Bentrok di Desa Perbatasan, Dua Pemuda dan Tiga Anggota Satgas Terluka

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Kekacauan yang terjadi di desa Sunsea kecamatan Naibenu, kabupaten Timor Tengah Utara Jumat malam (09/09/2016) menyebabkan tiga anggota TNI dari Satgas Pamtas RI – RDTL Yonif Raider 321/GT Kostrad terluka dan sebaliknya dua pemuda babak belur dihajar oknum anggota TNI akibat salah pengertian.

Kejadian berawal dari keributan yang terjadi antara dua pemuda dalam acara perpisahan warga desa Sunsea dengan mahasiswa dari Kampus Undana Kupang yang telah selesai menjalankan praktek lapangan di desa Sunsea. Dua pemuda yang terlibat cekcok, Antonius Talan dan Aris Teme yang diduga telah dipengaruhi minuman beralkohol tak dapat dibendung.

Setelah menyaksikan keributan di tempat acara, dua pemuda lainnya yang berada di tempat acara tersebut yakni Herman Yosef Sasi alias Heri (33) dan Bonefentura Sasi alias Tura (29) berniat melerai dua temannya itu. Namun kesalahpahaman muncul dari beberapa anggota Satgas yang berada di tempat acara. Mereka menduga Tura dan Heri hendak menyerang dua pemuda itu sehingga saat dilerai, suasana berubah makin kacau dan saling menyerang dengan menggunakan batu.

Akibatnya tiga orang anggota TNI mengalami luka serius dengan 11 jahitan di bagian kepala. Empat orang anggota TNI langsung pulang ke Pos Nelu namun karena suasana sudah semakin kacau, mereka meninggalkan satu unit motor trail di TKP.

Menurut Herman alias Heri, Sabtu pagi tadi (10/09/2016) empat anggota Satgas turun ke desa Sunsea untuk menjemput kembali motor mereka yang ditinggalkan semalam. Keempat anggota TNI itu sempat mendatangi rumah kakak beradik Bonefentura dan Heri lantaran tidak terima baik rekan mereka terluka akibat peristiwa saling serang semalam.

“Kami didatangi empat anggota TNI dari Pos Nelu, begitu kami bangun tanpa ditanyai kami langsung disergap dan dipukul. Saya ditampar dan ditendang, kemudian disuruh duduk di tanah”, ungkap Heri.

Lanjut Heri, sementara Tura dipukul dan ditendang juga, Kami tidak tahu masalah semalam, ini salah paham saja. Semalam itu justru kami yang mau melerai Antonius Talan dan Aris Teme. Kami juga tidak tahu siapa yang menyerang anggota Satgas karena semalam itu situasi sudah kacau dan saling serang antar wargapun terjadi, tapi bukan kami pelakunya.

Orang tua korban, Kamilus Kono yang dikonfirmasi langsung media ini mengaku kaget saat ada anggota TNI mendatangi rumah mereka dan menyerang anaknya dengan pukulan dan tendangan tanpa bertanya terlebih dahulu. “Mereka datang tanya anak kami, abis langsung aniaya saja. Apakah mereka tahu anak kami yang menyerang mereka malam itu, sementara banyak orang di sana dan suasana sudah kacau sekali. Sementara warga lainnya mengatakan ada tentara terjatuh saat situasi sudah memanas dan mereka meninggalkan tempat acara”, kata orang tua korban Kamilus.

Kamilus juga tidak puas karena setelah anaknya dianiaya, anggota TNI membawa mereka ke Balai desa dengan tujuan untuk menyelesaikan masalahnya secara kekeluargaan. Namun karena disana keadaan sudah tidak bisa dibendung, kepala desa memerintahkan anggota TNI untuk mengeluarkan tembakan peringatan. “Setelah menganiaya anak kami, mereka membawa anak kami ke Balai Desa tapi di sana malah dua kali tembakan dikeluarkan sebagai peringatan, kalau tembakan itu diperintahkan oleh kepala desa, apakah masalahnya sudah gawat darurat sehingga perlu menakuti masyarakat dengan mengeluarkan tembakan”?, kisah Kamilus kesal.

Kepala Desa Sunsea Lusianus Loka Tae Oematan S.Pt kepada NTTOnlinenenow.com ini mengakui ia yang meminta pihak TNI mengeluarkan tembakan peringatan tapi tujuannya untuk menyelamatkan situasi.

“Iya, nona. Saya yang meminta TNI untuk mengeluarkan tembakan peringatan karena suasana sudah sangat genting. Warga ribut dan mengancam akan bakar kantor desa. Polisi di sini tidak ada, jauh sekali sehingga saya minta anggota TNI untuk membantu mengatasi kejadian ini. Saya juga sudah mengumpulkan massa terutama para pemuda yang terlibat dalam kasus saling serang itu untuk membuat pernyataan tertulis agar tidak terulang lagi, dan masalahnya sudah selesai. Sudah ada perdamaian secara kekeluargaan, para pemuda mabuk sudah membuat pernyataan tertulis untuk tidak lagi membuat onar di kampung sendiri”, tegas Kades Lusianus.

Namun pernyatan Kades Lusianus langsung dibantah keluarga korban, Boni Abi Timor. Menurut Boni, tidak ada pernyataan tertulis untuk damai, pertemuan dibubarkan begitu saja tanpa penyelesaian yang jelas setelah wartawan mengkonfirmasi pihak Satgas.

“Kades bohong, justru setelah ada konfirmasi dari wartawan semua dibubarkan begitu saja tanpa ada penyelesaian secara jelas, mungkin karena sudah tercium sampai ke media sehingga Danposnya ketakutan. Dan pos Nelu menelpon anggotanya untuk segera pulang ke pos. Merekapun pulang membawa satu unit motor trail yang tertinggal di tempat acara semalam. Kades seharusnya melindungi warganya”, jelas Boni Abi.

Sesuai informasi yang diterima media ini, Sabtu pagi tadi empat anggota TNI turun ke desa Sunsea menjemput motor yang tertinggal semalam, sementara siangnya mereka kembali lagi menjemput paksa dua pemuda yakni Heri dan Tura kemudian menganiaya mereka.

Komandan Satgas Pamtas RI – RDTL Yonif Raider 321/GT Kostrad Letnan Kolonel Inf M. Ghoffar Ngismangil, yang dikonfirmasi melalui Pasi Ops Lettu Inf Sudrajat mengaku tak ada masalah apapun di Pos Nelu, namun setengah jam kemudian dikonfirmasi balik oleh Lettu Sudrajat bahwa insiden yang terjadi itu sama sekali tidak melibatkan anggotanya dari Pos Nelu.

“Nggak ada mbak, nggak ada masalah apa – apa, itu masalah warga dengan warga aja. Lagian TNI nggak ada wewenang mengurus masalah itu, pihak TNI hanya diminta bantuan untuk mengantar oknum pelaku ke kantor desa”, singkat Sudrajat.

Hingga Sabtu malam, Pasi Intel Lettu Inf Rasam, telah menuju TKP untuk mengkonfirmasi semua pihak untuk mengetahui kejelasan informasinya. Namun keluarga korban yang menilai tindakan semena – mena anggota TNI dari Satgas Yonif Raider 321/GT Kostrad sudah tidak manusiawi, menolak untuk bertemu pihak Satgas. Hingga berita ini diturunkan, dua korban didampingi keluarga langsung berangkat meninggalkan desa Sunsea menuju Subdenpom di Atambua kabupaten Belu guna melaporkan kejadian tersebut.

Dengan kejadian ini, Boni Abi Timor mewakili keluarga korban meminta Mabes TNI untuk menyeleksi tentara yang akan ditugaskan ke perbatasan. Menurutnya, tentara yang ditugaskan ke wilayah perbatasan harus betul – betul profesional tidak brutal.

“Petinggi di Mabes TNI harus memperhatikan pasukan yang ditugaskan ke wilayah perbatasan, kami tidak butuh TNI yang bersikap brutal, tanpa TNI juga wilayah kami masih tergolong aman. Kalau ada TNI tapi selalu ada masalah dengan mengorbakan warga, kami minta tarik kembali saja pasukan yang ada”, pinta Boni.