Kisah Dibalik Kepergian Wartawati Palu Ekspres Untuk Selamanya

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Dibalik sosoknya yang terkenal baik, ramah, santun dan pendiam alias tak banyak bicara, ternyata ia juga lebih dikenal sebagai wanita cerdas dan ulet.

Itulah sekilas kesan tersisa bagi keluarga dan kerabat dekat seorang jurnalis perempuan yang satu ini, pemilik nama lengkap Maria Yane Agustuti atau yang akrab disapa Tuti atau Amanda. Isteri dari Yohanes Sandipu, warga asal, Poso Sulawesi Tengah.

Amanda adalah anak ke 6 dari 8 bersaudara, buah perkawinan pasangan, Yohanes Ndos (76) bersama Lusia Riza Mado (63) warga Kampung Ka Redong, Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai, Flores, NTT.

Pasangan ini menikah pada 13 Oktober 2010 lalu di Palu-Sulawesi Tengah. Tetapi mereka belum dikaruniai anak. Namun kini dikabarkan tengah mengandung dengan usia kehamilan 3 bulan. Hal itu diketahui dari hasil USG atau pemeriksaan dokter kandungan sebelumnya, kata Kanis Tonga paman kandung korban.

Maria Yane Agustuti adalah salah satu wartawati pada media Palu Ekspres. Ia terdaftar sebagai salah satu anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu.

Semenjak Amanda merantau ke Poso beberapa tahun silam kemudian bertemu dan menikah dengan pasangan hidupnya ia belum pernah sekalipun kembali kekampung halamannya di Ka Redong-Ruteng.

Orang tua dan keluarga besarnyapun mengaku tak tahu jika profesi anak mereka ini sebagai jurnalis.

Namun tiba-tiba kini ia dikabarkan meninggal dunia dengan cara teragis. Ia Meninggal dunia karena dibunuh suaminya sendiri, Yohanes Sandipu dengan cara dicekik dan dijerat dengan menggunakan selendang dilehernya.

Korban ditemukan meninggal dunia dikamar kosnya di jalan Karoya Palu Selatan, Jumat, 17 Maret 2017 lalu sekitar pukul 11.00 Wita (Malam) oleh adik kandungnya yang bernama Frans.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini menyebutkan, beberapa saat sebelum korban meninggal dunia, keduanya (Suami-Isteri) sempat terlibat pertengkaran gara-gara uang yang hilang.

Namun pertengkaran itu sempat diredam oleh Frans adiknya itu. Karena merasa sudah aman, Frans pun kembali kekediamannya.

Selang beberapa jam setelah kejadian itu, Frans pun kemudian kembali ke kos kakaknya (Alm. Amanda). Setibanya ia disana, didapatinya pintu kos dalam keadaan terkunci, lalu ia memanggil korban berulang-ulang kali. Tak hanya itu bahkan ditelepon berkali-kali namun korban tak menjawabnya.

Karena merasa ada sesuatu yang tidak wajar, Ia pun kemudian membuka paksa pintu kos korban dengan menggunakan obeng. Namun betapa terkejutnya ia ternyata kakaknya itu sudah tak bernyawah. Ia ditemukan dalam posisi tidur dengan diselimuti oleh selimutnya sendiri, namun mukanya terlihat lebam karena usai dianiaya suaminya itu.

Olehnya korban sempat dilarikan ke rumah sakit BK untuk mendapatkan pertolongan medis, namun upaya tersebut tak membuahkan hasil.

Sedangkan pelaku ketika itu melarikan diri. Oleh keluarga korban kejadian itu melaporkannya ke pihak kepolisian setempat.

Kini Amanda telah tiada untuk selamanya. Kepergiannya untuk selamanya tentu meninggalkan duka mendalam bagi kedua orang tuanya dan keluarga besarnya, termasuk kerabat dekatnya juga sahabat seprofesinya, baik wartawan Harian Palu Ekspres maupun Wartawan dan Wartawati di Kabupaten Manggarai tanah kelahirannya.

Selasa, 21 Maret 2017 siang, terlihat belasan wartawan dan wartawati di Kabupaten Manggarai dengan karangan bunga bertuliskan “turut berduka cita” menuju rumah duka dikampung Ka Redong.

Mereka begitu setia berada disamping jenazah Alm. Amanda mengikuti doa bersama yang dipimpin Pastor Paroki setempat bersama Pastor Qwirinus Soetrisno, SVD saudara kandung korban yang bertugas sebagai Pastor Paroki ST. Fransiskus Nias Utara.

Bukan hanya itu, Mereka juga turut menghantarkan jenazah korban hingga ketempat pemakaman terakhir di pekuburan umum Ka Redong yang letaknya tak jauh dengan kediaman kedua orang tuanya.

Isak tangis wargapun pecah ketika jenazah korban hendak dihantar ke pekuburan untuk dimakamkan.

Ada pesan tersembunyi dibalik kematiannya. Kisah lain tentang Alm. Amanda adalah tentang percakapannya bersama Bapak kecilnya (Adik dari Ayahnya), Karolus Jawan, Kamis 16/3/2017 sehari sebelum kejadian naas itu menimpa dirinya.

Pasalnya, via telepon seluler miliknya keduanya sempat berkomunikasi.

“Bapa, apa kabar? Tolong jangan beritahu Bapak dan Mama. Paska ini saya pulang kampung. Saya ingin memberikan kejutan untuk Bapak dan Mama sekeluarga,” tutur Jawan kepada wartawan mengutip pembicaraannya bersama Almarhumah.

Hampir sama dengan yang diceritakannya, Pastor Trisno saudara kandung korban pula bercerita, jika sebelumnya Korban pernah menelepon dirinya. Satu kalimat pesan Alm. yang masih terlintas dalam benaknya, yaitu ” Kakak selagi kita hidup berbuat baik terhadap sesama itu penting dan jangan lupa berdoa banyak,” kisah Pastor Trisno kepada Wartawan mengulangi pesan Alm. adiknya itu.

Korban adalah alumni SMAN 1 Ruteng. Sedangkan gelar Sarjananya di Universitas Muhamadiyah Palu, wisudah pada bulan Oktober 2010 silam.