Pemkab Manggarai Dorong Pangan Lokal Jadi Makanan Sehat

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai berjanji dalam 5 tahun kedepan ini akan mendorong masyarakat manggarai dalam mengentaskan kemiskinan dan gaya hidup sehat melalui pencanangan program hortikultura. Hal itu disampaikan Bupati Manggarai, Dr. Deno Kamelus, SH, MH pada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-36 di desa Nao, Kecamatan Satar Mese Utara Kabupaten Manggarai, Sabtu (16/10/2016) siang.

Menurutnya, hidup sehat itu sangat penting bagi masyarakat saat ini dengan mengkonsumsi pangan lokal bebas dari pupuk kimia, seperti ubi, jagung, pisang, sayur dan buah-buahan.

Hasil penelitian para ahli, kata dia, 80 persen manusia saat ini mengalami berbagai penyakit, seperti kanker, jantung, obesitas, kelainan fisik karena disebabkan oleh faktor makanan. Makanan yang sehat itu tumbuh dari pohon yang sehat. Agar sehat maka jangan menggunakan pupuk kimia, katanya.

Ia berjanji, pemerintah akan memberdayakan masyarakat Manggarai untuk mengolah pupuk sendiri, yaitu pupuk bokasih. Hal itu dilakukan selain bebas kimia terlebih untuk mengatasi kesulitan pupuk yang selalu dihadapi para petani selama ini. Jika suatu ketika pemerintah pusat hentikan kebijakan pupuk subsidi, maka masyarakat tidak lagi kesulitan pupuk.

Baca : Hilang Dokumen TPF Kematian Munir Memalukan Negara

Dirinya mencontohkan di Korea Selatan. Pasalnya, seluruh produk yang mereka gunakan adalah hasil karya negeri sendiri. Mereka benar-benar bangga menggunakan produk lokal negeri sendiri, seperti mobil, Hp , elektronik dan juga produk-produk lainnya, termasuk makanannya.

Di Manggarai, kata Dia, juga punya potensi yang luar biasa dan hampir disegala bidang, seperti pertanian, kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya dan pemerintahan.

Namun disamping potensi tersebut, kita juga punya tantangan. Kita belum akrab dengan teknologi. Kita belum bisa memanfaatkan teknologi untuk menyesuaikan dengan musim. Selain itu, sumber daya manusia (SDM) petani kita rata-rata terbatas sehingga daya serap mereka juga menjadi sangat lambat.

Kendala lainnya juga adalah negara ini tidak konsisten. Dimana setiap pergantian pemimpin selalu ada perubahan kebijakan. Dan itu terjadi setiap periode kepemimpinan bahkan setiap tahun. Ditambah lagi musim yang selalu berubah-ubah.

Bupati Deno, berjanji, kedepannya Pemerintah akan menyiapkan klinik pertanian di Ruteng, dengan laboratorium khusus untuk melakukan penelitian dan konsultasi kelompok tani. Pemerintah akan mengalokasikan anggaran di APBD.

“Tahun ini kita mulai 10 kelompok tani. Kita bina mereka melalui tanaman hortikultura. Kita menggunakan pola SIMETRI (Sistem Pertanian Terpadu dan Integrasi) dengan melibatkan semua stakeholder,” terangnya.

Agar program tersebut bisa berjalan baik, maka petugas PPL harus selalu ada dilapangan berkerja dari pagi sampe malam. PPL juga nanti akan dilatih, karena mereka dari berbagai besik yang berbeda pula.

Dibidang pertanian juga harus ada regenerasinya sejak dini, dengan melibatkan anak-anak sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA melalui pendidikan muatan lokal (Mulok) di sekolah.