Warga Pidie Jaya Masih Cemas dan Butuh Bantuan

Bagikan Artikel ini

Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Meskipun fase tanggap darurat berakhir, namun kondisi masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Pidie Jaya masih diliputi kecemasan akan bahaya gempa susulan. Warga juga masih membutuhkan bantuan berupa tenda, selimut dan terpal untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Di Desa Lancang Paro, Kecamatan Bandar Baru, misalnya, 80 persen warga masih tidur di tenda darurat. “Bantuan tenda dari pemerintah hanya cukup untuk memenuhi 10 persen kebutuhan warga,” kata Abduh, Sekretaris Desa Lancang Paro.

Terkait kebutuhan ini, sejak kemarin Plan International Indonesia, bekerja sama dengan LSM Cipta Fondasi Komunitas (CFK) mendistribusikan paket bantuan untuk 7.500 warga yang tersebar di 6 desa di 2 kecamatan yang paling terdampak gempa 6,5 Skala Richter di Aceh, 7 Desember silam.

“Dari hasil kaji cepat dan observasi di lapangan, kami memutuskan untuk mendistribusikan bantuan berupa terpal, selimut, tikar dan tali. Meskipun sudah ada himbauan dari Bupati agar warga meninggalkan lokasi pengungsian dan kembali ke rumah, namun kenyataannya warga belum sepenuhnya berani tinggal di rumah, terutama di malam hari,” kata Wahyu Kuncoro, Program Manager Disaster Risk Management Plan International Indonesia, di Pidie Jaya, Selasa (27/12).

Baca : Gempa 6,4 SR di Aceh, Basarnas Siap Bantu Evakuasi

Wahyu menegaskan, sebagai organisasi kemanusiaan yang fokus pada pemenuhan hak anak, terutama perempuan, Plan International berkepentingan untuk memastikan mereka dalam kondisi aman pascagempa Aceh ini. Bantuan kemanusiaan ini juga diprioritaskan untuk warga yang rumahnya rusak.

“Anak-anak, terutama anak perempuan tidak nyaman dan leluasa tinggal di tenda darurat. Dengan adanya bantuan ini diharapkan mereka bisa kembali tinggal bersama keluarga inti di lingkungan rumah mereka,” tambah Wahyu.

Selain memberikan bantuan fisik, Plan International Indonesia juga memberikan dukungan psikososial untuk anak-anak dan remaja, terutama perempuan, sampai tiga bulan ke depan. Untuk kegiatan ini, akan disediakan fasilitas ruang ramah anak (Child Friendly Space – CFS) di enam desa yang tersebar di Kecamatan Meureudu, Trienggading dan Bandar Baru.

“Kami berharap dukungan psikososial yang mulai dibuka pada awal Januari besok bisa mengurangi kecemasan dan ketakutan warga, khususnya anak-anak dan remaja, sehingga mereka bisa kembali ke kehidupan normal,” kata Wahyu.

Rencananya kegiatan ruang ramah anak tersebut akan diimplementasikan sampai tiga bulan ke depan.
Berdasarkan observasi di beberapa sekolah hari ini, anak-anak sudah diminta masuk ke sekolah. Plan International Indonesia mendukung kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie Jaya yang menghimbau para pelajar kembali ke sekolah, meskipun untuk sementara belajar di tenda darurat.