2017, TTU Bangun 30.038 Rumah Layak Huni

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) akan membangun 30.038 unit rumah layak huni untuk masyarakat yang selama ini dengan kondisi rumah yang belum memadai dan sebagian besar masih memprihatinkan.

Hal ini disampaikan Bupati Timor Tengah Utara, Raymundus Sau Fernandez kepada wartawan di Kefamenanu, pekan lalu.

Menurut Raymundus pembangunan rumah layak huni untuk masyarakat itu akan dimulai pada tahun 2017 mendatang. “Tahun ini kami akan merampungkan pendataan dan setelah itu akan mulai tahapan pembangunan dari 2017-2021,” katanya.

Raymundus mengatakan, pembangunan rumah layak huni tersebut sudah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangkah Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2016-2021 menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Dana bantuan akan ditransfer dari kas daerah langsung ke rekening penerima bantuan sehingga proses pembangunan diharapkan bisa lancar dengan pola kerja bersama,” katanya.

Raymundus mengungkapkan, konsep pembangunan yang diterapkan yaitu tuntas desa, tuntas, kecamatan, dan tuntas kabupaten, dan tidak dilakukan secara cicil karena akan menimbulkan kecemburuan sesama masyarakat.

“Saat ini kami sedang melakukan pendataan mengenai kondisi rumah warga dengan pembagian berdasarkan kategori warga yang tidak memiliki rumah atau rumah darurat, rumah bebak, dan setengah tembok,” katanya.

Bupati dua periode ini menambahkan, proses pembangunan akan diadakan secara bergotong-royong dari masyarakat yang menerima bantuan sehingga masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tukang bangunan namun hanya mendatangkan bahan bangunan melalui dana yang diperoleh.

“Pola kerja gotong royong akan diterapkan sehingga tidak ada sentimen yang muncul di kalangan masyarakat penerima, selain itu akan lebih menghemat biaya pembangunan karena tidak perlu bayar tukang,” katanya.

Dia berharap, nantinya kebutuhan rumah untuk warga yang selama ini menjadi keluhan masyarakat di daerah itu bisa terpenuhi sehingga masyarakat bisa tinggal secara layak dan dapat melakukan hal-hal lain untuk meningkatkan taraf hidupnya.

“Kalau rumah sebagai salah satu kebutuhan utama bagi masyarakat sudah bisa memadai maka masyarakat tinggal berpikir hal-hal lain yang mampu meningkatkan kesejahteraannya tanpa dibebani dengan tempat tinggal,” tandas Raymundus.