Dikibulin Pemkab Kupang, Suku Naibanus Cabut Penyerahan Tanah Pembangunan Observatorium

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Merasa ditipu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang suku Naibanus mencabut pelepasan hak atas tanah adat suku Naibanus disekitar lereng gunung Timau untuk pembangunan observatorium Nasional yang ditandatangani oleh Pemangku Hak Atas Tanah Suku Naibanus Godlif Yohanis Banu dan Osias Banu diatas materai 6000.

Hal ini mengemuka dalam rapat yang dihadiri sebanyak 50 lebih masyarakat Amfoang yang tergabung dalam wadah Lembaga Adat Suku Naibanus memadati Sekretariat yang terletak di Jalan Sabaat Kelurahan Liliba-Kota Kupang Senin 1 Maret 2017 yang lalu.

Lembaga Adat yang dinakodai Godlif Yohanis Banu itu menghadirkan tetua suku Naibanus yang berpengaruh antara lain Osias Banu, Benyamin Banoe, Yakobus Taemnanu (Mantan Kades Faumes), Tebrius Tonfanus (Mantan Camat Amfoang Barat Laut dan Mantan Kadis Tanbem Kabupaten Kupang), Benyamin Banu (Mantan Kabid pada Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Alor), Yakobus Banu, SPd, Jabal Banu dan Mesak Kolis, SH, untuk membahas tanah warisan leluhur mereka yang terletak disekitar gunung Timau Desa Faumes Kecamatan Amfoang Barat Laut Kabupaten Kupang.

Siaran pers yang diterima redaksi NTTOnlinenow.com, Ketua Suku Naibanus Godlif Yohanis Banu mengatakan, tentang tanah warisan leluhur yang kita serahkan untuk pembangunan observatorium, Bapak Bupati Titu Eki sudah berjanji untuk memberikan ganti kerugian, semacam uang siri pinang, namun sampai dengan saat ini, janji itu hanya sebatas janji; Sudah lebih dari lima (5) kali kami bertemu dengan Pemerintah Kabupaten Kupang dan Pihak Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), masing-masing tanggal 29 Januari, kami bertemu langsung dengan Bupati Titu Eki, tanggal, 10 Pebruari kami masih bertemu Bupati dengan semua pimpinan SKPD juga hadir pihak LAPAN Ibu Klara, lanjutan pembicaraan tanggal, 14 Pebruari dengan Sekda, dan beberapa pertemuan yang saya lupa tanggalnya, secara khusus kami juga sudah bertemu dengan Ibu Klara, tetapi tidak membuahkan hasil, janji untuk memberikan uang sirih pinang hingga saat ini sebatas janji, ujar Godlif.

Rapat yang berlangsung seru tersebut berhasil merumuskan kesepakatan tentang pernyataan penarikan/pencabutan pelepasan hak atas tanah adat suku Naibanus disekitar lereng gunung Timau untuk pembangunan observatorium Nasional yang ditandatangani oleh Pemangku Hak Atas Tanah Suku Naibanus Godlif Yohanis Banu dan Osias Banu diatas materai 6000.

Dalam pernyataan penarikan/pencabutan pelepasan hak tersubut dituturkan Godlif Yohanes Banu yang diaminkan Osias Banu, bahwa pernyataan pelepasan kepemilikan hak atas tanah adat suku Naibanus disekitar Lereng Gunung Timau yang dibuat dan ditandatangani oleh kami pada hari Rabu tanggal, 22 April 2015 yang lalu tersebut sejatinya tidak prosedural, sepihak dan mengabaikan ketentuan Perundang-undangan yang berlaku.

Pernyataan pelepasan hak tersebut kami tidak tahu isinya, karena disiapkan Pemerintah Kabupaten Kupang, kami juga tidak membaca, hanya disuruh tandatangan, karena sudah ditandatangani oleh para Camat dan Bupati Kupang Ayup Titu Eki. Ironisnya kami tidak diberikan copian, belakangan baru kami dapatkan dan membaca isinya ternyata pernyataan pelepasan hak tertanggal 22 April 2015 yang lalu tersebut adalah hibah seluas 30 Ha untuk pembangunan observatorium Nasional. Inikan sudah salah prosedur dan penipuan, tegas Godlif Banu.

Benyamin Banoe pemegang medali perunggu cabang olah raga Wushu pada PON ke 16 Tahun 2004 di Palembang yang juga Aktifis Brigade Meo Kupang menambahkan Undang-Undang sudah jelas mengatakan pengadaan tanah untuk kepentingan umum tidak prodeo, harus ganti rugi atau tukar tambah (ruislah) atau pemilik tanah ikut menjadi pemegang saham. Jadi kami tidak mau hibah, yang kami mau adalah ganti rugi, tidak ada tawar menawar. Tawar menawar terjadi kalau bicara tentang besarnya ganti rugi.

Kesepakatan tentang pernyataan penarikan/pencabutan pelepasan hak atas tanah adat suku Naibanus disekitar lereng gunung Timau untuk pembangunan observatorium Nasional, dilampirkan dalam surat sebanyak dua halaman tertanggal 1 Maret 2017, Nomor 02/SB/03/2017, lampiran 1 (satu) jepitan, perihal pemberitahuan, yang ditandatangani oleh Godlif Yohanis Banu, dan Osias Banu, disampaikan kepada Bupati Kupang dengan tembusan disampaikan kepada 13 lembaga pemerintah terkait antara lain Bapak Presiden RI di Jakarta, Gubernur NTT di Kupang, juga kepada pihak LAPAN, dan terakhir kepada Camat Amfoang Tengah di Fatumonas.

Godlif Yohanis Banu, menambahkan dengan pernyataan penarikan/pencabutan pelepasan hak atas tanah adat suku Naibanus disekitar lereng gunung Timau untuk pembangunan observatorium Nasional ini berarti pernyataan pelepasan hak tertanggal 22 April 2015 yang lalu tersebut sudah dinyatakan tidak berlaku, dan Pihak Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dilarang atau tidak diperkenankan melakukan aktivitas pembangunan di lokasi tanah kami. Papan larangan sudah kami siapkan untuk dipasang dilokasi Timau. Kami juga bersurat ke Pihak Lapan untuk tidak boleh melakukan aktifitas pembangunan.

Ayah dari Cristiana Banu ini kembali menambahkan setelah kami bersurat ke Bupati Kupang, pada tanggal, 6 Maret 2017 Bupati menginformasikan melalui salah tokoh suku Naibanus Tebrius Tonfanus untuk mau bertemu kami, sebanyak 20-an orang suku Naibanus sudah siap untuk bertemu Bupati, tapi kembali kami diinformasikan bahwa tidak jadi pertemuan. Kami sesali atas tindakan pembatalan sepihak ini, tetapi yang pasti hingga saat ini kami masih punya itikat baik untuk kapan Bupati Kupang menyiapkan waktu untuk bicara soal ganti rugi, karena ini sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Tim Humas Suku Naibanus