Komunitas Persaudaraan NTT Jakarta Kutuk Peristiwa Penyerangan Siswa di Sabu

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Komunitas Persaudaraan Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta mengutuk tindakan yang tidak berperikemanusiaan terhadap tujuh anak SDN I Sabu Barat pada 13 Desember lalu dan menuntut Polri segera mengambil langkah-langkah hukum untuk mengungkap pelaku dan dalang yang berada dibalik peristiwa itu.

Demikian salah satu poin pernyataan sikap Komunitas Persaudaraan NTT di Jakarta yang disampaikan Petrus Selestinus dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Jumat (16/12/2016).

“Kami mendesak Polri untuk mengungkap aktor intelektual di belakang peristiwa yang tidak berperikemanusiaan tersebut,” katanya.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) itu komunitas mendesak gubernur dan seluruh Muspida di NTT untuk segera memulihkan kenyamanan dan rasa damai masyarakat warga NTT. Juga menjamin persaudaraan, kerukunan, toleransi dan keberagaman yang ada di NTT agar tetap kompak dan bersatu.

Komunitas juga meminta Kapolri, Jaksa Agung, Panglima TNI dan Mahkamah Agung untuk segera membuka Polres, Kejaksaan, Kodim, dan Pengadilan Negeri pada setiap kabupaten pemekaran di NTT yang sudah 10 tahun lebih belum memiliki institusi hukum dan keamanan guna memberikan pelayanan keadilan secara memadai.

“Pernyataan sikap dan harapan Komunitas Persaudaraan NTT di Jakarta ini kami sampaikan kepada pemerintah melalui kapolri untuk ditindaklanjuti,” ujar Petrus.

Dia mengungkapkan, Komunitas Persaudaraa NTT di Jakarta di satu pihak mengapresiasi sikap seluruh warga masyarakat NTT yang tidak terprovokasi oleh kejadian tragis dan tidak berperikemanusiaan yang menimpa tujuh siswa yang tidak berdosa. Namun di pihak lain menyesalkan sikap reaktif dan emosional sebagian masyarakat yang menghakimi pelaku yang sudah berada dalam sel tahanan Polsek Kabupaten Sabu Raijua yang hingga sekarang belum memiliki Polres.

Baca : Polisi Sebut Enam Orang yang Diamankan Bukan Teman Pelaku Penyerang Siswa di sabu

“Sejumlah kabupaten pemekaran di NTT yang sudah berusia 10 tahun lebih tidak memiliki Polres, Kejaksaan dan Pengadilan, serta Kodim seperti di Kabupaten Sabu Raijua, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Malaka akan menjadi lahan subur bagi aktivitas kelompok radikal di NTT semakin marak,” tandas Petrus.

Anggota Komunitas Persaudaraan NTT di Jakarta, Serfas Serbaya Manek mengayakan, peristiwa penikaman tujuh anak SDN I Sabu Barat adalah tindakan biadab dan tidak berperikemanusiaan, karena menjadikan anak-anak kecil yang tidak berdosa sebagai target kelompok radikal untuk melakukan teror terhadap kehidupan yang rukun, penuh toleransi dan beragam di NTT.

Peristiwa itu tidak boleh dianggap sebagai kriminal biasa. Karena sebelumnya aktivitas kelompok radikal di NTT telah dideteksi bahkan beberapa kelompok telah diamankan dan dipulangkan oleh aparat kepolisian tanpa proses hukum.

“Peristiwa itu menjadi bukti bahwa Gubernur NTT dan Kapolda tidak memiliki kepekaan, kewaspadaan dan tanggung jawab terhadap situasi keamanan di seluruh NTT, terkait dengan dinamika politik nasional di Jakarta yang akhir-akhir ini memanas dan eskalatif,” tandas Serfas.

Sebagai penanggungjawab politik dan keamanan di NTT, lanjutnya, gubernur dan kapolda NTT seharusnya terus menerus meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan. Ini bertujuan agar tidak membuka peluang masuknya kelompok radikal merusak kondisi NTT sebagai provinsi yang sangat toleran dan menghargai perbedaan dan sekaligus menjaga kerukunan dan keselamatan warga masyarakat dari tindakan brutal kelompok radikal.