International Day of the Girl, Dua Anak Perempuan Diberi Kesempatan Jadi Menteri Sehari

Bagikan Artikel ini

Jakarta, NTTOnlinenow.com – Dua anak perempuan Indonesia akan diberi kesempatan menjadi menteri sehari, pada Hari Anak Perempuan Internasional (International Day of the Girl), yang dirayakan setiap 11 Oktober. Pada perayaan tahun 2016, Plan International Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak (KPPPA) serta Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) mengadakan event ‘Girl Leadership: Sehari Jadi Menteri’.

“Dua anak perempuan terpilih akan memerankan jabatan menteri di KPPPA dan Kemnaker, menggantikan posisi Yohana Yembise sebagai Menteri PPPA dan Hanif Dhakiri sebagai Menaker. Kedua menteri itu setuju memberikan kesempatan kepada anak perempuan Indonesia untuk belajar memimpin,” kata Country Director Plan International Indonesia, Mingming Remata Evora, melalui siaran pers.

Mingming menjelaskan, dalam kesempatan tersebut sang menteri akan memimpin rapat, layaknya rapat di kementerian, yang membawahi sejumlah deputi atau dirjen, yang juga dipilih dari anak berusia 15-18 tahun. Mereka akan mengangkat persoalan yang terkait dengan anak perempuan di Indonesia. Calon menteri sehari itu diseleksi lewat ajang kompetisi video blog www.becauseiamagirl-indonesia.org yang digelar Plan International Indonesia, bekerja sama dengan Kompas TV dan Jurnas.com.

Sementara itu, dalam sebuah kesempatan bersama Plan International Indonesia, Menteri Yohana Yembise menyatakan dukungannya terhadap event ‘Girl Leadership: Sehari Jadi Menteri’. Event ini adalah bagian dari gerakan pemberdayaan anak perempuan bertajuk ‘Because I Am A Girl’ atau BIAAG Movement, yang digagas Plan International. “BIAAG Movement sejalan dengan misi

pemerintah, yang mendorong anak perempuan untuk tampil dan berprestasi di berbagai bidang. Kita harus buka kesempatan seluas-luasnya bagi anak perempuan untuk belajar, memimpin, mengambil keputusan, dan berkembang dengan potensi maksimalnya. Hal ini membantu kita mempersiapkan, baik anak laki-laki maupun perempuan, untuk menjadi pemimpin yang kelak akan memimpin bangsa ini,” kata Yohana.

Menurutnya, Hari Anak Perempuan Internasional bisa dijadikan momentum untuk menunjukkan komitmen semua pihak, terkait upaya pemberdayaan dan perlindungan anak perempuan di Indonesia.

Kesempatan jadi menteri sehari di KPPPA dan Kemnaker ini terbuka bagi semua anak di Indonesia. Anak-anak yang termarjinalkan, tak terkecuali anak berkebutuhan khusus juga didorong untuk ikut kompetisi ini. Mereka yang terpilih mendapat kesempatan kunjungan belajar ke luar negeri.

Mingming menambahkan, sebagai organisasi kemanusiaan independen yang  berkomiten agar anak terbebas dari kemiskinan, kekerasan & ketidakadilan, Plan International Indonesia mengimplementasikan sejumlah program, mencakup perluasan akses anak perempuan di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta pencegahan pernikahan usia anak.

Baca Juga : Gerindra Gagal Bangun Poros Baru

Di tingkat global, Plan International menjadikan Hari Anak Perempuan Internasional untuk memulai gerakan pemberdayaan anak perempuan, yang diistilahkan sebagai  ‘Because I Am A Girl (BIAAG) Movement’. Gerakan ini mengajak semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan juga dunia usaha untuk memberikan kesempatan bagi anak perempuan untuk belajar, memimpin, mengambil keputusan, serta mengembangkan potensi maksimalnya, guna meningkatkan kualitas hidup anak perempuan di seluruh dunia.

Mingming mengatakan, sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mengakhiri berbagai bentuk ketidakadilan, diskriminasi dan kekerasan terhadap anak perempuan. Meskipun demikian, perjuangan untuk menciptakan situasi yang ideal harus terus dilakukan.

“Hal ini sejalan dengan tuntutan agenda global yang tertuang dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (MDGs), di mana 17 tujuan pembangunan berkelanjutan berhubungan langsung dengan pemenuhan hak anak perempua,” katanya.