Tahun Terakhir Program DeMAM, 612 Desa Tersisa Terima Rp 153 Miliar

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Program Desa Mandiri Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera atau sering disebut Desa Mandiri Anggur Merah (DeMAM) telah dilaksanakan sejak tahun 2011 dengan dana Rp 250 juta per desa/kelurahan, akan berakhir di tahun 2017.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) segera menyalurkan kepada 162 desa/kelurahan dengan total dana sebesar Rp.153 miliar pada tahun 2017 ini dengan masing-masing desa sebesar Rp.250 juta.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTT, Wayan Darmawa menyampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Rabu (18/01/2017).

Menurut Wayan, hingga saat ini jumlah desa yang sudah menerima dana Anggur Merah sebanyak 2.658 desa/keluran yang menyebar di wilayah provinsi berbasis kepulauan itu. Sebagian desa penerima dana tersebut sudah mampu mengelola dengan baik yang terindikasi dari kemampuan membentuk koperasi dan peningkatan aset.

“Secara keseluruhan, sekitar 40 persen koperasi penerima dana sudah mampu meningkatkan tambahan aset. Ada koperasi yang kita berikan Rp.250 juta sudah meningkatkan asetnya menjadi Rp.1 miliar. Memang ada juga yang belum menunjukkan kemajuan yang signifikan,” katanya.

Baca : Jumlah Perguruan Tinggi Bertambah, NTT Butuh Kopertis

Wayan menyatakan, model program Desa Mandiri Anggur Merah sudah diadopsi menjadi program nasional. Program ini merupakan salah satu upaya pemerintah daerah dalam mengurangi angka kemiskinan dengan penekanan pada peningkatan skala usaha masyarakat.

Program tersebut, lanjut Wayan, berbeda dengan program lain, seperti bantuan langsung tunai yang hanya selesai pada saat itu atau tidak berlanjut sementara “Anggur Merah” sifatnya mengembalikan.

“Sifatnya juga memberdayakan karena masyarakat penerima bertanggung jawab untuk mengelola dengan baik untuk peningkatan kesejahteraannya dan setelah itu harus dikembalikan,” katanya.

Wayan mengakui, jumlah dana tersebut memang belum memadai untuk menjangkau semua masyarakat yang tidak mampu. Dia berpendapat, dana Rp.250 juta itu mungkin saja cukup jika diberikan untuk 10 orang dalam satu desa/kelurahan, namun tentu kurang memadai jika penerimanya berjumlah 50 atau 100 orang.

“Karena itulah ke depannya program ini perlu disinergikan dengan program-program lainnya untuk peningkatan skalanya, untuk itu memang dibutuhkan sebuah kombinasi pembangunan,” tandasnya.