Bedah Kasus Ahok, Putra NTT ini Nyaris Adu Jotos dengan Jubir FPI

Bagikan Artikel ini

Jakarta, NTTOnlinenow.com – Nyaris terjadi adu jotos di sela-sela diskusi ‘Membedah kasus Ahok: Apakah Penistaan Agama?’ di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan. Salah satu peserta diskusi bernama Servasius Manek asal Nusa Tenggara Timur bersitegang dengan Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI), Munarman.

Pertikaian keduanya bermula saat salah satu penggiat Aspirasi Indonesia ini berbicara tentang penyelesaian suatu masalah tak membawa-bawa agama. Mendengar itu, sontak Munarman tak menerima dan menyerang dengan nada tinggi atas pertanyaan Servas yang dianggapnya tendensius.

“Hey, saya tidak terima kamu bicara seperti itu. Dari tadi saya tidak bicara soal agama, saya bicara soal hukum,” kata Munarman menyerang Servas, Selasa (1/11).

Menanggapi ucapan Munarman, Servas pun tak mau kalah. Dia berkali-kali mengarahkan jari telunjuknya kepada Munarman sembari meminta agar diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat.

“Biarkan saya bicara. Kalau intelektual jangan begitu,” tukas Servas.

Merasa kesal karena Servas tak mengalah, Munarman turun dari mimbar dan mendekati Servas beberapa langkah. Munarman bahkan mengajak Servas keluar dari hotel untuk diselesaikan dengan caranya masing-masing.

“Saya bisa lebih dari Anda. Ayo kalau berani keluar dari hotel,” kata Munarman.

Mendengar ucapan Munarman, nyali Servas tak ciut. Dia kembali menantang Juru Bicara Front Pembela Islam tersebut. “Media lihat, dia mengancam orang. Ini hak bicara. Enggak usah ancam saya. Kamu salah orang,” ujar Servas.

Insiden ini sempat menghentikan acara diskusi tersebut. Sejumlah anggota Polri yang hadir di acara itu berdiri dan mengajak Servas untuk berhenti menanggapi ujaran Munarwan. Sementara beberapa narasumber lain berusaha membujuk Munarwan untuk tak melanjutkan pertikaian.

Dua menit situasi panas ini terjadi, keduanya bisa diredam. Diskusi kembali dilanjutkan dengan kondusif hingga selesai.

Untuk diketahui, diskusi ini dihadiri oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli, Pakar Hukum dan mantan Ketua KY, Suparman Marzuki, perwakilan Kompolnas, Andrea Pulungan, dan Politisi PDIP Erwin Moeslimin Singajuru.
Sumber: Merdeka/indopos