Bayi Cacat Lahir, Organ Tubuh Terburai di Luar Kulit Perut

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Kasus bayi lahir dengan organ tubuh terburai di luar kulit, kembali terjadi di kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Pasangan suami istri Wilibrodus Bobo (29) dan Patricia Berkanis (29) warga desa Oelami kecamatan Bikomi Selatan RT/RW 18/08/2016 tak menduga bayi kedua berjeni kelamin laki – laki yang dilahirkan dengan berat badan 3, 3 kilo gram akan lahir mengalami kelainan dengan kondisi usus terburai di luar kulit perut.

“Saya melahirkan pagi tadi, Selasa (29/11) jam 06.00 wita dengan dibantu bidan dari puskesmas setempat. Saya kaget saat bayi keluar kondisinya seperti ini”, kisah Patricia kepada media ini saat ditemui di rumahnya.

Lanjutnya, “Perkiraan bidan saya akan melahirkan pada tanggal 30 Desember, tapi hari ini sudah tidak tahan sakit dan anak saya sudah lahir. Waktu melahirkan seperti biasa, normal. Ari – ari dan anak langsung keluar, hanya saat dilihat utuh, usus dan organ lainnya terburai di luar kulit perut. Pagi itu juga kami langsung berangkat ke RSUD Kefamenanu namun siangnya kamipun pulang karena dokter juga tak bisa berbuat apa – apa karena usia bayi masih terlalu kecil sehingga tak bisa dioperasi. Kami pasrah, jika memang tak ada yang bisa menolong”.

Menurut Patricia, selama hamil dirinya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan ke puskesmas terdekat. Ia pun tak mendapat tanda atau firasat buruk. Sementara suaminya Wilibrodus Bobo mengaku mendapat tanda melalui mimpi, menyeberangi sungai yang sedang dilanda banjir besar.

Baca : Dewan Pertanyakan Penanganan Kasus Penembakan Sopir Ekspedisi di Halikelen

“Saya bermimpi buruk semalam, hujan deras dan sungai terendam banjir besar. Kami berusaha menyeberang namun sia – sia dan sayapun kaget terbangun dari mimpi. Mungkin jawaban dari mimpi saya adalah kecacatan kelahiran anak saya. Yah, kami pasrah saja”, ungkap Wili.

Dokter Spesialis anak, RSUD Kefamenanu Mervin Tri Hadianto saat dikonfirmasi Rabu (30/11) mengakui adanya kasus tersebut. Namun tidak bisa ditangani walau di fasislitasi RS tipe A. “Kasus itu tidak bisa ditangani, 99 persen akan meninggal walaupun difasilitasi RS tipe A yang ada spesialis bedah anak. Jadi kasus anensefal atau tak punya tengkorak, gastroschizis usus terburai, dinsrom trysomi 13 dan trysomi 18 prognosis fatal dan tak perlu diopname di RS. Itulah pertimbangan saya sehingga saya mengedukasi keluarga untuk pasrah dan dirawat di rumah saja”, jelas dokter Mervin.

Dokter Mervin pun mengatakan, jika sempat di USG saat sebelum melahirkan sudah ketahuan bayinya akan mengalami kelainan atau kecacatan tubuh. Ia juga sempat mengisahkan kasus yang sama yang pernah ditanganinya di RSUD dokter Kariadi Semarang. Menurutnya bayi yang gastroschizil 100 % meninggal meskipun sudah mendapat lapisan silikon termahal yang dikerjakan dokter spesialis anak.

Pantauan nttonlinenow.com, bayi terlahir cacat yang belum berusia sehari ini terus menerus menangis kehausan sambil memasukan jarinya ke dalam mulut. Ibu bayi, Patricia tidak berani mengambil resiko menyusui bayinya, lantaran takut saat digendong usus dan organ tubuh lain yang terburai di luar kulit perut pecah atau resiko lainnya yang bisa menyebabkan bayinya meninggal di tangannya sendiri.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini, kasus kecacatan kelahiran bayi sudah beberapa kali terjadi di kabupaten Timor Tengah Utara. Sebelumnya beberapa tahun silam, tercatat beberapa bayi terlahir dengan sebagian organ tubuh dan otak terburai keluar. Faktor utamanya masih belum dapat dipastikan.