Perubahan Iklim Merusak Keteraturan Musim Tanam

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Perubahan iklim terbukti telah merusak keteraturan musim tanam selama beberapa dekade terakhir dan dapat menimbulkan krisis bahan pangan akibat penurunan kualitas produk pertanian.

Hal ini disampaikan, Program Climate and Development Knowledge Network (CDKN) Policy Advisor Indonesia, Mochamad Indrawan kepada wartawan di Kupang, Jumat (11/11/2016).

Menurut Mochamad Indrawan yang biasa disapa Didy, perubahan iklim telah menimbulkan dampaknya. Studi terbaru dari Bank Dunia mengungkapkan bahwa bila tidak di tangani dengan baik, maka di dunia akan bertambah 100 juta orang miskin akibat perubahan iklim.

“Masyarakat rentan akan sangat terpengaruh akibat berbagai kegagalan panen akibat perubahan iklim, serta dampak kenaikan harga-harga pada semua bidang kehidupan,” katanya.

Didy menjelaskan, masyarakat ekonomi lemah seringkali tidak memiliki dukungan sosial ekonomi yang memadai untuk beradaptasi, dan bahkan sangat rentan akan berbagai penyakit yang kejadiannya akan di perparah oleh perubahan iklim.

“Perubahan iklim akan menyebarkan lebih jauh malaria ke daerah-daerah baru yang akibat perubahan iklim menjadi sesuai bagi kehidupan vectornya, munculnya penyakit-penyakit baru dan penyakit yang kembali bermanifestasi dengan tingkat keganasan yang lebih tinggi (new emerging and re-emerging diseases) baik pada manusia maupun hewan ternak dan hewan liar yang akan membutuhkan investasi besar dan waktu yang lama untuk dapat ditanggulangi,” jelasnya.

Baca: Kembangkan Minat Baca, Perpustakaan Belu Gelar Lomba Cerita Rakyat

Untuk itu, lanjut dia, perubahan iklim memerlukan pengetahuan mengenai adaptasi, mitigasi, pembangunan berkelanjutan dan interaksi antara ketiganya yang dikenal sebagai pembangunan selaras iklim.

Climate and Development Knowledge Network, sebuah program (bukan lembaga) yang dibangun oleh pemerintah Inggris dan Belanda untuk mengembangkan jejaring pengetahuan dengan membawa pengalaman dari 13 negara (Colombia, El Salvador, Peru, Ethiopia, Kenya, Rwanda, Uganda, Bangladesh, India, Indonesia, Nepal, Pakistan and the Caribbean) berjuang untuk memperbaiki kesenjangan pengetahuan.

“Pembangunan selaras iklim (climate compatible dedelopment atau CCD) merupakan visi yang digaungkan oleh program CDKN yang menaungi para praktisi dan ahli perubahan iklim. Dapat dikatakan CDKN tengah melakukan pembelajaran bahkan perubahan transformasional untuk mewujudkan pembangunan selaras iklim” ujarnya.

Baca: PDI Perjuangan Latih Saksi Pemilu di Kupang

Dia mencontohkan, langkah-langkah yang telah dilakukan CDKN yakni mendukung pembangunan selaras iklim di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Karibia. Selain itu, mempengaruhi kebijakan dan program di 28 negara, bekerja dengan 1590 mitra di seluruh daerah, mencatat 60 perbaikan pemahaman dan komitmen oleh pembuat keputusan, serta melatih lebih dari 350 negosiator perubahan iklim.

“Di Indonesia, CDKN mengerahkan tenaga ahli untuk membantu pihak pemerintah mengakses dan mendistribusikan dana perubahan iklim. Di Aceh, CDKN mendukung penelitian oleh Global Canopy Programme bersama Wildlife Conservation Society mengenai jasa lingkungan hutan , dan ternyata hutan di Aceh memberikan manfaat mendekati 2,3 triliun per tahun dalam melindungi tanaman pertanian,” ungkapnya.

Didy menambahkan, di Nusa Tenggara Timur (NTT), CDKN bekerja sama dengan Gewrmanwatch dan Insttitute for essential Services Reform serta Yayasan Pikul dan Gang Motor Imut, CDKN mevalidasi bahwa masyarakat pun mampu membangkitkan energi bila di beri kesempatan, dan teknologi sederhana oleh masyarakat bagi masyarakat akan lebih menarik.

“Jelas dari pembelajaran CDKN bahwa pembangunan selaras iklim membutuhkan kemitraan setempat, termasuk perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat serta masyarakat itu sendiri,” imbuhnya.