Pengadilan Federal Australia Menangkan Gugatan Petani Rumput Laut NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Ketua Tim Advokasi Korban Petaka Tumpahan Minyak Montara di Laut Timor, Ferdi Tanoni mengatakan Pengadilan Federal Australia di Sydney memenangkan gugatan Daniel Aristabulus Sanda untuk berhak mewakili seluruh petani rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT) melawan PTTEP Australasia.

Putusan itu dalam sidang yang dipimpin Hakim tunggal Griffiths J dalam amar putusannya, Selasa (24/1/2017). Pada Oktober 2016 perusahaan pencemar Laut Timor PTTEP Australasia itu menolak gugatan Daniel Astabulus Sanda dan mengajukan keberatan kepada Pengadilan Federal Australia untuk mengugurkan gugatan itu dengan alasan bahwa Daniel Astabulus Sanda tidak berhak untuk mewakili dan mengatasnamakan seluruh petani rumput laut di NTT.

Dalam rilis yang dikirim Ferdi Tanoni kepada media ini, Kamis (26/1/2027) menjelaskan dalam amar putusannya setebal 22 halaman di bawah file nomor 1245 of 2016, hakim Griffiths J setelah mempertimbangkan keberatan yang diajukan oleh PTTEP Australasia serta memperhatikan berbagai bukti yang diajukan pengacara Daniel Astabulus Sanda, memutuskan menolak seluruh keberatan yang diajukan oleh PTTEP Australasia.

Penolakan ini mendasari Peraturan Mahkamah Agung Northern Territory yang mengakui hak perwakilan bahwa terdapat banyak orang yang mempunyai kepentingan yang sama dalam satu penyebab atau masalah, satu atau lebih dari orang-orang tersebut dapat menggugat atau digugat, atau dapat diizinkan oleh pengadilan atau hakim untuk mempertanyakan, penyebab atau hal tersebut atas nama atau untuk kepentingan semua orang yang berkepentingan.

Baca : Aleta Baun, Wanita NTT Raih Yap Thiam Hien Award 2016

Menanggapi putusan Pengadilan Federal Australia tersebut, peraih Civil Justice Award Australian Lawyers Alliance pada 2013 ini mengatakan kemenangan petani rumput laut di Pengadilan Federal Australia kemarin itu merupakan sebuah kemenangan awal yang sangat menjanjikan bahwa kebenaran akan terungkap di Pengadilan Federal Australia demi keadilan bagi puluhan ribu rakyat korban di NTT.

“Putusan pengadilan yang memenangkan petani rumput laut tersebut merupakan hal teknis yang sangat penting untuk menjamin kelanjutan perkara ini,” kata Ferdi.

Sekitar 13.000 petani rumput laut di Nusa Tenggara Timur mengajukan gugatan class action di Pengadilan Federal Sydney, Australia, Rabu 3 Agustus 2016 lalu terkait tumpahan minyak dari anjungan minyak Montara yang mengakibatkan mata pencaharian mereka hancur.

Class action itu diajukan oleh petani rumput laut Indonesia Daniel Sanda yang mewakili dirinya dan para petani rumput laut lainnya terhadap perusahaan yang mengoperasikan ladang minyak Montara, PTTEP Australasia anak perusahaan PTTEP asal Thailand.

Ferdi menambahkan, tumpahan minyak itu terjadi pada 21 Agustus 2009 setelah terjadi ledakan besar. Setelah itu, selama lebih dari 74 hari, minyak dan gas bercampur zat timah dan bubuk kimia sangat beracun dispersant telah mengotori dan meracuni Laut Timor dan Laut Sawu, perairan Indonesia.

Diperkirakan sebanyak 500 ribu hingga 2 juta liter minyak per hari mengotori lautan. Kebocoran itu akhirnya berhasil ditutup pada 3 November 2009.