Rekonstruksi Kasus Pembuangan Bayi, Tersangka Mengakui kekasihnya Seorang Sopir

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kupang, NTTOnlinenow.com – Mengenakan sendal jepit merah, celana jeans setinggi lutut dan jaket hijau, dengan papan nama bertuliskan tersangka Rosalia Salu tergantung di lehernya, Rosa berdiri di depan rumahnya di kelurahan Sasi kemudian berjalan menuju gubuk pamannya sejauh 1 kilo meter untuk memulai melakukan rekonstruksi.

Ibu muda berusia 27 tahun ini didampingi sejumlah aparat keamanan Polres TTU untuk menjalani reka ulang kasus pembuangan bayi yang dilakukannya pada Minggu pagi (11/09/2016) lalu.

Tersangka Rosa memulai adegan rekonstruksi dari depan rumahnya disaksikan langsung ibunya Anastasia Solo sambil menggendong bayi naas, Sedangkan bapaknya Kareltius Salu sementara bekerja di luar rumah. Adegan pertama dalam rekonstruksi tersebut berawal dari Rosa meninggalkan rumahnya menuju sebuah gubuk milik pamannya di sebelah kali tempatnya membuang bayi sejauh 1 kilo meter lebih.

Baca : Jumlah TPS Pilwalkot Bertambah

Di gubuk tersebut, dalam adegan reka ulangnya tersangka sempat memetik daun pepaya muda untuk dimasak sayur. Namun selang beberapa lama kemudian perutnya terasa sakit dan ia terduduk di bawah pohon asam depan gubuk. Ketika air ketubannya pecah, iapun berbalik hendak pulang ke rumah. Namun baru beberapa langkah melewati gubuk pamannya, iapun melahirkan dalam posisi setengah berlutut.

Seperti layaknya seorang ibu yang sudah berpengalaman melahirkan, tersangka Rosa yang sementara mengenakan kain sarung menghadapi dan mengurus sendiri proses kelahiran bayinya. Setelah melahirkan, tersangka mengangkat bayi itu dari atas tanah lengkap dengan ari – arinya kemudian menggendong dan membawa bayi itu menyusuri kali kering sejauh satu kilo meter.
Setelah tiba di sana, tersangka langsung menidurkan bayinya di atas pasir kali tanpa dibungkus sehelai kainpun, kemudian berlalu meninggalkan bayinya sendiri.

Pengakuan tersangka Rosa, ia tidak berniat menghabisi nyawa bayinya. Ia menaruh bayi itu di sana dengan harapan ada orang lain mengangkat bayi itu dan merawatnya. “Saya taruh anak saya di kali dengan harapan ada orang lihat dan angkat dia untuk dirawat”, singkat tersangka Rosa kepada NTTOnlinenow.com saat berjalan menuju TKP.

Tersangka juga mengaku, pelaku AT (29) yang adalah kekasihnya tidak mau bertanggungjawab malah pergi merantau ke kalimantan meninggalkan dirinya. “Saya kasih tahu AT bahwa saya sudah hamil dua bulan waktu itu. Tapi saat itu juga AT tidak mau bertanggungjawab dan bilang ke saya dia sudah sampai Kalimantan. Takut orang tua tahu, saya menutupi kehamilan saya”, lanjut tersangka.

Baca : Pemkot Siap Alihkan Pengelolaan SMA/SMK ke Provinsi

AT adalah kekasih tersangka yang bekerja sebagai sopir mobil box antar kabupaten dan tinggal di kos – kosan seputar pasar baru Kefamenanu. Tersangka juga mengatakan pertemuan mereka biasa terjadi di kamar kos temannya AT di belakang terminal kota.

Ibu kandung tersangka, Anastasia Solo turut kesal dengan kejadian yang dipertontonkan putrinya dengan status tersangka. Menurut ibu Anastasia, ia dan suaminya sempat curiga pada anaknya karena terlihat ada perubahan besar pada tubuh anak mereka. Namun setiap kali ditanyakan, tersangka marah dan berbohong.

“Sampai hari ini kami tidak tahu siapa laki – laki dari bayi ini, kami curiga dia hamil kemudian kami bertanya tapi dia selalu berbohong. Ternyata kejadiannya seperti ini”, ungkap ibu tersangka dengan kesal.

Sementara, Septianu Untung, nama yang diberikan suami istri penyelamat bayi itu tetap dipakai orang tua tersangka. Rencana suami istri penyelamat bayi untuk mengadopsi anak itu, tidak disetujui orang tua tersangka. Orang tua tersangka tetap ingin merawat cucu mereka.

Kasubag Humas Polres TTU, AKP Petrus Liu yang dikonfirmasi di TKP mengatakan setelah rekonstruksi ini, tersangka akan menjalani pemeriksaan lanjutan.

Baca : Warga Terkejut Menemukan Bayi yang Dibuang Ibunya di Kali Kering

“Tentunya setelah pemeriksaan selesai, kami akan berupaya melakukan pemanggilan terhadap laki – laki yang diduga ayah dari bayi itu. Memang tersangka sudah mengakui dan menyesali perbuatannya, tapi pihak penyidik juga masih mempelajari keterangan tersangka, apakah ayah dari bayi adalah seperti yang disebutkannya”, jelas AKP Liu.

Informasi lain yang berhasil dihimpun NTTOnlinenow.com, sebelum melahirkan, tersangka sempat bekerja di beberapa tempat. Diantaranya, bekerja sebagai PRT di rumah makan seorang pengusaha sekaligus pengelolah rumah makan berinisial AR selama enam bulan lebih.

Kemudian pindah kerja di rumah seorang bidan RSUD Kefamenanu sebagai PRT selama sebulan lebih, dan terakhir bekerja sebagai pelayan di sebuah toko di sekitar pasar lama Kefamenanu selama sebulan. Tersangkapun berhenti bekerja lantaran sudah memasuki waktu untuk melahirkan.