Joki Cilik Bernyali Besar, Penakluk Kuda di Arena Pacuan

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Tak semua orang berkesempatan menyaksikan lomba pacuan kuda secara langsung, walau sebagian pernah melihatnya melalui siaran televisi. Namun sensasi ketika melihat langsung dengan menonton di layar kaca tentu berbeda dan sulit digambarkan dalam untaian kata.

Decak kagum disertai gemuruh suara penonton lomba pacuan kuda dari luar Arena Pacuan Kuda Tanjung Bastian di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) siang itu, Minggu (7/8)semakin memompa adrenalin para joki cilik untuk memacu kuda tunggangannya berlari semakin kencang.

Jika Anda pernah melihat pacuan kuda, baik di televisi maupun secara langsung di stadion, pasti akan berdecak kagum dan mengacungkan jempol Anda ke para Joki, karena si Kuda akan memacu dengan kecepatan yang paling maksimal sampai ke garis finish, tidak jarang si kuda berserempetan atau tersenggol oleh kuda lain, karena jumlah peserta lomba dan ukuran arena yang tidak terlalu lebar.

Bagi yang melihat langsung memang sangat seru pacuan kuda tersebut, sampai dapat bersorak-sorak kegirangan walau sambil memakan cemilan, tetapi bagi para Joki tentunya dibutuhkan konsentrasi yang tinggi di atas pelana, dan selalu siap dengan berbagai kejutan di arena pacuan.

Menariknya, pacuan kuda di Kefamenanu ini tidak menggunakan joki dewasa. Di sini, joki yang digunakan adalah joki anak-anak berumur sekitar 6-12 tahun. Meski rata-rata para joki ini bertubuh mungil, tapi mereka memiliki nyali yang cukup besar dalam urusan mengendalikan kuda di arena pacuan.

Menjadi Joki Cilik adalah sebuah kebanggaan bagi mereka. Fisik mungil bukan penghalang. Mereka tak gentar menunggangi kuda bertubuh tinggi besar, bahkan sedikit liar. Mereka tak pernah berpikir tentang cedera. Bisa ikut berlaga, memacu sekencang-kencangnya kuda pacu mereka dan merebut predikat juara, itu yang tertancap dalam pikiran mereka.

Adrian Kapitan, salah satu joki cilik berusia 9 tahun yang ikut dalam lomba Pacuan Kuda Bupati TTU Cup Xll tahun 2016 ini, mengaku sudah sejak empat tahun lalu menjadi joki dan selalu ikut dalam setiap lomba pacuan kuda yang diselenggarakan di sebagian daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bocah yang akrab disapa Ryan ini mengisahkan, tak mudah menjadi seorang joki handal. Dibutuhkan nyali super ekstra untuk bisa mengalahkan rasa takut dalam diri. Pasalnya, menjadi joki harus tahan banting. Jatuh, terluka dan lecet-lecet sudah menjadi menu utama dalam sesi latihan sehari-hari maupun ketika mengikuti ajang atau lomba balapan kuda.

“Awal-awal menjadi joki memang berat karena harus berani kalahkan rasa takut, tapi karena sering nonton akhirnya lama-lama berani coba, perlahan-lahan jadi bisa. Kalau jatuh itu sudah biasa, diawal mencoba memang sering jatuh tapi sekarang sudah tidak pernah jatuh lagi,” ungkapnya.

Hadiah dan bonus menjadi motivasi bagi Ryan dan teman-teman joki cilik lainnya di daerah itu untuk menggeluti profesi ekstrem dan menantang ini. Menurutnya, jika menang atau keluar sebagai juara maka dirinya mendapatkan bonus dari si pemilik kuda berupa sejumlah uang.

Ternyata selain menjadi atraksi hiburan rakyat, pacuan kuda ini juga menjadi arena untuk menguji nyali para joki dan juga untuk melihat apakah para peternak berhasil merawat kuda-kuda mereka dengan baik. Menang bukan hanya persoalan kebanggaan. Uang berbicara di sini. Kuda yang menang dapat mendongkrak harga jual kuda. Bukan sekedar receh, uang sejumlah ratusan juta lah yang berputar di arena ini.

Dalam acara pacuan kuda di pesisir Pantai Tanjung Bastian ini, suasana mirip seperti sebuah karnaval, begitu ramai. Orang-orang hilir mudik keluar masuk pintu arena. Tak peduli panas yang begitu terik, sorak sorai penonton terdengar membahana.

Para joki cilik ini merupakan bocah-bocah bernyali besar. Siap bertarung kapanpun di arena pacuan kuda. Di tengah sorak sorai, para joki cilik terus bertarung memacu kuda tunggangan. Meski raut mukanya tegang, tapi mereka tak pernah menunjukkan rasa gentar. Para joki cilik ini memiliki nyali sangat besar.

Mungkin tak percaya, namun mereka berlaga tanpa perlengkapan standar pacuan kuda. Hanya bermodalkan pecut yang menjadi senjata andalan utama. Bahkan mereka duduk di atas punggung kuda tanpa beralaskan pelana.

Saat kompetisi pacuan kuda mencapai babak final, tribun yang menjadi tempat paling teduh di arena pacuan kuda akan penuh sesak oleh ratusan hingga ribuan penonton. Mereka yang tak kebagian tempat di tribun rela berpanas-panas di luar pagar pembatas arena. Kuda-kuda pacu begitu kencang berlari. Kaki kokohnya menjejak-jejak tanah, menghamburkan lapisan debu di arena pacuan hingga membumbung tinggi.

Terlempar dari atas kuda tunggangan sudah biasa bagi para joki cilik. Mereka terhempas jatuh di atas lintasan pacu yang keras berdebu. Cedera yang dialami para joki cilik ini adalah hal lumrah dan biasa terjadi. Mungkin biasanya orang-orang tua akan berteriak panik melihat tontonan seperti itu, namun di sini, para orang tua joki cilik berteriak-teriak memberi semangat di luar pagar kayu pembatas lintasan pacu. Bagi mereka suatu kebanggaan memiliki seorang jawara dalam keluarga.