Aleta Baun, Pejuang Lingkungan Hidup Asal NTT Raih Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2016

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Aleta Baun yang akrab disapa “Mama Aleta” yang mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan lingkungan hidup di tanah Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terpilih sebagai peraih Yap Thiam Hien Award 2016.

Hal ini disampaikan Sekretaris Yayasan Yap Thiam Hien, Yulia Siswaningsih kepada NTTOnlinenow.com di Kupang, Jumat (6/1/2017).

Menurut Yulia, Aleta Baun terpilih sebagai peraih Yap Thiam Hien Award pada 14 Desember 2016 lalu oleh Dewan Juri yang terdiri dari Dr. Makarim Wibisono (Diplomat Senior), DR.Sandra Hamid (Direktur The Asia Foundation), Yoseph Stanley Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Zumrotin K. Susilo (aktivis perempuan dan anak) dan Prof.Dr.Todung Mulya Lubis (Ketua Yayasan Yap Thiam Hien) pada Sidang Dewan Juri Kedua yang dilaksanakan tanggal 28 November 2016 yang lalu.

Proses penentuan peraih Yap Thiam Hien Award 2016 diawali dengan mengumpulkan kandidat yang dihimpun dari jaringan/komunitas dan masyarakat luas sejak Mei 2016. Pada Sidang Dewan Juri pertama yang diselenggarakan pada 21 November 2016 telah tersaring 22 nama kandidat yang disampaikan kepada Dewan Juri.

Kemudian dalam prosesnya telah tersaring sebanyak 10 nama kandidat untuk dilakukan verifikasi lebih lanjut. Pada Sidang Dewan Juri kedua yang dilaksanakan pada tanggal 28 November 2016, terpilihlah Aleta Baun atau dikenal dengan nama Mama Aleta sebagai Peraih Yap Thiam Hien Award 2016 yang dianggap sesuai dengan kondisi HAM di Indonesia saat ini.

“Pertimbangan Dewan Juri memilih Mama Aleta adalah karena kegigihannya yang terbukti mampu mentransformasikan dirinya sebagai pejuang lingkungan yang tidak pernah takut dan sangat damai dalam melakukan penolakan terhadap kegiatan pertambangan di Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Yulia menjelaskan, Anugerah Yap Thiam Hien Award 2016 ini diberikan kepada Mama Aleta atas dasar beberapa pendekatan evaluasi rezim pemerintahan Jokowi-JK dalam ukuran akuntabilitas HAM dan penegakan hukum di Indonesia. Tambahan dari catatan publik internasional, terutama beberapa hal y ang tertuang di dalam Catatan Publik KontraS untuk Situasi Hak-Hak Asasi Manusia Tahun 2015 serta Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta pada tahun 2015 yang menyatakan bahwa kejahatan pada sektor lingkungan hidup masih masif terjadi di Indonesia.

“Yap Thiam Hien Award didedikasikan untuk mereka yang telah bekerja bertahun-tahun, dengan dedikasi, berani dan konsisten di bidang pembelaan Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka yang berhasil mempengaruhi dan mentransformasikan lingkungannya ke arah kebebasan dengan memberikan kemanfaatan bagi pemenuhan hak-hak para korban serta memberikan akibat-akibat yang baik bagi pemahaman orang lain terhadap hak asasi manusia. Mereka adalah pelopor dan teladan dalam usaha-usaha untuk membebaskan banyak orang dari rasa takut,” tandasnya.

Dia menambahkan, penghargaan tersebut akan diberikan kepada Aleta Baun pada tanggal 25 Januari 2017 mendatang di Museum Nasional, Jakarta. Presiden Joko Widodo direncanakan hadir dan memberikan sambutan pada kesempatan tersebut.

Mama Aleta yang dikonfirmasi mengaku tidak pernah membayangkan akan mendapatkan penghargaan tersebut, karena dedikasi yang dilakukannya merupakan panggilan nurani demi membela hak-hak masyarakat khususnya di tanah Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Bahwa dalam pemikiran Mama Aleta, Mollo adalah merupakan paru-paru dari Pulau Timor yang perlu dijaga kelestariannya.

“Karena itu, ketika ada perusahaan tambang yang masuk ke daerah itu maka akan terjadi eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA), dengan demikian jelas yang akan merasakan dampaknya atau yang menderita bukan hanya orang Mollo saja tetapi seluruh masyarakat di Pulau Timor. Sementara petani membutuhkan sumber daya alam, mereka butuh tanah, butuh air, batu dan hutan. Apabila salah satu dari empat unsur ini hilang maka sebagai petani tentu akan menderita. Jelasnya, eksploitasi tambang selalu menimbulkan dampak negatif, karena itu kami dengan tegas menolak hal tersebut,” katanya.

Mama Aleta mengungkapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang menaruh perhatian dan memberikan penghargaan terhadap dirinya. Dikatakannya, penghargaan tersebut sebagai motivasi sekaligus tanggungjawab yang besar baginya. Karena apa yang diterima harus bisa dijaga dan diemban serta menunjukkan kepada masyarakat bahwa hal itu layak untuk diamanatkan kepadanya.

“Ini adalah beban yang berat bagi saya, karena bukan karena penghargaan ini kemudian perjuangan saya selesai, tetapi bagaimana saya harus menunjukkan kepada orang lain dan juga mengajarkan kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan sehingga ini menjadi motivasi bagi banyak orang. Harus diakui bahwa banyak orang yang belum paham dan mau berjuang untuk menyelamatkan lingkungan, ini menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menyadarkan mereka,” tandasnya.