Momentum Pilkada Tidak Boleh Ganggu Kebersamaan dan Persaudaraan

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya mengatakan, momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada) terjadi lima tahun sekali, tetapi kebersamaan terjadi setiap saat dan persaudaraan dibawa sampai mati. Karena itu, momentum pilkada tidak boleh mengganggu kebersamaan dan persaudaraan.

Gubernur Lebu Raya menyampaikan ini dalam sambutannya pada acara Konsolidasi dan Doa Bersama Pasca Pemungutan Suara Pilkada 2017 di Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata Secara Aman Lancar dan Damai, yang digelar di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Kamis (23/2/2017).

Menurut Lebu Raya, sebuah proses demokrasi bisa membawa sukacita tapi juga mungkin bisa menimbulkan kesedihan. Ada yang mungkin senang tapi ada yang mungkin sedikit sakit. Tapi itulah demokrasi. Mau atau tidak mau semuanya harus dilalui, itulah pilihan yang terbaik dari bangsa dan negara ini.

“Tapi saya juga selalu menegaskan di setiap pilkada, bahwa pilkada momentumnya lima tahun sekali. Tetapi persaudaraan itu setiap saat dan dibawa sampai mati. Karena itu, pilkada tidak boleh mengganggu persaudaraan, tidak boleh mengganggu kebersamaan dan tidak boleh menciderai rasa kekeluargaan,” katanya.

Lebu Raya mengatakan, momentum ini sangat penting untuk menyatakan kepada semua orang, baik yang sedang berdukacita, maupun yang mendapat dukungan yang paling besar dari masyarakat. Tidak boleh bereuforia berlebihan untuk membuat orang lain sakit hati. Bagi yang belum mendapat dukungan besar dari masyarakat, harus terima dengan lapang dada.

Baca : Pleno KPU, Paket FirmanMu Ungguli Sahabat

“Ini satu momentum, masih ada momentum lainnya, sehingga kita harus jaga bersama, kita ikuti seluruh prosesi pilkada ini dengan sebaik-baiknya. Memberi kesempatan kepada penyelenggara untuk menyelesaikan tahapan demi tahapan sampai nanti pada pelantikan,” katanya.

Dia menyatakan, apa pun yang terjadi, siapa pun yang terpilih menjadi kepala daerah akan menjadi pemimpin bagi semua warga. Bukan menjadi kepala daerah hanya bagi orang yang memilihnya saja tetapi bagi yang tidak memilihnya maupun yang tidak memilih sama sekali.

“Oleh karena itu, persaudaraan harus terus dirajut. Kita harap semua masyarakat memahami hal ini supaya tidak larut dalam kekecewaan yang berlebihan yang pada akhirnya bisa menyulut hal-hal yang tidak kita kehendaki bersama,” ungkapnya.

Ditegaskannya, semua pihak harus menghormati apa pun keputusan dari pihak penyelenggara pemilu. Apabila ada hal-hal yang mungkin dirasakan masih mengganjal atau kurang puas dengan keputusan yang ada, maka ada jalur-jalur yang harus ditempuh.

“Ada jalur hukum yang disiapkan untuk dilalui manakala ada ketidakpuasan, ada sengketa-sengketa yang terjadi. Jangan mengambil tindakan sendiri, main hakim sendiri yang mengganggu kebersamaan, mengganggu persaudaraan dan mengganggu aktivitas masyarakat lainnya. Ini harapan kita bersama,” ujarnya.