Polisi Tahan Anggota DPRD Malaka dan Direktur CV Serafim Atambua

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Penyidik Polres Belu akhirnya resmi menahan Anggota DPRD Kabupaten Malaka, Balthasar Manek (BM) terkait kasus dugaan korupsi pada SMKN Kobalima di Mapolres Belu, Minggu (4/12/2016) siang.

Selain menahan mantan Kepala Sekolah Kejuruan di Raihenek Kabupaten Malaka, Polisi juga menahan Antonius Setiawan (AS) selaku Direktur CV Serafim Atambua.

Pantauan NTTOnlinenow.com di bekas Makopolres lama sekira pukul 12.45 Wita, tersangka BM didampingi Isterinya serta beberapa kerabat, sementara tersangka AS hanya seorang diri tanpa ditemani oleh satu keluarga.

Kedua tersangka yang hanya mengenakan celana pendek dan baju kaos digiring oleh tim penyidik dari ruang pemeriksaan unit Tipikor Polres Belu menuju ruang tahanan. Isteri tersangka BM bersama kerabat ikut mengantar sampai ke ruang tahanan.

Kapolres Belu, AKBP Michael Ken Lingga melalui Kasat Reskrim, IPTU Ricky Dally kepada NTTOnlinenow.com mengatakan, kedua tersangka ditahan berkaitan dengan kasus tindak pidana korupsi. Surat perintah penahanannya sudah kita tandatangan. “Penahanan kedua tersangka selama 20 hari kedepan,” ujar dia.

Baca : Penyidik Polres Belu Lengkapi Berkas SMKN Yang Kurang

Terpisah, Sabtu (3/12/2016) kemarin, kuasa hukum tersangka AS, Helio Caetano Monis kepada media mengatakan, Polres Belu telah melakukan penangkapan terhadap klien kami hari ini. Menurut dia, kliennya dari CV Serafim memasukan penawaran setelah pihak SMKN mengeluarkan permintaan penawaran yang disebarkan ke seluruh konraktor. Setelah penawaran masuk, pihak sekolah melakukan seleksi dan CV Serafim yang akhirnya ditetapkan sebagai pemenang.

Sesuai perjanjian dari 2012 setelah lebih dari satu tahun sampai 2013, klien kami sudah bebas dari kekurangan barang yang ada. Tetapi ditahun 2014 ada laporan bahwa ada kekurangan pengadaan barang dan pihak Polisi melakukan pemeriksaan barang. Setelah itu pihak SMKN sebagai saksi memberikan keterangan pada penyidik bahwa pengadaan itu kurang. Pada berita acara serah terima barang, ada ceklis surat termuat item semua jenis barang dengan jumlah dan berdasarkan cek itu klien saya melengkapi. Setelah lengkap baru dilakukan penandatangan berita acara.

“Yang jadi anehnya, klien saya ditetapkan sebagai tersangka. Padahal yang tandantangan berita acara itu Kepsek yang sekarang Bapak Agus Manek bukan Balthasar Manek karena beliau pensiun 1 Mei, berita acara serah terima barang itu bulan Juni dan berita penerimaan barang juga bulan Juni. Jadi kesaksian para saksi itu diragukan karena kita punya fakta berita acara. Karena ini sudah proses, jadi kita ikuti saja proses selanjutnya di pengadilan,” ungkap dia.

Senada dengan kuasa hukum AS, kuasa hukum BM, Efaristo Seran Klau mengatakan akan mengikuti proses yang ada sesuai dengan prosedur yang berlaku.