Gelombang Tinggi, Nelayan di Pantura Atapupu Berhenti Melaut

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Sebulan lebih sudah para nelayan yang tersebar di pesisir pantai utara Atapupu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Timor Barat perbatasan antara Negara Indonesia dan Timor Leste memilih tidak melaut akibat gelombang tinggi yang mencapai 2 meter.

Sejumlah nelayan yang berdomisili di wilayah Desa Dualaus, Jenilu dan Kenebibi tesebut tidak melakukan aktivitas melaut di perairan Atapupu akibat cuaca ekstrim yang dapat membahayakan bahkan mengancam keselamatan nelayan.

Genara salah seorang nelayan asal Fatukmetan yang dihubungi membenarkan, angin kencang dan gelombang tinggi yang mencapai 2 meter telah terjadi hampir satu bulan hingga saat ini. Akibat kondisi tersebut membuat para nelayan berhenti melaut.

Baca : Anggaran Pembangunan Bendungan Napun Gete Capai Rp 884 Miliar Lebih

“Saat ini musim barat sehingga angin kencang dan gelombang tinggi. Cuacanya tidak tentu kadang satu dua jam bisa redah, kadang juga tidak bisa dan ini sudah berlangsung sejak awal bulan Desember lalu,” tutur Genara, Rabu (4/1/2017).

Akibat cuaca yang tidak pasti untuk melaut, jelas dia kami hanya mengisi keseharian dengan memperbaiki kerusakan-kerusakan pada jaring pukat dan sampan. Kondisi tersebut telah berlangsung hampir dalam sebulan.

“Cuacanya tetap begini sampai hari ini. Kalau musim barat atau hujan laut terus maka kepastian untuk kami melaut belum jelas bahkan satu atau dua bulan kedepan,” ucap dia.

Sesuai pantauan NTTOnlinenow.com di beberapa titik di pesisir pantai, seperti di lokasi Fahiluka, Desa Jenilu nampak sejumlah sampan milik nelayan hanya dibiarkan mengapung di pinggiran pantai. Kondisi serupa terjadi di lokasi dermaga teluk gurita, TPI dan Berluli, sampan milik para nelayan diikat di tepi perairan bahkan ada yang disimpan diatas darat.