Pemerintah NTT Usulkan Sonbai Jadi Pahlawan Nasional

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Sosial akan mengusulkan nama mendiang Raja Sobe Sonbai lll (ke-tiga) sebagai pahlawan Nasional ke Pemerintah Pusat.

Rencana usulan itu disampaikan Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, Welem Foni saat rapat panitia penyelenggara Hari Pahlawan ke -71 tahun 2016, tingkat provinsi NTT di Kupang, Kamis (20/10/2016).

Menurut Welem, usulan untuk menjadikan Raja Sobe Sonbai lll sebagai Pahlawan Nasional itu atas desakan TNI Angkatan Laut dari Pangkalan Utama Militer atau Lantamal Vll Kupang yang meminta pemerintah Provinsi untuk memperkenalkan sosok Sonbai ke seluruh masyarakat NTT atas perlawanannya terhadap penjajah Belanda.

“Perjuangan pemerintah NTT untuk menjadikan Sobai sebagai pahlawan nasional ini selain atas desakan dari Lantamal VII Kupang, juga karena sejarah yang menyebutkan kegigihannya melawan penjajahan Belanda di tanah Timor. Sehingga nama Sonbai pantas diusulkan untuk dijadikan pahlawan nasional,” katanya.

Untuk diketahui Sobe Sonbai lll adalah Raja kelima belas dan juga sebagai Raja terakhir Timor.

Baca: Jelang Hari Pahlawan Dinas Sosial Gelar Rapat

Sebagaimana lansiran Wikipedia menyebutkan, Sobe Sonbai dikenal sebagai satu-satunya Raja Timor yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menandatangani perjanjian takluk kepada Belanda. Walaupun di antara tahun 1900 hingga 1927, sudah 73 penguasa di Timor yang mendatangani Korte Verklaring atau perjanjian takluk kepada Belanda.

Seperti di masa kekuasaan VOC, salah satu kontrak yang terkenal adalah kontrak Paravicini, yakni kontrak dagang yang ditandatangani oleh semua raja yang berada di Pulau Timor dengan VOC. Namun hanya leluhur Sonbai yang enggan untuk mendatangani kontrak tersebut.

Kontrak tersebut disahkan tahun 1757 oleh Belanda, dengan isi kontrak antara lain, persetujuan memberikan daerah enam pal (zes palen gabied) untuk pemerintah Belanda di teluk Kupang dari Tanjung Oesinas sampai dengan Tanjung Sulamu. Serta persetujuan menempatkan orang-orang Rote di daerah Enam pal tersebut.

Selain itu Isi kontrak juga meminta raja-raja mempersiapkan buruh-buruh untuk kepentingan Belanda.
Namun isi kontrak yang dibuat pada abad ke-18 itu mendapat penentangan dari Sobe Sonbai lII di awal abad ke-20, sehingga terjadilah penyerangan ke Bipolo yang kemudian terkenal dengan Perang Bipolo.

Perang Bipolo dimenangkan oleh Sobe Sonbai, sehingga memancing Belanda menghimpun kekuatan besar untuk melakukan serangan balasan terhadap Sobe Sonbai.

Pada tahun 1905, dengan perlengkapan perang Belanda kembali menyerbu kediaman Sobe Sonbai lII. Disitulah Raja Sonbai akhirnya ditangkap.

Berdasarkan keputusan pengadilan Sobe Sonbai kemudian diasingkan ke Waingapu pulau Sumba selama satu tahun. Setelah itu Sobe Sonbai berhasil kembali ke Kauniki, namun ditangkap kembali dan ditawan di Kupang hingga meninggal dunia, dalam status sebagai tawanan perang.

Jenazah Sobe Sonbai dimakamkan di Fatufeto Kupang pada Bulan Agustus tahun 1923. Dan untuk menghindari pengkultusan pahlawan yang dapat membangkitkan perlawanan oleh penduduk pribumi, oleh Belanda kuburannya disamarkan dan hingga kini tidak diketahui jelas keberadaan kuburan Sobe Sonbai lII.

Raja Sobe Sonbai lII adalah seorang pahlawan dari Timor tanpa makam.