Masyarakat Adat TTS Rayakan Natal Bersama di Puncak Fatu Nausus

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Masyarakat adat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan bersama yang dinamakan ‘Natal Hijau’ di atas puncak bukit Fatu (Batu) Nausus. Perayaan natal tersebut dilaksanakan pada Rabu 11 Januari 2017 lalu.

Hal ini disampaikan pejuang lingkungan asal TTS, Aleta Baun kepada NTTOnline di Kupang, Selasa (17/01/2017).

Aleta Baun menyampaikan, natal bersama yang disebut Natal Hijau tersebut karena pohon yang digunakan sebagai pohon terang (pohon natal) adalah berupa tanaman-tanaman untuk kehutanan dan juga tanaman produksi petani.

“Kenapa kita namakan natal hijau karena pohon natal yang kita pakai adalah tanaman-tanaman untuk kehutanan maupun tanaman produksi petani seperti jeruk, nangka, sukun, mangga, dan sukun serta pohon-pohon lainnya,” katanya.

Selain itu, menurut Aleta, ada pohon natal lain yang dibuat dari bahan pangan lokal masyarakat setempat, dan juga pohon natal yang dirangkai menggunakan kain tenun ikat khas motif daerah TTS.

“Masing-masing dari pohon natal itu memiliki arti dan maksud, yaitu bahwa dalam urusan mendekatkan diri dengan Tuhan, masyarakat juga menjaga kelestarian alam, artinya berdoa dan menanam, dengan demikian maka akan mendapatkan hasil panen yang baik,” katanya.

Baca : Aleta Baun, Pejuang Lingkungan Hidup Asal NTT Raih Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2016

Sementara itu, lanjut dia, untuk pohon natal dengan kain tenunan memiliki makna bahwa semua hasil hutan dimanfaatkan oleh kaum perempuan untuk menenun. Hasil hutan yang dimanfaatkan itu seperti, bahan pewarna dan juga kapas.

“Ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan para tokoh agama tentang pentingnya melestarikan lingkungan, tidak hanya melestarikan hal-hal yang lain, tetapi bumi ini sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan,” ujarnya.

Aleta yang juga Anggota DPRD NTT ini menjelaskan, masyarakat adat setempat juga melakukan perarakan dari puncak Fatu Nausus menuju gua yang ada di tengah hutan untuk menyalakan lilin sebagai tanda syukur bahwa selama setahun mereka dapat bertani dan mendapatkan hasil yang baik.

“Karena di dalam hutan itu ada empat unsur penting yaitu, ada batu, ada air, ada kayu atau pohon dan juga ada tanah. Juga terdapat humus tanah yang akan memberi kesuburan pada tanah sehingga tanaman mereka menjadi subur,” jelasnya.

Dia menyampaikan, perayaan Natal Hijau tersebut diselenggarakan oleh organisasi masyarakat adat POKJA OAT (Kelompok Kerja Organisasi A’Taimamus) bekerjasama dengan organisasi pemuda gereja di tiga wilayah yakni Amanatun, Amanuban dan Mollo.

“Perayaan natal ini dilakukan diatas puncak bukit batu Fatu Nausus yang merupakan bekas tambang batu marmer yang dulu digarap oleh PT Karya Asta Alam yang saat ini telah ditata kembali oleh masyarakat adat dengan melakukan konservasi,” pungkasnya.