Kelompok Bahan Makanan Sumbang Deflasi di NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Bulan September 2016, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami deflasi sebesar 0,17 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 124,48.

Deflasi di NTT terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada dua dari tujuh kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maritje Pattiwaellapia kepada wartawan di Kupang, Senin (03/10/2016).

Baca : Pengalihan Urusan Pemerintahan untuk Percepat Pembangunan

Menurut Maritje, Indeks Harga Konsumen merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga inflasi/deflasi di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan.

“Dari dua kota IHK di Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang terjadi deflasi sebesar 0,37 persen dengan IHK 125,41 sedangkan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 1,20 persen dengan IHK 118,41 persen,” katanya.

Maritje menyampaikan, dari 82 kota sampel IHK Nasional, 58 kota mengalami inflasi dan 24 kota mengalami deflasi. Sementara Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga sebesar 1,85 persen dan terendah terjadi di Kota Purwokerto dan Banyuwangi masing-masing inflasi sebesar 0,02 persen.

Baca : Privatisasi Pantai Pede, Modus Baru Korupsi

“Kota yang mengalami deflasi terbesar adalah Kota pontianak sebesar 1,06 persen dan terendah terjadi di Kota Kendari sebesar 0,01 persen,” kata Maritje.

Dia menambahkan, untuk Inflasi Tahun Kalender (Januari-September 2016) NTT sebesar -0,43 persen, Kota Kupang -0,59 persen dan Maumere 0,69 persen.

“Sedangkan inflasi year on year (September 2016 terhadap September 2015) NTT sebesar 3,07 persen, Kota Kupang sebesar 3,18 persen dan Kota Maumere sebesar 2,28 persen,” tandasnya.