BPS, Tingkat Kesejahteraan Petani di NTT Meningkat

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Tingkat kesejahteraan petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diukur berdasarkan Nilai Tukar Petani (NTP) yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan peningkatan.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia mengatakan, BPS mencatat Nilai Tukar Petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan Oktober 2016, sebesar 102,41.

“Jika nilai tukar petani Oktober 2016 dibandingkan dengan nilai tukar petani September 2016, terjadi peningkatan sebesar 0,38 persen,” kata Maritje saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di Kupang, Senin (01/11/2016).

Maritje menjelaskan, NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.

Baca: Fraksi Partai NasDem Ingatkan Pemerintah Lakukan Efisiensi Anggaran

“NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani,” katanya.

Maritje menyampaikan, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di NTT pada Oktober 2016, NTP di NTT mengalami peningkatan dibanding September 2016. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan pada indeks harga hasil produksi pertanian dan terjadi peningkatan yang lebih kecil pada indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.

“Perhitungan NTP didasarkan pada perhitungan tahun dasar 2012. Perhitungan NTP ini mencakup lima subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan,” katanya.

Dia menambahkan, jika ditinjau per sub sektor dengan membandingkan NTP Oktober 2016 dengan NTP September 2016 maka subsektor padi palawija mengalami penurunan sebesar 0,05 persen, subsektor hortikultura mengalami peningkatan sebesar 0,64 persen.

“Untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami peningkatakan sebesar 1,15 persen dan subsektor peternakan mengalami peningkatan sebesar 0,08 persen, subsektor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,83 persen,” tandasnya.