencapai Rp 529,19 triliun atau meningkat sebesar 8,92% dibandingkan posisi Desember 2015 yang mencapai Rp 485,86 triliun atau menempati peringkat 5 dalam perbankan nasional setelah BRI, Mandiri, BCA dan BNI.

Kekuatan aset BPD seluruh Indonesia ini menunjukkan bahwa apabila BPD seluruh Indonesia bersinergi akan menjadi potensi kekuatan yang solid dalam kancah persaingan industri perbankan nasional serta dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal bagi perekonomian nasional, khususnya di daerah.

Sesuai dengan data Statistik Perbankan Indonesia, kinerja kredit BPD juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Pada Desember 2016, posisi kredit BPD mencapai Rp 334,23 triliun atau meningkat sebesar 4,56% dibandingkan posisi Desember 2015 sebesar Rp 319,66 triliun. Sementara Posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) BPD seluruh Indonesia pada Desember 2016 mencapai Rp 372,60 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 5,87% dibanding posisi Desember 2015 yang mencapai sebesar Rp351,96 triliun.

Meskipun perkembangan usaha BPD cukup baik, namun kontribusi terhadap perekonomian daerah masih terbatas, tercermin dari porsi kredit produktif masih relatif kecil, yaitu sebesar 29%. Saat ini kredit BPD sebagian besar masih pada sektor kredit konsumtif. Ketergantungan pada dana Pemda juga masih relatif cukup besar, yang mencapai 18% pada akhir Desember 2016.