Distribusi Madu Amfoang Capai 30 Ton Per Bulan

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Permintaan ‘Madu Amfoang’ dari sejumlah distributor di tanah air terus meningkat. Distribusi Madu Amfoang yang diproduksi oleh CV Amfoang Jaya di Kota Kupang mencapai 30 ton setiap bulan.

Indsutri madu yang diproduksi dalam skala rumahan yang dikenal dengan ‘Madu Amfoang’ yang terletak di Jl Oebolifo II, No 1, Sikumana, Kota Kupang tidak hanya untuk kebutuhan lokal namun sudah menembus pasar nasional.

“Tiap bulan produk Madu Amfoang didistibusikan mencapai 30 ton ke Jakarta, Bogor, dan juga Bandung,” kata pemilik CV Amfoang Jaya, Roby Manoh kepada nttonlinenow.com ketika dikunjungi di rumah produksinya, Kamis (06/10/2016).

Menurut Roby, permintaan Madu Amfoang dari distributor tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu, karena umumnya masyarakat meminati produk madu yang asli dari pepohonan bukan melalui cara peternakan.

“Untuk pasokan bahan baku didatangkan langsung dari puluhan kelompok masyarakat petani yang menyebar di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Belu,” katanya.

Baca Juga : Bupati Raymundus Fernandez Belajar Sistem Pertanian di Cina

Roby mengatakan, madu tersebut diambil langsung dari pepohonan di kawasan hutan pertanian milik masyarakat sehingga lebih alami karena lebah-lebah penghasil madu mengkonsumsi bahan alami dari sari bunga tumbuhan cendana, ekaliptus, nangka, kesambi, vanili, asam, mangga, dan melinjo.

“Kualitas madu ini sudah teruji dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak dan masuk dalam nominasi terbaik di dunia selain madu dari Yunani dan Australia,” katanya.

Proses produksi, lanjut dia, pun dilakukan secara selektif melalui mesin pengolah dalam ruangang yang sudah disterilkan untuk memisahkan unsur air, asam, sehingga hasilnya murni menjadi madu asli.

Hasilnya, untuk botol kaca ukuran 650 ml dibandrol dengan harga Rp 140 ribu termasuk biaya pengiriman dan ukuran botol kecil ukuran 250 ml seharga Rp 75 ribu.

“Sebelumnya juga sudah ada permintaan yang masuk dari Sumatera, Sulawesi, dan Papua namun kita masih mempertimbangkan dan menghitung lagi estimasi biaya untuk penyaluran,” katanya.

Baca Juga : WALHI Latih Orang Muda NTT Berwawasan Ekologis

Dia mengkui sejauh ini proses produksi untuk memenuhi permintaan dari distributor di beberapa kota besar tersebut berjalan dengan lancar karena pasokan bahan baku dari kelompok masyarakat petani masih memadai.

Meski begitu, menurut dia, usaha industri semacam ini juga perlu mendapat sentuhan kerja sama dari pemerintah setempat terkait dengan pemberdayaan masyarakat pemasok yang juga mengandalkan madu untuk mendapatkan keuntungan ekonomi.

“Cara pengambilan madu masih dilakukan dengan pola lama dengan memanjat pohon-pohon tanpa menggunakan peralatan yang aman. Barangkali hal ini yang perlu diperhatikan oleh pemerintah kita termasuk mendorong masyarakat agar tetap menjaga wilayah hutan,” katanya.

Dia berharap, pemerintah setempat terus mendorong dan memberikan perhatian terhadap berbagai sektor industri rumahan yang memiliki potensi pasar yang baik sehingga bisa membentuk kelompok-kelompok eknomomi yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.